Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Rabu, 28 Oktober 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

1 Korintus 16:1-12

Bantuan untuk jemaat di Yerusalem; Rencana Paulus


Mari kita membaca Firman Tuhan, yang terambil dari:


1 Korintus 16:1-12


1 Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia.


2 Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.


3 Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak, dengan surat ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu.


4 Kalau ternyata penting, bahwa aku juga pergi, maka mereka akan pergi bersama-sama dengan aku.


5 Aku akan datang kepadamu, sesudah aku melintasi Makedonia, sebab aku akan melintasi Makedonia.


6 Dan di Korintus mungkin aku akan tinggal beberapa lamanya dengan kamu atau mungkin aku akan tinggal selama musim dingin, sehingga kamu dapat menolong aku untuk melanjutkan perjalananku.


7 Sebab sekarang aku tidak mau melihat kamu hanya sepintas lalu saja. Aku harap dapat tinggal agak lama dengan kamu, jika diperkenankan Tuhan.


8 Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta,


9 sebab di sini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang.


10 Jika Timotius datang kepadamu, usahakanlah supaya ia berada di tengah-tengah kamu tanpa takut, sebab ia mengerjakan pekerjaan Tuhan, sama seperti aku.


11 Jadi, janganlah ada orang yang menganggapnya rendah! Tetapi tolonglah dia, supaya ia melanjutkan perjalanannya dengan selamat, agar ia datang kembali kepadaku, sebab aku di sini menunggu kedatangannya bersama-sama dengan saudara-saudara yang lain.

12 Tentang saudara Apolos: telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk bersama-sama dengan saudara-saudara lain mengunjungi kamu, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang.


Apa yang ada di benak kita saat kita mendengar kata “pelayanan”? Mungkin yang muncul adalah orang yang berkhotbah, pemimpin pujian, pengajar Sekolah Minggu, pengurus di gereja, paduan suara, pemain musik, atau segala kegiatan yang ada di dalam gereja.


Apakah pelayanan itu hanya sebatas yang kita lakukan di dalam gedung gereja. 1 Korintus 16:1-12 menjelaskan bahwa pelayanan Kristen itu jauh lebih luas dari pada aktivitas di dalam gereja.


Paulus berbicara mengenai pengumpulan bantuan bagi orang-orang percaya yang membutuhkan.


Ia bercerita tentang perjalanan pelayanan, membuka pintu bagi Injil, atau bagaimana seorang percaya menggunakan waktu dan hidupnya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan.


Pada pasal sebelumnya, Paulus berbicara mengenai kebangkitan.


Pada pasal 16 ini, ia berbicara tentang persembahan, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama. Kedua pasal ini memiliki keterikatan yang sangat kuat.


Saat kita memahami tentang maut yang dikalahkan dan Kristus yang bangkit, maka hal ini seharusnya membawa satu perubahan di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya.


Oleh karena Kristus telah menang, maka kita harus hidup bagi Tuhan. Pada ayat 1-4, Paulus menjelaskan mengenai pengumpulan uang untuk orang-orang kudus.


Paulus meminta kepada jemaat Korintus yang seharusnya mengalami perubahan di dalam hidup karena telah melihat karya kebangkitan Kristus, agar memiliki kepedulian kepada sesama.


Maka, ia meminta agar jemaat dapat memberi persembahan kepada pelayanan sosial ini secara teratur setiap minggu, sesuai dengan yang sudah diperoleh.


Kepedulian bukan hanya dilakukan di saat kita tersentuh oleh rasa belas kasihan. Sebaliknya, Paulus mengajarkan perlunya ada kesengajaan dan keteraturan dalam memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.


Hal ini karena kasih Kristen tidak hanya terbatas pada perasaan, melainkan senantiasa terwujud melalui tindakan nyata orang-orang percaya.


Kita dapat mudah merasa kasihan, tetapi saat mereka benar-benar membutuhkan pertolongan, kita tidak melakukan apa-apa.


Ada juga orang yang selalu merasa diri kurang, sehingga saat seharusnya membantu orang lain, ia berkata bahwa ia masih belum sanggup karena uang yang terbatas.


Orang juga akan berpikir untuk menunggu uang banyak dahulu, baru bisa membantu, sedangkan standar banyak menurut dunia itu tidak terhingga.


