Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
2 Korintus 4:16-18
Jangan tawar hati, juga waktu menghadapi maut (part 1)
Bukan hanya baterai telepon genggam kita yang pernah hampir habis, tetapi diri kita juga sering merasa baterai dalam jiwa kita hampir habis.
Mungkin karena kelelahan, rutinitas, masalah yang menekan, kekecewaan atau penderitaan lain yang membuat rasanya kita kehilangan tenaga untuk menjalani hidup ini.
Bagaimana kita berhenti dari semua ini? Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan Paulus, tekanan dan penderitaan yang ada.
Tentunya Paulus juga sama seperti kita yang bisa merasa lelah menghadapi penderitaan.
2 Korintus 4:16-18
16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
Paulus tidak tawar hati, walaupun kehidupan dan pelayanannya banyak mengalami penderitaan secara fisik dan emosional. Bisa dibayangkan betapa lelah dan tidak berdayanya Paulus.
Paulus menyadari, di tengah penderitaannya, Allah terus bekerja memperbaharui dirinya. Tubuh bisa semakin lemah, tapi satu hal yang pasti, semua itu tidak sia-sia karena Allah terus memperbaharui kerohaniannya.
Fisik bisa terlihat lemah, badan bisa terlihat lelah, tapi ada hati yang semakin dikuatkan untuk menjalani semua itu.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penderitaan seperti Paulus, mungkin kita tidak dianiaya, tetapi ada hal-hal yang membuat kita lelah secara emosional.
Kiranya kita bisa mengingat mungkin hal-hal itu Tuhan ijinkan untuk kita kembali semakin bergantung dan memiliki hati yang makin kuat kepada-Nya.
2 Korintus 1:9
Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.
Paulus menyadari ada kemuliaan kekal yang melebihi semuanya. Seperti atlet yang terus berlari walaupun tubuh sudah melemah karena mereka tahu akan ada garis akhir.
Paulus terus maju bukan karena ia menikmati penderitaannya, tetapi ia tahu itu bukan akhir dari segalanya, akan ada kemuliaan kekal bersama orang percaya lainnya.
Kemuliaan kekal menunjuk kepada keselamatan yang sebenarnya sudah kita nikmati saat ini di dalam Kristus, namun akan kita nikmati secara sempurna pada akhirnya nanti bersama-sama dengan Kristus.
Saat kita dibangkitkan, dibebaskan sepenuhnya bukan hanya dari dosa, melainkan dari penderitaan dalam hidup ini dan hidup bersama Tuhan untuk selamanya. Bukankah ini begitu indah?
Pesan Firman Tuhan:
1. Di dalam Kristus, tekanan dan penderitaan dapat dipakai untuk terus memperbaharui hati kita.
2. Di dalam Kristus, tekanan dan penderitaan tidak sebanding dengan kemuliaan kekal yang akan kita nikmati nanti ketika kita bertemu dengan Tuhan.
Kita punya pengharapan yang begitu besar dan pasti, maka jangan menyerah menjalani hidup ini.
Doakan dan renungkan
* Paulus tidak tawar hati, walaupun kehidupan dan pelayanannya banyak mengalami penderitaan secara fisik dan emosional.
* Ia menyadari, di tengah penderitaan Allah terus bekerja memperbaharui dirinya. Walau tubuhnya semakin lemah, tapi satu hal yang pasti, semua itu tidak sia-sia.
Kemuliaan Kekal Menanti