Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Kamis, 05 November 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

2 Korintus 4:1-6

Harta Rohani dalam Bejana Tanah; Part 1


Ketika berbagai kesulitan terjadi dalam hidup kita, rasanya sulit untuk kita tetap memiliki semangat menjalani keseharian kita.


Mungkin kita bisa tetap melakukan segala tanggung jawab dengan baik, tapi tetap dengan keadaan hati begitu berbeban berat.


Apalagi ketika kita sudah terus berusaha melakukan yang terbaik, tapi keadaan kita tidak kunjung berubah seperti yang kita harapkan.


Kita bisa menjadi semakin lelah, semakin kecewa, semakin bertanya-tanya, untuk apa kita terus melakukan ini.


Kita mungkin dapat mengalami yang namanya tawar hati, dan rasanya ingin berhenti dari segala tanggung jawab yang tetap harus kita lakukan.


Atau mungkin kita tetap melakukan tanggung jawab itu, tapi dengan hati yang sudah tidak peduli lagi.


Mari, kita melihat kisah kehidupan Paulus. Sebenarnya ia juga mengalami berbagai kesulitan yang terjadi dalam pelayanannya.


Ia dihina orang, direndahkan, bahkan dipertanyakan kelayakannya sebagai seorang rasul.

Saat dipenjara, ia sering sekali mengalami hidup yang tidak aman, dan tidak nyaman.


Tapi satu hal yang menarik. Setelah mengalami berbagai hal yang sulit, ia tetap dapat berkata, bahwa ia dan rekan-rekan pelayanannya tidak tawar hati dalam melayani Tuhan.


Kira-kira apa yang membuat mereka memiliki hati yang begitu teguh sehingga tidak tawar hati?


Mari, bersama-sama kita membaca firman Tuhan di bawah ini:


2 Korintus 4:1-6 Harta Rohani dalam Bejana Tanah; Part 1


1 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.


2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.


3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,


4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.


5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.


6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.


Melalui ayat yang kita baca tadi, setidaknya ada dua hal, yang membuat Paulus menjadi tidak tawar hati di tengah kesulitan yang dia alami selama melayani Tuhan, yaitu:


1. Paulus menyadari, bahwa pelayanan merupakan anugerah Tuhan.


Di ayat 1, Paulus mengakui, pelayanan yang ia jalankan berasal dari kemurahan Tuhan saja. Bukan karena ia atau rekan-rekan pelayanannya hebat dan mampu.


Tapi, hanya karena Allah yang mau memanggil mereka dalam pelayanan tersebut.


Jika kita melihat masa lalu Paulus, ia adalah seorang yang suka menganiaya jemaat. Ia tidak suka orang-orang menjadi percaya kepada Kristus.


Tetapi, Tuhan mau menyelamatkan Paulus, bahkan memanggilnya untuk melayani dan memberitakan Injil.


Paulus menyadari, bahwa ketika ia dapat hidup dalam Tuhan, bahkan melayani-Nya, itu merupakan anugerah kemurahan Tuhan bagi kehidupannya.


Hanya ketika kita sadar akan anugerah Tuhan dalam hidup kita, kita dapat melihat, bahwa setiap tanggung jawab dan pelayanan yang Tuhan percayakan, yang dikerjakan dengan cara yang benar, walaupun di tengah berbagai macam kesulitan yang mungkin kita hadapi, kita tidak melihat hal itu sebagai suatu hal yang sia-sia.


Tapi, kita melihatnya sebagai kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, saat kita mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya.


Karena itu, di tengah segala kesulitan yang mungkin pernah, mungkin sedang, atau mungkin akan kita hadapi kedepannya dalam mengikut Tuhan, bahkan dalam melayani Dia.


Mari kita terus mengingat bahwa sejak awal kita dapat mengenal Tuhan, hidup dalam Tuhan, bahkan diberi kesempatan untuk melayani Dia, itu semua hanya karena anugerah Tuhan.


Sebenarnya kita tidak layak menerima itu semua. Tapi, karena Tuhan baik bagi kita, Dia melakukan semua bagi kita.


