Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG

Renungan Harian
GKY Mangga Besar

Jumat, 20 Mei 2022

Tuhan Adalah Gembalaku

Tuhan Adalah Gembalaku

RENUNGAN HARIAN

GKY MANGGA BESAR

Jumat, 20 Mei 2022


Yesaya 58

Kesalehan yang palsu dan yang sejati; Menghormati hari Sabat.


Tuhan ingin kita menyatakan kehadiran-Nya dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, agar orang lain dapat melihat kebaikan dan kemuliaan Tuhan sehingga banyak orang boleh mengenal Tuhan.


Hal tersebut merupakan sebuah kehormatan yang Tuhan berikan kepada kita. Kita adalah manusia yang lemah, tetapi Tuhan ingin menampakkan keindahan-Nya di dalam kehidupan kita.


Marilah kita semakin dekat dengan Tuhan, sehingga ketika kita bersama orang lain, mereka akan sadar bahwa ada Tuhan yang mengasihi mereka.


Ada banyak orang percaya yang memiliki falsafah bersifat dualisme, yang satu begitu ekstrim dekat dengan Tuhan tetapi tidak dekat dengan manusia, yang lainnya begitu dekat dengan manusia tetapi tidak dekat dengan Tuhan.


Seperti merasa kehidupan rohaninya dekat sekali dengan Tuhan tetapi tidak peduli dengan orang lain, dan ada yang merasa kehidupan rohaninya sudah sangat baik karena berbuat baik dengan orang lain tetapi tidak peduli dengan kehidupan doa atau membaca firman dan beribadah.



Kedua hal ini tidak diajarkan oleh Alkitab. Firman Tuhan mengajarkan jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang yang kita lihat, bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan yang tidak bisa kita lihat? Jikalau kita tidak mengalami kasih Tuhan, bagaimana kita bisa mengasihi orang lain?


Relasi dengan Tuhan dan sesama adalah dua hal yang tidak bisa kita abaikan. Kita tidak bisa mengasihi Tuhan tanpa peduli dengan manusia, atau begitu mengasihi manusia tanpa mengasihi Tuhan.

Bagaimanakah dengan kehidupan kita?


Yesaya 58


1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!


2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:


3 ”Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.


4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.


5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada Tuhan?


6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,


7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!


8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.


9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,


10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.


11 Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.


12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan ”yang memperbaiki tembok yang tembus”, ”yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.


13 Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat ”hari kenikmatan”, dan hari kudus Tuhan ”hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,


14 maka engkau akan bersenang-senang karena Tuhan, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.


Bagian firman Tuhan ini berbicara mengenai ibadah umat Tuhan, yaitu ibadah berpuasa.


Puasa merupakan kegiatan religius yang umum bagi orang Israel, yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan setahun sekali pada hari raya pendamaian sebagai ekspresi dari pertobatan umat Tuhan.


Berpuasa tidak diwajibkan dalam Alkitab. Berpuasa merupakan gambaran umat Tuhan yang berkabung dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.


Berpuasa merupakan ibadah kepada Tuhan, namun sering kali berpuasa tidak mengekspresikan kedekatan seseorang kepada Tuhan dan hidup berpusat kepada-Nya.


Ketika Tuhan Yesus bereinkarnasi, berpuasa menjadi suatu “prestise” dihadapan orang lain.


Pesan firman Tuhan bagi kita:


1.Berpuasa tidak mengindikasikan hidup dekat dengan Tuhan jika hidup hanya mencari kepentingan diri sendiri.


Yesaya 58:1-6


1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!


2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:


3 ”Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.


4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.


5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada Tuhan?


6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,


Membaca bagian firman Tuhan ini, membuat kita heran. Umat Tuhan yang mencari Tuhan dan ingin mengenal Tuhan bahkan mereka berpuasa, tetapi dalam puasa mereka berkata kepada Tuhan, mengapa Tuhan tidak peduli dengan mereka? (Yesaya 58:3)



Tuhan menjawab mereka: “Apakah puasa yang kau kerjakan itu adalah puasa yang Ku sukai?”

Ada suatu kontras antara aktivitas dengan hakikat dari aktivitas tersebut.


