Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG

Renungan Harian
GKY Mangga Besar

Rabu, 30 Maret 2022

Tuhan Adalah Gembalaku

Tuhan Adalah Gembalaku

RENUNGAN HARIAN

GKY MANGGA BESAR

Rabu, 30 Maret 2022


Yesaya 8:1-22

Anak Nabi Sebagai Tanda


Setiap langkah kehidupan yang telah kita lalui merupakan sebuah pembelajaran yang baik bagi kita sebagai orang percaya, bagaimana tangan Tuhan terlibat di dalam kehidupan kita.


Berbahagialah kita orang percaya yang dapat belajar dari apa yang telah Allah lakukan di dalam kehidupan kita yang telah lalu.


Setiap orang percaya setidaknya mempunyai pengalaman yang ajaib hidup berjalan bersama dengan Tuhan.


Namun ironis, ternyata adakalanya orang percaya tidak belajar dari pengalaman yang dia alami bersama dengan Tuhan.


Ketika menghadapi kehidupan yang penuh tantangan, kesulitan, penderitaan atau ancaman, mereka tidak makin bersandar kepada Tuhan, malah mulai meninggalkan persekutuan denganNya.


Atau mulai mencari andalan lain yang lebih kelihatan dan nyata, seakan-akan lebih dapat diandalkan.


Pengalaman sebagai orang percaya seperti ini juga adalah pengalaman dari umat Tuhan, bangsa Israel pada waktu lalu.


Orang Israel adalah umat Tuhan yang telah begitu banyak mengalami Tuhan di dalam perjalanan hidup mereka.


Namun dari Alkitab kita belajar bahwa bangsa Israel tidak pernah menimba pelajaran dari sejarah ketika mereka berjalan bersama Tuhan.


Yesaya 8:1-22


1 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Ambillah sebuah batu tulis besar dan tuliskanlah di atasnya dengan tulisan biasa: Maher-Syalal Hash-Bas."


2 Maka aku memanggil dua saksi yang dapat dipercaya, yaitu imam Uria dan Zakharia bin Yeberekhya.


3 Kemudian aku menghampiri isteriku; ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Namailah dia: Maher-Syalal Hash-Bas,


4 sebab sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! Ibu! maka kekayaan Damsyik dan jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur."


5 TUHAN melanjutkan lagi firman-Nya kepadaku:


6 "Oleh karena bangsa ini telah menolak air Syiloah yang mengalir lamban, dan telah tawar hati terhadap Rezin dan anak Remalya,


7 sebab itu, sesungguhnya, Tuhan akan membuat air sungai Efrat yang kuat dan besar, meluap-luap atas mereka, yaitu raja Asyur dengan segala kemuliaannya; air ini akan meluap melampaui segenap salurannya dan akan mengalir melampaui segenap tebingnya,


8 serta menerobos masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga sampai ke leher; dan sayap-sayapnya yang dikembangkan akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!"

9 Ketahuilah, hai bangsa-bangsa, dan terkejutlah, perhatikanlah, ya segala pelosok bumi, berikatpingganglah, dan terkejutlah; berikatpingganglah dan terkejutlah!


10 Buatlah rancangan, tetapi akan gagal juga; ambillah keputusan, tetapi tidak terlaksana juga,

sebab Allah menyertai kami!


11 Sebab beginilah firman TUHAN kepadaku, ketika tangan-Nya menguasai aku, dan ketika Ia memperingatkan aku, supaya jangan mengikuti tingkah laku bangsa ini:


12 "Jangan sebut persepakatan segala apa yang disebut bangsa ini persepakatan, dan apa yang mereka takuti janganlah kamu takuti dan janganlah gentar melihatnya.


13 Tetapi TUHAN semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar.


14 Ia akan menjadi tempat kudus, tetapi juga menjadi batu sentuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu, serta menjadi jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem.


15 Dan banyak di antara mereka akan tersandung, jatuh dan luka parah, tertangkap dan tertawan."


16 Aku harus menyimpan kesaksian ini dan memeteraikan pengajaran ini di antara murid-muridku.


17 Dan aku hendak menanti-nantikan TUHAN yang menyembunyikan wajah-Nya terhadap kaum keturunan Yakub; aku hendak mengharapkan Dia.