2. Paulus hanya berfokus kepada Kristus dan Injil yang perlu diberitakan.


Kita melihat, bagaimana Paulus sungguh-sungguh mengalami anugerah Tuhan.


Ketika ia menjalani pelayanannya, fokusnya bukan lagi kepada diri sendiri, melainkan kepada Kristus yang sudah menyelamatkan dan memanggil dia.


Hal ini terlihat jelas di ayat ke-5, yang menyatakan: bukan diri kami sendiri yang diberitakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan.


Dan Paulus melanjutkan: kami ini hanya hamba, karena kehendak Yesus.


Bukankah luar biasa, ketika kita bisa melihat Paulus sebagai rasul, tetap dapat melayani Tuhan dengan terus berdiri teguh, tidak mudah goyah, bahkan di tengah segala tantangan dan rintangan yang ada.


Ternyata, karena memang hati dan pikirannya hanya fokus tertuju kepada Kristus. Kristuslah yang menjadi dasar bagi kehidupan dan pelayanannya.


Ketika ia menjadikan Kristus sebagai dasar, maka hal lain diluarnya, seperti keadaannya yang berubah-ubah, keadaan yang tidak selalu aman, dan mungkin juga perasaan yang tidak selalu menentu, itu semua tidak dapat menggeser Kristus di dalam hatinya.


Karena itu, ia bisa terus berjalan menghadapi apa pun yang terjadi dalam pelayanannya, dengan setia.


Itu semua karena dia hanya fokus kepada Kristus, yang menjadi dasar dari setiap kehidupan dan pelayanannya.


Paulus dan rekan-rekannya juga fokus kepada apa yang sedang ia lakukan dalam pelayanannya, yaitu memberitakan tentang Kristus.


Memberitakan tentang Injil, kabar baik tentang siapa Kristus dan apa yang sudah Kristus lakukan untuk dunia yang berdosa ini.


Segala hal yang mungkin tidak enak, yang mungkin sulit, yang mungkin Paulus alami, tidak menjadi alasan bagi Paulus untuk berhenti atau menjadi tawar hati.


Karena yang menjadi pusat dalam hidupnya adalah Kristus dan Injil, yang dipercayakan kepadanya untuk diberitakan.


Kedua hal inilah yang menjadi dasar, bagaimana Paulus berdiri teguh di tengah pelayanan yang tidak mudah itu.


Mungkin kita pernah, atau mungkin nanti kita mengalami masa-masa yang membuat kita lelah, membuat kita kecewa, atau bahkan ingin berhenti dalam pelayanan atau dalam tanggung jawab yang Tuhan berikan juga kepada kita.


Jika hal itu terjadi, biarlah kita mengingat pesan firman Tuhan di bawah ini:


Pesan firman Tuhan bagi kita:


1) Kiranya kita memiliki hati yang terus kembali melihat kepada anugerah Tuhan.


Semua tanggung jawab dan pelayanan yang Tuhan percayakan, adalah anugerah yang Tuhan berikan bagi kita.


2) Mari kita juga memiliki hati yang terus fokus kepada Kristus dan karya-Nya yang luar biasa kepada kita.


Ketika kita memiliki hati yang terus mengingat anugerah Tuhan dan terus fokus kepada Kristus dan karya-Nya, kesulitan apa pun yang kita hadapi tidak lagi menjadi alasan bagi kita menyerah.


Kita mungkin tetap bisa merasa lelah, kita mungkin tetap merasa kecewa, bahkan rasanya menderita dalam pelayanan kita.


Namun, seperti yang firman Tuhan ingatkan kepada kita hari ini, kiranya kita bisa terus datang kepada-Nya dan terus mengingat kembali anugerah-Nya yang luar biasa.


Dengan demikian kita sadar bahwa Kristuslah yang menjadi pusat, sehingga Injil, kabar baik tentang Kristus itu, yang perlu terus kita beritakan melalui seluruh kehidupan dan pelayanan kita.


Kiranya Tuhan terus menolong kita.

Doakan dan renungkan


* Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.


* Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita.


Jangan Tawar Hati