Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 23 Oktober 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

1 Korintus 14:1-12

Sekali Lagi Tentang Karunia Roh.


Hari ini kita akan melanjutkan perenungan firman Tuhan kita dari:


1 Korintus 14:1-12


14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.


14:2 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.


14:3 Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.


14:4 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.


14:5 Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.


14:6 Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu pernyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?


14:7 Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi, bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda?


14:8 Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?


14:9 Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!


14:10 Ada banyak, entah berapa banyak, macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti.


14:11 Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku.


14:12 Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat.


Demikian pembacaan firman Tuhan kita pada hari ini. Ayat 3 sampai 4 akan menjadi fokus kita, yang berkata demikian:


14:3 Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.


14:4 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.


Saudara yang terkasih, setiap orang tentu ingin hidupnya berguna bagi orang lain. Kita ingin supaya keberadaan kita memiliki arti bagi orang lain.


Itu sebabnya, kita berharap apa yang kita kerjakan membawa dampak yang baik bagi orang lain.


Hal yang sama juga berlaku dalam pelayanan. Kita ingin sekali pelayanan kita menjadi berkat atau memberi dampak yang baik bagi orang lain.


Akan tetapi ada pertanyaan penting yang perlu kita renungkan “Dalam pelayanan yang kita lakukan, apakah yang sebenarnya kita kejar?”


Apakah kita melakukannya supaya terlihat hebat di mata orang lain, atau supaya orang lain mengagumi kemampuan kita yang luar biasa?


Ataukah yang kita lakukan itu sungguh-sungguh memberikan dampak, dalam arti berhasil membawa orang lain dibangun dan semakin mengenal Kristus?


Rasul Paulus memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini melalui bagian firman Tuhan yang sudah kita baca tadi, terutama berkaitan dengan kondisi jemaat di Korintus.


Seperti yang kita ketahui bersama, mereka adalah jemaat yang dikaruniakan begitu banyak karunia. Mereka begitu hebat dan luar biasa.


Di sini, Rasul Paulus justru menemukan bahwa jemaat yang memiliki banyak karunia ini belum memahami tujuan dari karunia itu.


Karunia yang seharusnya dapat membangun jemaat malah menjadi sumber masalah dalam tubuh Kristus pada waktu itu.


Dengan karunia-karunia yang ada, mereka justru saling bersaing satu dengan yang lain dan saling membanggakan diri.


Sehingga terjadi perpecahan di antara mereka. Itu sebabnya, di awal bagian firman Tuhan ini, dalam ayat 1 Rasul Paulus memberikan sebuah perintah yang sangat penting.


Paulus berkata:


14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.


Dalam ayat ini Paulus menekankan untuk mengejar kasih terlebih dahulu. Kita tidak menemukan Rasul Paulus berkata, “Kejarlah karunia,” melainkan, “Kejarlah kasih itu.”


Bagian ini tentu tidak dapat kita pisahkan dari pasal 13, pasal sebelumnya yang memang berbicara tentang kasih.


Dalam pasal itu Rasul Paulus mengingatkan bahwa tidak ada gunanya kita memiliki banyak karunia dan talenta jika tidak memiliki kasih, karena semua yang kita lakukan akan kehilangan tujuan yang sesungguhnya.


Paulus menghendaki agar jemaat di Korintus, dan tentunya setiap kita sebagai orang percaya, sungguh-sungguh menyadari bahwa karunia rohani bukanlah tanda seseorang memiliki kehidupan rohani yang baik.


Dan juga tidak menjadikan seseorang lebih berharga dibandingkan orang lain.


Karunia itu adalah pemberian Roh Kudus yang harus digunakan untuk membangun tubuh Kristus.


Mari kita kembali ke pasal sebelumnya. Di dalam pasal 12, Paulus sudah menjelaskan bahwa Roh Kuduslah yang memberikan karunia menurut kehendak-Nya.


Jadi, karunia itu jelas bukanlah hasil pencapaian kita atau pencapaian manusia. Karunia itu adalah anugerah Allah.


Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi sombong dengan karunia yang kita miliki.


Jika ada orang yang dapat mengajar, memimpin, dan melayani dengan baik, entah melalui bermain musik, memimpin pujian, dan lain sebagainya, ingatlah bahwa semua itu adalah anugerah dan pemberian Tuhan.


Jika semuanya berasal dari Tuhan, maka semuanya harus kembali kepada tujuan Tuhan.


Sudah jelas bahwa tujuan Tuhan bukanlah supaya saya terlihat hebat, dipuji, dan dikagumi orang, tetapi supaya jemaat dibangun.


Itulah sebabnya pada ayat 1 sampai 2 Paulus memberikan perbandingan antara karunia berkata-kata dengan bahasa roh dan karunia bernubuat.


Dalam hal ini kita perlu berhati-hati dalam memahami istilah bernubuat di dalam Perjanjian Baru.


