Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Kamis, 22 Oktober 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

I Korintus 13:1-13

Kasih


Kita melanjutkan perenungan firman Tuhan hari ini, dari I Korintus 13 di bawah ini:


I Korintus 13:1-13 Kasih


1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.


2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.


3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.


4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.


5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.


6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran.


7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.


8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.


9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.


10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.


11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.


12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.


13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.


Yang menjadi fokus kita, yaitu ayat ke-13, ayat terakhir yang tadi kita bacakan, mengatakan:


Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.


Saudara, di zaman ini, melalui media sosial, banyak orang berlomba-lomba menampilkan kemampuan, talenta, atau karunianya.


Kita melihat begitu banyak orang yang ternyata memiliki banyak karunia, dan banyak talenta. Semakin banyak karunia atau talenta yang dimiliki, maka kita semakin kagum.


Contohnya, ketika kita melihat ada orang yang bisa melukis dengan luar biasa, tetapi juga bisa bermain musik, juga bisa menari, wah kita akan sangat kagum.


Bagi orang-orang yang memiliki banyak karunia dan talenta seperti ini, pasti akan semakin banyak pujian yang didapatkan, dan semakin dianggap memiliki keberhasilan dengan cepat dan baik.


Hal ini ternyata bukan hanya terjadi di dunia sekuler, tetapi juga seringkali menjadi tolak ukur seseorang dalam melayani Tuhan di gereja.


Banyak orang beranggapan, bahwa orang yang banyak karunia dan talenta, itulah yang luar biasa, sehingga dipercayakan begitu banyak hal.


Tetapi menarik sekali, bacaan dalam I korintus 13 ini, membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang lebih mendalam.


Apa gunanya semua yang kita miliki, jika kita tidak memiliki kasih?


Pasal yang kita baca tadi, yaitu pasal 13, sering disebut sebagai pasal kasih, karena pasal ini sering dibacakan ketika ada pernikahan, di acara pemberkatan yang berlangsung.


Akan tetapi, sebenarnya di sini Paulus tidak sedang menulis sebuah puisi yang romantis.


Justru, bagian ini sebenarnya merupakan sebuah teguran yang sangat keras sekali kepada jemaat Korintus, yang mana mereka adalah jemaat yang punya banyak karunia, punya banyak talenta gereja yang luar biasa, jemaat yang luar biasa di dalam pelayanan.



Mereka hebat. Tetapi, dalam kehidupan mereka, rasul Paulus menemukan, mereka dipenuhi dengan kesombongan dan persaingan. Bahkan celakanya, terjadi perpecahan di sana.


Dalam pasal sebelumnya, pasal 12, Paulus berbicara mengenai berbagai karunia. Ada orang yang memiliki karunia tertentu, ada yang memiliki karunia yang berbeda.


Tetapi, di tengah-tengah semua keberagaman itu, Paulus menunjukkan, bahwa ada sesuatu yang jauh lebih utama dari sekedar memiliki berbagai macam talenta.


Itu sebabnya di akhir pasal 12, rasul Paulus mengatakan, bahwa ia akan menunjukkan kepada mereka jalan yang lebih utama lagi. Jalan yang dimaksudkan rasul Paulus itu adalah jalan kasih.


I Korintus 12:31

Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.


Jika kita juga memperhatikan dalam memulai pasal 13, rasul Paulus mengatakan ayat di bawah ini:


I Korintus 13:1

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.


Artinya, suaranya bisa terdengar dengan begitu keras, lantang, tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang dapat membangun.


Rasul Paulus menegaskan, bahwa tidak ada gunanya memiliki banyak karunia, bahkan memiliki banyak pengetahuan tentang Alkitab, jika semuanya itu tidak digerakkan oleh kasih. Jika semuanya itu, tidak didasari oleh kasih.