Jika hal ini terhenti pada prinsip, maka tidak akan ada tindakan membantu atau memberi untuk orang lain.


Hal ini tidak boleh ada di dalam kehidupan orang percaya. Paulus mengingatkan bahwa Injil mengubah kasih yang hanya ada di dalam perkataan, menjadi kasih yang dinyatakan dalam tindakan.


Dasar kita memberi adalah anugerah yang sudah diterima di dalam Kristus. Kristus telah memberikan diriNya bagi kita.


Ia yang kaya, telah menjadi miskin bagi kita supaya melalui kemiskinan itu, kita menjadi kaya di dalam kasih karunia.


Di kayu salib, Kristus bukan memberikan diriNya sebagian, melainkan secara utuh; hanya untuk menebus kita.


Saat kasih Kristus benar-benar memenuhi hati kita, maka kita akan bertanya, “Bagaimana hidup saya bisa menjadi berkat bagi orang lain?”


Bukan lagi tentang seberapa besar kasih yang kita berikan bagi orang lain. Kita harus ingat bahwa persembahan Kristen bukan tentang berapa jumlahnya, melainkan persoalan hati yang benar-benar disentuh oleh kasih karunia.


Pada ayat 2, Paulus menyatakan agar setiap orang menyisihkan sesuatu sesuai dengan yang diperolehnya, sehingga ada kesadaran, kesengajaan, dan keteraturan.


Persembahan yang kita berikan itu menjadi satu tanggung jawab terhadap hal yang Tuhan percayakan kepada kita. Orang yang Tuhan percayakan banyak, memiliki kesempatan banyak untuk memberi lebih banyak.


Sebaliknya, orang yang memiliki lebih sedikit, dapat tetap mengambil bagian sesuai dengan kemampuannya. Jadi, bukan menyatakan bahwa kita punya sedikit sehingga kita tidak bisa memberi.


Memberi di dalam kekurangan memiliki makna yang jauh lebih luar biasa. Tuhan bukan melihat besar kecilnya jumlah, melainkan hati yang bertanggungjawab atas berkat yang dipercayakan Tuhan.


Prinsip memberikan sebagian uang saya untuk Tuhan adalah keliru. Prinsip yang benar adalah bahwa semua yang kita miliki, berasal dari Tuhan.


Tuhan mempercayakan ini kepada kita untuk dikelola bagi kemuliaan Tuhan dan membantu sesama.


Kita bukan pemilik mutlak atas apa yang kita miliki saat ini. Kita hanya pengelola yang Tuhan percayakan.


Saat Tuhan memberikan kita pekerjaan, penghasilan, usaha, kemampuan, waktu, atau sumber daya kepada kita;


Maka kita bukan bertanya,”Berapa yang perlu diberikan”, melainkan, “Bagaimana kita menggunakannya dengan bertanggung jawab di hadapan Tuhan.”


Pesan Firman Tuhan bagi kita

1. Ketika kita memberi, bukan dengan hati yang berat, melainkan dengan iman dan ucapan syukur kepada Tuhan.


Kita percaya bahwa hidup tidak bergantung pada jumlah yang kita punya, tetapi pada Tuhan yang memelihara kita.


Mari, jangan menutup mata kepada sesama. Kita perlu melihat orang yang sangat membutuhkan saluran tangan kasih kita.


2. Memberi adalah bagian dari pelayanan.


Tuhan mempercayakan berkat kepada kita, untuk dikelola dengan setia; termasuk menyisihkan sebagian untuk pekerjaan Tuhan dan kebutuhan sesama, sesuai dengan apa yang Tuhan percayakan kepada kita.


Maka hidup kita akan penuh dengan sukacita. Kita tidak fokus kepada keinginan diri sendiri, melainkan benar-benar turut mengambil bagian di dalam kehidupan sesama kita.


Kita diberkati untuk menjadi berkat.


Doakan dan renungkan


* Paulus meminta jemaat Korintus memberi persembahan pelayanan sosial secara teratur, sebagai wujud kasih yang senantiasa terwujud melalui tindakan nyata orang-orang percaya.


* Kepedulian tidak hanya dilakukan saat kita tersentuh oleh rasa belas kasihan. Sebaliknya, ada kesengajaan dan keteraturan dalam memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.


Tindakan Nyata Orang Percaya