Kata bernubuat di sini bukan terutama berarti meramalkan masa depan. Di dalam konteks jemaat Korintus, bernubuat berarti menyampaikan pesan yang berasal dari Allah untuk membangun jemaat.


Dalam bagian ini, Paulus menekankan fungsi perkataan, yaitu menyampaikan pesan yang dapat dimengerti oleh jemaat, sehingga jemaat memperoleh penguatan.


Mereka dikuatkan, mendapatkan nasihat, dan menerima penghiburan.

Itu sebabnya, pada ayat 3 Rasul Paulus menekankan siapa orang yang bernubuat itu:


14:3 Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.


Inilah prinsip dan tujuan utama pelayanan rohani, yaitu menghasilkan pembangunan rohani.


Kita perlu ingat bahwa pelayanan yang kita lakukan mungkin memang sangat mengesankan.


Akan tetapi, jika pelayanan itu tidak membangun iman jemaat, kita perlu bertanya kembali: apakah kita sudah memahami tujuan pelayanan?


Paulus bahkan berkata di dalam ayat 4:


14:4 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.


Dalam hal ini, Paulus tidak sedang mengatakan bahwa membangun diri sendiri itu selalu salah.


Di dalam konteks jemaat atau ibadah bersama, perhatian kita tidak boleh terfokus semata-mata pada kepentingan diri sendiri, melainkan harus diarahkan kepada kepentingan seluruh tubuh Kristus.


Jadi, ketika kita berkumpul sebagai jemaat, pertanyaannya bukan apa yang saya dapatkan, melainkan apa yang saya berikan.


Bukan sekadar bertanya apakah saya diberkati, tetapi apakah melalui saya orang lain dibangun dan diberkati.


Inilah yang harus menjadi fokus utama dalam kehidupan dan pelayanan kita sebagai orang percaya.


Dunia mungkin mengajarkan kita untuk selalu bertanya, setiap kali melakukan sesuatu, apakah hal itu menguntungkan bagi diri kita.


Sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa pertanyaan kita bukanlah apa untungnya bagi saya. Injil mengajarkan kita untuk bertanya, “Bagaimana saya dapat menjadi berkat bagi orang lain?”


Kristus sendiri telah memberikan teladan. Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya bagi banyak orang.


Inilah dasar yang paling utama dalam pelayanan kita sebagai orang percaya.


Kita harus sadar bahwa kita tidak melayani supaya Allah mengasihi kita. Kita melayani karena di dalam Kristus kita telah lebih dahulu menerima kasih karunia Allah.


Kristus tidak datang karena kita layak, tetapi Ia datang ketika kita masih berdosa.


Ia memberikan diri-Nya di kayu salib untuk menanggung hukuman dosa kita. Oleh sebab itu, pelayanan kita bukanlah usaha untuk mendapatkan penerimaan Allah.


Pelayanan kita adalah respons syukur karena kita telah menerima keselamatan melalui anugerah Allah.


Jadi, ketika Tuhan memberikan karunia kepada kita, kita tidak lagi berkata, “Lihatlah betapa hebatnya saya,” hanya karena karunia itu luar biasa.


Sebaliknya, kita seharusnya dapat berkata, “Lihatlah betapa baiknya Tuhan yang telah memberikan anugerah dan karunia ini kepada saya.”


Ketika kita melayani Tuhan dalam bagian apa pun, entah menurut kita kecil, sedang, ataupun besar, ingatlah bahwa kita memiliki satu tujuan yang jelas.


Supaya melalui pelayanan itu orang dapat mengenal Allah, mengerti Injil, bertumbuh di dalam iman, dan hidup semakin menyerupai Kristus.


Jika inilah yang menjadi tujuan pelayanan kita, maka ukuran keberhasilan pelayanan bukan lagi seberapa banyak orang melihat kita atau seberapa banyak orang memuji kita.


Tolok ukur kita adalah seberapa banyak orang, melalui pelayanan kita, dapat menemukan Kristus.


Sehingga mereka dibangun di dalam Kristus dan bertumbuh di dalam iman. Inilah yang harus menjadi tujuan kita dalam melayani Tuhan.


Bersyukurlah jika Saudara memiliki banyak karunia, ataupun sekalipun karunia yang Saudara miliki tidak begitu banyak.


Ingatlah bahwa semuanya itu memiliki tujuan, yaitu supaya kita dapat saling membangun di dalam tubuh Kristus.


Oleh sebab itu, “Mari layani Tuhan, saling membangun yang membawa kita untuk semakin menyerupai Yesus Kristus dan semakin memuliakan nama-Nya.”


Doakan dan renungkan


* Siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.


* Inilah prinsip dan tujuan utama pelayanan rohani, yaitu membangun iman jemaat.


Saling Membangun