Bahkan pada ayat 3, Paulus mengatakan, bahwa sekalipun seseorang memberikan seluruh miliknya kepada orang miskin dan menyerahkan tubuhnya untuk dibakar, tetapi tanpa kasih, semuanya tidak ada gunanya.


Sebab Allah tidak hanya melihat apa yang kita lakukan. Tetapi, Allah melihat apa yang menggerakkan hati kita melakukan hal itu. Apa yang menjadi motivasi hati kita?


Jika kita digerakkan untuk melakukan semuanya, atau segala sesuatu dengan luar biasa, namun bukan karena kasih, sekalipun yang kita lakukan itu kelihatannya begitu rohani, bahkan dipuji orang begitu rupa, sebenarnya kita sedang mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri.


Dan itu menjadi suatu hal yang sia-sia di mata Tuhan. Oleh karena itu, persoalan terbesar kita bukan hanya kurang melakukan sesuatu yang baik.


Persoalan kita adalah hati yang masih sering berpusat kepada diri kita sendiri. Kita harus sadar, bahwa dosalah yang membuat manusia berpusat kepada diri sendiri.


Tetapi, Injil Kristus membawa kita untuk melihat Kristus, yang justru memberikan diri-Nya bagi orang berdosa.


Itulah sebabnya, ketika Paulus menjelaskan tentang kasih di sini, kita dibawa kembali untuk melihat gambaran yang sangat indah tentang karakter Kristus.


Di dalam Kristus, kita dapat menemukan keindahan kasih yang sejati. Itulah yang seharusnya dimiliki oleh orang yang percaya kepada-Nya, yang telah menerima kasih karunia-Nya.


Itu sebabnya, Paulus memaparkan dengan begitu rinci tentang kasih itu seperti apa. Rincian yang luar biasa tentang bagaimana kasih itu seharusnya dimiliki atau dihidupi dalam kehidupan kita.


Sebagaimana kasih telah dinyatakan Kristus bagi setiap kita.


I Korintus 13:4-7


4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.


5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.


6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran.


7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.


Lalu kemudian, kita perhatikan Paulus membawa kita kepada sesuatu yang jauh lebih besar. Dia mengatakan kasih itu tidak berkesudahan.


Di sini Paulus mau menyadarkan jemaat Korintus dan setiap kita, bahwa karunia-karunia ada batasannya, ada waktunya, pengetahuan kita bisa terbatas, kemampuan kita bisa terbatas juga, kehidupan kita di dunia juga terbatas.


Tetapi menariknya, kasih ini satu-satunya yang memiliki dimensi kekekalan. Kasih inilah, yang tidak akan pernah berkesudahan. Kasih tidak akan pernah lenyap.


Karena itu, Paulus mengatakan dalam ayat 12, bahwa sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi kelak kita akan melihat muka dengan muka.


Sekarang kita mengenal dengan tidak sempurna, tetapi kelak, kita akan mengenal dengan sempurna.


Di sini Paulus mau mengingatkan, bahwa di dunia ini, kita belum melihat semuanya dengan jelas.


Kita masih bergumul, kita semua masih belajar, kita masih jatuh dan bangun dalam kehidupan kita.


Tetapi, ada pengharapan yang sangat luar biasa, bahwa suatu hari Kristus akan datang kembali dan kita akan berada bersama dengan Kristus dalam kesempurnaan.


Karena itu, Paulus menutup dengan kalimat yang sangat luar biasa, dan sangat terkenal, bahkan mungkin kita sudah hapal, yaitu:


I Korintus 13:12-13

12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.


13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.


Mengapa kasih yang disebut paling besar?


Karena, iman akan mencapai tujuannya, ketika kita melihat Kristus. Pengharapan akan digenapi, ketika kita menikmati kemuliaan yang dijanjikan bagi kita. Tetapi, kasih tidak berakhir.


Kasih inilah yang menjadi karakter kehidupan kekal bersama Allah di dalam rumah Allah kelak, yang akan kita nikmati dan terus kita rasakan.