18 Sesungguhnya, aku dan anak-anak yang telah diberikan TUHAN kepadaku adalah tanda dan alamat di antara orang Israel dari TUHAN semesta alam yang diam di gunung Sion.


19 Dan apabila orang berkata kepada kamu: "Mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan komat-kamit," maka jawablah: "Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada allahnya? Atau haruskah mereka meminta petunjuk kepada orang-orang mati bagi orang-orang hidup?"


20 "Carilah pengajaran dan kesaksian!" Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.


21 Mereka akan lalu-lalang di negeri itu, melarat dan lapar, dan apabila mereka lapar, mereka akan gusar dan akan mengutuk rajanya dan Allahnya; mereka akan menengadah ke langit,


22 dan akan melihat ke bumi, dan sesungguhnya, hanya kesesakan dan kegelapan, kesuraman yang mengimpit, dan mereka akan dibuang ke dalam kabut.


Bangsa Yehuda sedang mengalami ancaman dari bangsa Israel dan bangsa Aram.


Tentu sebagaimana bangsa yang terancam, Yehuda gentar menghadapi kekuatan dari koalisi dua bangsa ini, yaitu bangsa Israel di bagian utara tanah Israel, dan bangsa Aram.


Tuhan melalui nabi Yesaya sudah menyampaikan kepada raja Ahas, bahwa kedua koalisi tidak sanggup untuk menjatuhkan bangsa Yehuda.


Tuhan ingin raja Ahas sebagai pemimpin bangsa itu bersandar kepada Tuhan bukan kepada yang lain. Namun kita tahu bahwa Ahas tidak bergantung kepada Tuhan.


Tuhan berkata di dalam bagian ini bahwa bangsa Yehuda tidak puas kepada air yang tenang, yaitu air Syiloah yang menggambarkan Yerusalem, kehadiran Tuhan di tengah umat Israel.


Bangsa Yehuda bukan mencari air Syiloah yang tenang dan penuh damai itu, tetapi dia mencari air sungai Efrat yang besar itu yaitu bangsa Asyur.


Yehuda sebagai bangsa yang telah mengalami Tuhan dan kesetiaan-Nya, namun menolak Tuhan yang menolong mereka. Bagaimanakah sikap Tuhan?


Pesan Firman Tuhan pada hari ini :

1. Kita harus menyadari bahwa pertolongan yang sesungguhnya hanya ada di dalam Tuhan.


Acap kali dalam hidup sebagai orang percaya, kita terjebak sebagaimana bangsa Yehuda berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan pertolongan dari tempat lain.


Pertolongan lain lebih nyata dan kelihatan, yaitu bangsa Asyur, sebuah bangsa yang lebih besar.


Raja Ahas berpikir jika mereka didukung oleh bangsa Asyur, mereka percaya bahwa tanpa pertolongan Tuhan, bangsa Yehuda tetap aman. Namun Ahas lupa kepada pertolongan yang sesungguhnya.


Yesaya 8:6-7

6 "Oleh karena bangsa ini telah menolak air Syiloah yang mengalir lamban, dan telah tawar hati terhadap Rezin dan anak Remalya,


7 sebab itu, sesungguhnya, Tuhan akan membuat air sungai Efrat yang kuat dan besar, meluap-luap atas mereka, yaitu raja Asyur dengan segala kemuliaannya; air ini akan meluap melampaui segenap salurannya dan akan mengalir melampaui segenap tebingnya,


Karena bangsa Yehuda bukan mencari pertolongan sejati dari Tuhan, tetapi dari tempat yang sebetulnya bukan tempat pertolongan mereka,


maka sungai Efrat yang besar itu yaitu bangsa Asyur, selain melanda bangsa Israel dan bangsa Arab, dia juga melewati tebing-tebingnya dan masuk menyerang bangsa Yehuda.


Kita harus waspada, apa yang kita andalkan dalam hidup selain Tuhan, suatu kali akan membahayakan dan mencelakakan kita.


Dia tidak bisa menjadi sahabat sejati dalam hidup kita. Pertolongan yang sejati datangnya hanya dari Tuhan.


Mungkin waktu Tuhan berbeda dengan waktu kita. Adakalanya kita tidak sabar, kita merasa Tuhan begitu lamban.