Aktivitas tidak selalu sehakikat dengan apa yang dilakukan aktivitas tersebut. Aktivitas puasa tidak selalu memiliki hakikat dalam berpuasa, karena Tuhan bertanya: “Apakah puasa yang kamu lakukan adalah puasa yang bersungguh-sungguh?”


Jikalau kita dalam berpuasa hanya mengurusi kepentingan diri sendiri, maka yang kita lakukan bukanlah hakikat berpuasa, sehingga Tuhan tidak akan mendengar doa kita.


Apa yang kita pelajari dari kehidupan berpuasa bangsa Israel dapat mengintropeksi diri kita. Kita pasti pernah berpuasa atau sering berpuasa.


Apakah ketika kita berpuasa kita sudah menjadi orang yang mencari kepentingan Tuhan dan orang lain? Atau kita berpuasa tetapi pusat kehidupan kita adalah diri kita sendiri?


Kita bisa menjadi orang percaya yang merasa diri kita lebih rohani dari orang lain, tetapi berpuasa seperti itu adalah berpuasa yang berpusat kepada diri sendiri.


Hubungan kita dengan orang lain tidak pernah baik, tidak pernah mengampuni orang lain, atau perilaku kita tidak pernah berubah, tetap tidak baik kepada orang lain.


Kita mengaku bahwa kita sangat rohani karena sudah berpuasa, tapi jika seperti itu kita hanya melakukan aktivitas berpuasa dan tidak mencapai hakikat puasa.

Apakah puasamu sungguh berkenan di hati Tuhan?


Marilah lakukan kegiatan kerohanian sesuai hakikat dari kerohanian itu, sehingga tidak hanya sekadar label “saya orang rohani karena saya punya aktivitas yang rohani.”


Biarlah aktivitas rohani itu menjadi kehidupan rohani kita, di mana melaluinya kita diubahkan, tidak lagi hidup egois, dan berpusat kepada diri sendiri, tetapi mulai menyatakan kasih Tuhan kepada orang lain.


Berpuasa tidak mengindikasikan kita dekat dengan Tuhan jikalau kita masih berpusat kepada kepentingan diri sendiri.


2.Kesaksian hidup orang percaya nyata dan bercahaya ketika rela melayani orang lain dan Tuhan akan menyatakan kasih dan kuasa-Nya melalui orang percaya.


Yesaya 58:7-11


7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!


8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.


9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,


10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.


11 Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.


Inilah hakikat dari orang yang hidup rohani dan beribadah puasa.


Tuhan tidak bermaksud menampik ibadah puasa, Ia menginginkan orang yang hidup beribadah kepadaNya.


Dan orang yang berpuasa adalah orang-orang yang menyatakan kebaikan dan anugerah Tuhan kepada orang lain.



Ketika orang percaya seperti itu, maka Tuhan mengatakan:


Yesaya 58:8

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.


Berpuasa bukan sekadar aktivitas yang membuatmu menjadi kesaksian, tetapi haruslah sebagaimana yang Tuhan inginkan, yaitu tidak berpusat kepada diri sendiri dan menyatakan kebaikan Tuhan kepada orang lain.


Maka terangmu mulai merekah dan doamu akan di dengar.


Kita melayani orang lain bukan dengan kekuatan sendiri tetapi dengan kuasa dan kasih Tuhan.


Tuhan bekerja melalui apa yang kita lakukan yang memberikan pengaruh rohani bagi orang lain. Maka kebenaran akan menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.


Ibadah dan kehidupan sehari-hari tidak dapat dipisahkan, kehidupan sehari-hari merupakan ekspresi dari ibadah kita, dan ibadah kita sebagai ekspresi dari kehidupan sehari-hari di mana kita bersyukur kepada Tuhan.


Ketika kita beribadah kepada Tuhan, maka seharusnya kita tidak lagi menjadi orang yang egois.


Karena ketika kita memandang Tuhan maka kita akan belajar memperhatikan kehidupan orang lain dan bagaimana kita sebagai anak Tuhan menjadi berkat bagi mereka, dan pada saat itulah terang kita bercahaya.


Doakan dan renungkan.


*Apakah Saudara pernah atau sering berpuasa? Sebenarnya puasa seperti apa yang Tuhan inginkan?


*Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!


Puasa =Peduli dan Berbagi Kebaikan Tuhan