Itu sebabnya firman Tuhan mengingatkan, bahwa kita harus memiliki kasih dalam kehidupan kita.


Ini bukan sekedar mengajak kita supaya kita menjadi orang yang lebih baik, lebih ramah kepada orang lain, lebih punya kasih.


Akan tetapi, ini adalah panggilan bagi kita untuk melihat kembali, bahwa inilah yang menjadi tujuan Allah bagi kita semua, yaitu memiliki kasih. Hidup dalam kasih.


Itu sebabnya, kita perlu bertanya dalam kehidupan kita dengan pertanyaan sebagai berikut:


1. Apakah kehidupan saya sungguh-sungguh telah merasakan kasih Kristus itu dalam kehidupan kita?


Karena ada banyak orang yang sekedar menjadi percaya atau mungkin bisa disebut sebagai orang Kristen, tetapi sebenarnya belum sungguh-sungguh mengalami dan merasakan kasih Kristus yang sejati dalam kehidupannya.


Kasih bukan hanya sesuatu yang kita lakukan, tetapi kasih adalah sesuatu yang seharusnya semakin menjadi karakter dalam kehidupan kita.


Di mana dengan kasih itulah, yang akan terus membawa kita semakin serupa dengan Krsitus


Itu sebabnya kita perlu bertanya dan melihat dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, dengan pertanyaan selanjutnya ini:


2. Apakah sekian lama saya mengikut Kristus, saya sudah sungguh-sungguh menghidupi kasih itu, merasakan kasih itu, dan benar-benar mengalami kasih itu dalam kehidupan saya?


Sebab, jika kita sungguh-sungguh mengalami kasih, maka ketika kita ada di dalam rumah, menghadapi keluarga, akhirnya kita dituntut untuk belajar sabar.


Kita akan dengan mudah untuk benar-benar menerapkan kasih dengan kesabaran kita.


Ketika kita melayani Tuhan, kita bertemu dengan orang-orang yang tidak mudah.


Namun, akhirnya kita bisa belajar untuk saling memaafkan, saling mengampuni, saling membangun, saling menerima, saling menguatkan satu dengan yang lain di dalam kasih Kristus.


Bahkan dalam seluruh kehidupan, dalam pekerjaan, usaha, atau relasi kita dengan orang-orang lain.


Sekalipun kita menghadapi keadaan yang sulit, entah kita terluka, atau tidak dihargai, atau mungkin kita menghadapi kondisi yang memang sulit untuk kita hadapi, maka bersabarlah.


Oleh karena ada kasih Kristus, kasih yang besar itulah, yang akan terus memampukan kita, dan menolong sehingga kita memiliki satu kehidupan yang dapat terus menyatakan kasih Tuhan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita.


Dengan demikian, melalui kehidupan kita, orang dapat menemukan kasih Kristus.


Pesan firman Tuhan bagi kita:


Oleh karena itu, jika Saudara memiliki banyak karunia dan talenta, bersyukurlah untuk hal ini, dan ingatlah, bahwa:


1. Yang lebih utama, dan yang lebih penting dari semuanya yang kita miliki, kita harus mendasarinya dengan kasih.


Kejarlah kasih yang paling utama, sehingga melalui hidup kita, nama Tuhan dimuliakan dan orang dapat berjumpa dengan kasih Kristus melalui kehidupan kita.


2. Mintalah pertolongan Tuhan supaya kita dapat terus hidup dalam kasih-Nya, sehingga kita sebagai orang percaya dapat terus saling mengasihi, dan mengasihi semua orang yang ada di dalam kehidupan kita.


Doakan dan renungkan


*Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.


* Iman dan Pengharapan akan digenapi, ketika kita menikmati kemuliaan yang dijanjikan Tuhan. Tetapi kasih menjadi karakter kehidupan kekal bersama Allah selamanya.


Kasih Tak Berkesudahan