Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG

Renungan Harian
GKY Mangga Besar

Selasa, 16 Agustus 2022

Tuhan Adalah Gembalaku


Tuhan Adalah Gembalaku

RENUNGAN HARIAN

GKY MANGGA BESAR

Selasa, 16 Agustus 2022


1 Samuel 31

Saul Mati.


Kehidupan kita sebagai orang percaya bagaikan karya Tuhan dalam rajutan.


Ketika Tuhan merajut hidup kita, apakah yang Tuhan harapkan agar tampak pada rajutan tersebut? Tidak lain yaitu kemuliaan Yesus Kristus.


Mari kita taruh hidup dalam tangan Tuhan. Biarkan Tuhan merajutnya, supaya tampak gambar yang indah yaitu Yesus Kristus dalam hidup kita.


Sebagai orang percaya, kita harus sungguh menginsyafi, bahwa kehidupan kita bukan tentang kita, tetapi tentang Tuhan.


Pertama, hidup orang percaya adalah hidup dalam rencana Tuhan, bukan rencana kita. Kedua, kehidupan orang percaya itu kehidupan yang dicampuri oleh Tuhan.


Tuhan campur tangan dalam kehidupan kita, sehingga kehidupan kita tentang Tuhan yang terlibat dalam hidup kita.


Oleh karena itu, kehidupan kita begitu penting, karena Tuhan terlibat di dalamnya. Kita ada di dalam rencana Tuhan. Rencana yang terpenting adalah rencana Tuhan.


Itulah mengapa kehidupan kita sebagai orang percaya harus dekat dengan Tuhan, karena dunia melihat hidup orang percaya. Apakah hidup orang percaya sungguh memuliakan Tuhan?


Ketika kita gagal hidup dalam rencana Tuhan, kita abai hidup dekat denganNya, tidak peduli dengan pimpinanNya, maka kita masuk ke dalam area mempermalukan nama Tuhan. Dunia akan bersorak dan mengejek kita.


Mari kita sadari, betapa pentingnya hidup kita di mata Tuhan. Hidup kita bukan tentang kita, tetapi tentang Tuhan, yang mendorong kita untuk dekat dengan Dia, bergantung kepada Dia.


1 Samuel 31


1 Sementara itu orang Filistin berperang melawan orang Israel. Orang-orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin dan banyak yang mati terbunuh di pegunungan Gilboa.


2 Orang Filistin terus mengejar Saul dan anak-anaknya dan menewaskan Yonatan, Abinadab dan Malkisua, anak-anak Saul.


3 Kemudian makin beratlah pertempuran itu bagi Saul; para pemanah menjumpainya, dan melukainya dengan parah.


4 Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: "Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini menikam aku dan memperlakukan aku sebagai permainan." Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat segan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya.


5 Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, ia pun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama dengan Saul.


6 Jadi Saul, ketiga anaknya dan pembawa senjatanya, dan seluruh tentaranya sama-sama mati pada hari itu.


7 Ketika dilihat orang-orang Israel, yang di seberang lembah dan yang di seberang sungai Yordan, bahwa tentara Israel telah melarikan diri, dan bahwa Saul serta anak-anaknya sudah mati, maka mereka meninggalkan kota-kota mereka lalu melarikan diri juga; kemudian datanglah orang Filistin dan menetap di sana.


8 Ketika keesokan harinya orang Filistin datang merampasi orang-orang yang mati terbunuh itu, didapati mereka Saul dan ketiga anaknya tergelimpang di pegunungan Gilboa.


9 Mereka memancung kepala Saul, merampas senjata-senjatanya dan menyuruh orang berkeliling di negeri orang Filistin untuk menyampaikan kabar itu di kuil berhalanya dan kepada rakyat.


10 Kemudian mereka menaruh senjata-senjata Saul di kuil Asytoret, dan mayatnya dipakukan mereka di tembok kota Bet-Sean.


11 Ketika penduduk Yabesh-Gilead mendengar tentang apa yang telah dilakukan orang Filistin kepada Saul,


12 maka bersiaplah segenap orang gagah perkasa, mereka berjalan terus semalam-malaman, lalu mengambil mayat Saul dan mayat anak-anaknya dari tembok kota Bet-Sean. Kemudian pulanglah mereka ke Yabesh dan membakar mayat-mayat itu di sana.


13 Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya.


Kehidupan kita sebagai orang percaya adalah sebuah peperangan rohani. Jikalau kita tidak menginsyafi hal ini, kita rentan dijerat oleh jebakan si jahat dan dunia.


Di Perjanjian Lama, peperangan rohani itu digambarkan dengan peperangan yang nyata secara fisik.


Namun, sesungguhnya adalah semangat peperangan rohani, karena peperangan bangsa Israel dengan bangsa lain itu adalah peperangan antara Tuhan Allah dengan ilah-ilah bangsa lain.


Kali ini raja Saul bersama rakyat Israel berperang dengan bangsa Filistin. Raja Saul dan Israel kalah di dalam peperangan, dengan satu alasan, Saul telah ditinggalkan oleh Tuhan.


Pesan Firman Tuhan pada hari ini :

1. Tanpa penyertaan Tuhan, kita tidak punya kuasa untuk peperangan rohani di kehidupan kita.


1 Samuel 31:1-3

1 Sementara itu orang Filistin berperang melawan orang Israel. Orang-orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin dan banyak yang mati terbunuh di pegunungan Gilboa.


2 Orang Filistin terus mengejar Saul dan anak-anaknya dan menewaskan Yonatan, Abinadab dan Malkisua, anak-anak Saul.


3 Kemudian makin beratlah pertempuran itu bagi Saul; para pemanah menjumpainya, dan melukainya dengan parah.


Raja Saul adalah seorang raja yang sekepala lebih tinggi daripada orang-orang Israel pada umumnya. Namun, kisah ini memberitahukan bahwa kondisi fisik tidak menjamin kemenangan dalam peperangan.