Mengapa tidak cepat menolong? Sedangkan pertolongan dari tempat lain, terlihat begitu cepat.


Jangan kita terjebak! Pertolongan yang sesungguhnya, yang sungguh-sungguh mau menolong kita, hanya Tuhan.


Hanya Dia yang patut kita andalkan, apapun pergumulan kita. Kita harus mencari Dia dengan segenap hati kita.

2. Tuhan setia kepada janji-Nya dan kesetiaan Tuhan tidak dapat digagalkan oleh kekuatan apapun.


Ini pesan yang sangat kuat dari kitab Yesaya ini. Kesetiaan siapa pun di tengah dunia ini, bisa luntur karena kerusakan moral dari orang yang dikatakan setia.


Kalau pun dia ingin setia, dia tidak punya kekuatan untuk memegang janjinya atau menggenapi apa yang dia inginkan.


Karena ada kekuatan lain yang sanggup menggeser seluruh kemampuan untuk menggenapi janjinya. Tetapi tidak dengan Tuhan kita.

Yesaya 8:8-10
8 serta menerobos masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga sampai ke leher; dan sayap-sayapnya yang dikembangkan akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!"

9 Ketahuilah, hai bangsa-bangsa, dan terkejutlah, perhatikanlah, ya segala pelosok bumi, berikatpingganglah, dan terkejutlah; berikatpingganglah dan terkejutlah!


10 Buatlah rancangan, tetapi akan gagal juga; ambillah keputusan, tetapi tidak terlaksana juga,

sebab Allah menyertai kami!


Allah telah memperingatkan bangsa Yehuda untuk tidak bersandar pada bangsa Asyur, tetapi harus bersandar kepada Tuhan, namun bangsa Yehuda tetap bersandar kepada bangsa Asyur.


Allah memberitahukan bahwa air sungai Efrat yang besar itu akan melanda bangsa Israel bagian utara akan hancur lebur oleh gempuran bangsa Asyur, tetapi air sungai Efrat itu juga akan melampaui tebing masuk ke wilayah bangsa Yehuda.


Perhatikan ayat 8: “serta menerobos masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga sampai ke leher;”Ini ayat yang sangat indah. Tidak sampai kepala, hanya sampai ke leher.


Itulah sejarah bangsa Yehuda. Asyur tidak sampai menenggelamkan Yehuda. Alkitab melanjutkan dengan kata-kata, “…dan sayap-sayapnya yang dikembangkan akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!"


Allah yang mendidik bangsa Yehuda adalah Allah setia pada janji-Nya. Allah yang mendidik bukan Allah yang ingin memusnahkan.


Allah yang mendidik bangsa Yehuda mengalami seluruh penderitaan, adalah Allah yang memberikan pengharapan dan pengharapan itu pasti. Oleh karena itu Alkitab berkata, “…akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!"


Ada pengharapan di dalam Imanuel itu. Inilah yang Tuhan janjikan kepada bangsa Yehuda.


Ketika Natal kita menyanyikan lagu Imanuel. Kitab injil Matius memberitakan siapa Imanuel itu, yaitu Yesus Kristus. Di dalam Yesus Kristus, kita mengalami Imanuel, yaitu Allah beserta kita.


Badai apapun yang melanda hidup kita, tidak akan sampai kepada kepala kita. Mungkin mencapai leher kita, namun tidak membinasakan kita, karena Imanuel, Allah beserta kita.


Jikalau Allah di pihak kita, siapakah yang sanggup menjadi lawan-Nya?


Kesetiaan Allah tidak dapat diganggu gugat oleh kekuatan apapun. Janji-Nya dipegang dan Dia sendiri melaksanakannya.


Saat kita menghadapi pergumulan, kita menjadi orang-orang yang bersukacita dan penuh pengharapan, karena kita mengandalkan hidup kita kepada-Nya dan Dia setia kepada janji-Nya.


Doakan dan renungkan.

*Kita harus waspada, apa yang kita andalkan dalam hidup selain Tuhan, suatu kali akan membahayakan dan mencelakakan kita.


*Mengapa? Karena pertolongan sejati datangnya hanya dari Tuhan sang Imanuel.


Jangan bersandar pada sandaran miring