Justru, peperangan ini memberitahukan kita, betapa bahaya jika Tuhan tidak menyertai.


Dalam kisah Perjanjian Lama, ada satu pengakuan yang jelas, bahwa bukan bangsa Israel yang berperang dan menang, tetapi Tuhanlah yang berperang bagi mereka.


Ini sebuah pesan penting, bahwa kehidupan kita ada di dalam peperangan rohani. Dalam peperangan rohani itu pilihannya adalah menang atau kalah.


Firman Tuhan ingin mengingatkan, kita tidak bisa memenangkan peperangan rohani tanpa penyertaan Tuhan.


Firman Tuhan menegaskan, hendaklah kita kuat di dalam kekuatan Tuhan. Marilah kita mengenakan segenap senjata Allah supaya kita tetap tegak dalam peperangan rohani dan kita menang.


Mari kita sebagai orang percaya menyadari bahwa hidup kita ada peperangan rohani. Kita tidak abai untuk hidup dekat dengan Tuhan.


Kita hidup bersandar pada Tuhan dan kita hidup mengenakan seluruh senjata Allah supaya kita mampu tetap berdiri di dalam peperangan yang kita hadapi.


Kita tidak dijerat oleh si jahat, tetapi kita menjadi orang-orang yang lebih daripada orang-orang yang menang, karena kita selalu ada di dalam kasih-Nya.


Tuhan Yesus juga berkata agar kita melekat pada pokok anggur itu, karena di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa.


Tanpa penyertaan Tuhan, kita adalah orang-orang yang lemah, tetapi ketika kita hidup di dalam Dia, Tuhanlah yang berperang bagi kita.



2. Ingatlah bahwa Tuhan menghendaki kita untuk dapat menyatakan kemuliaan Tuhan.


1 Samuel 31:8-10
8 Ketika keesokan harinya orang Filistin datang merampasi orang-orang yang mati terbunuh itu, didapati mereka Saul dan ketiga anaknya tergelimpang di pegunungan Gilboa.


9 Mereka memancung kepala Saul, merampas senjata-senjatanya dan menyuruh orang berkeliling di negeri orang Filistin untuk menyampaikan kabar itu di kuil berhalanya dan kepada rakyat.


10 Kemudian mereka menaruh senjata-senjata Saul di kuil Asytoret, dan mayatnya dipakukan mereka di tembok kota Bet-Sean.


Ini memberitahukan kita bahwa peperangan ini bukan sekedar peperangan fisik, tetapi ada sebuah semangat ini peperangan rohani, karena setelah Filistin menang atas Israel, mereka membawa kabar itu ke kuil berhala dan senjata-senjata Saul ditaruh di kuil Asytoret.


Ini memberitahukan bahwa Saul telah ditundukan kepada ilah Asytoret, dan jasad dari raja Saul dipakukan di tembok Bet-Sean, dipermalukan.


Tuhan ingin hidup kita berkemenangan, agar hidup kita menyatakan kemuliaan Tuhan, menyatakan siapakah Tuhan yang sejati itu, menyatakan siapakah Yesus Kristus Mesias itu, yang telah menang di atas kayu salib.


Tuhan tidak ingin kita jatuh dan kita menjadi orang-orang yang kalah. Kita menjadi orang yang kalah kalau kita mengikuti jejak Saul.


Kita hanya mengingat diri dan rencana kita sendiri. Kita ingin dinilai oleh orang lain, bukan oleh Tuhan. Kita hanya melakukan apa yang orang lain inginkan, bukan yang Tuhan inginkan.


Kita mau berjalan sendiri, sesuai waktu dan kemauan kita. Kita tidak peduli dengan pimpinan Tuhan.


Jika kita mengikuti jejak Saul, kita tidak akan mengalami penyertaan Tuhan. Tuhan ingin menyertai kita, tetapi kita meninggalkan Tuhan.


Pada saat seperti itu, kita akan dipermalukan dan kita tidak menjadi kesaksian bagi nama Tuhan.


Orang percaya yang hidupnya seperti Saul sangat menyedihkan. Bukankah Kristus sudah menang?


Namun, orang percaya seperti ini bukan menyatakan kemenangan Kristus, tetapi justru mereka mempermalukan, seakan-akan Kristus kalah.


Orang Kristen harus bergantung sepenuhnya kepada Kristus. Dengan demikian, orang-orang percaya mengalami kemenangan dalam peperangan rohani karena Kristus telah memenangkannya.


Di situlah kita menyatakan kemuliaan Yesus Kristus. Tentunya bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi karena Tuhan yang bekerja.


Tuhan selalu ingin menyertai kita. Marilah kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan, tuntunlah jalanku. Aku ingin berjalan bersama Engkau. Aku ingin mendengarkan Engkau. Aku ingin berpusat hidup kepada-Mu dan rencana-Mu, bukan pada diriku dan rencanaku. Aku ingin berpusat pada waktu-Mu, bukan waktuku. Aku rindu rencana-Mu nyata dalam hidupku.”


Orang Kristen yang seperti ini akan melihat bahwa Tuhan berperang baginya.


Doakan dan renungkan.


*Ketika keesokan harinya orang Filistin datang merampasi orang-orang yang mati terbunuh itu, didapati mereka Saul dan ketiga anaknya tergelimpang di pegunungan Gilboa.


* Seperti Saul, tanpa penyertaan Tuhan,kita tidak punya kuasa untuk peperangan rohani di kehidupan kita.


Ijinkan Tuhan Memimpin Peperangan Rohani Kita