Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 20 Oktober 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

1 Korintus 11 : 17-34

Kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam perjamuan malam

1 Korintus 11 : 17-34


17 Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.


18 Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.


19 Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.


20 Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.


21 Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk.


22 Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji.


23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti


24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"


25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"


26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.


27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.


28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.


29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.


30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.


31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.


32 Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.


33 Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.


34 Kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu berkumpul untuk dihukum. Hal-hal yang lain akan kuatur, kalau aku datang.


Apa persamaan dan perbedaan antara orang yang datang ke gereja dengan orang yang datang untuk beribadah?


Persamaannya adalah mereka hadir secara fisik di dalam gedung gereja, duduk mengikuti liturgi, menyanyi bersama, mendengarkan Firman Tuhan, bahkan mengambil bagian dalam perjamuan kudus atau perjamuan Tuhan.


Perbedaannya terletak pada hati. Orang yang datang ke gereja memang hadir secara fisik, tetapi hatinya sebenarnya tidak sedang mencari atau menghormati Tuhan.


Mungkin ia hanya sekadar mengisi kehadiran karena merasa, “Saya datang ke gereja karena saya orang Kristen.”


Sementara itu, orang yang beribadah bukan hanya sekadar hadir, tetapi juga memiliki kerinduan untuk mencari Tuhan, berjumpa dengan Tuhan, mengalami Tuhan, dan menghormati Tuhan di dalam ibadah.


Di dalam jemaat Korintus, terjadi persoalan seperti ini. Mereka berkumpul sebagai jemaat Tuhan, tetapi Rasul Paulus berkata bahwa pertemuan mereka justru mendatangkan keburukan, bukan kebaikan.


Hal itu dapat kita lihat dalam ayat 17. Di sana, Rasul Paulus berkata, “Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.”


Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena di tengah persekutuan yang seharusnya menjadi tempat untuk menyatakan kasih Kristus, justru terjadi permusuhan dan perpecahan.


Mereka mementingkan diri sendiri, bersikap egois, dan tidak peduli terhadap sesama anggota jemaat.


Inilah salah satu bukti bahwa mereka hanya sekadar datang ke gereja, bukan sungguh-sungguh datang untuk beribadah kepada Tuhan.


Itulah sebabnya Rasul Paulus menegur mereka. Paulus menemukan bahwa mereka melakukan perjamuan Tuhan, tetapi cara mereka melakukannya justru bertentangan dengan makna perjamuan Tuhan itu sendiri.


Dalam ayat 20, Paulus berkata, “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.” Ini merupakan teguran yang sangat keras.


Sebelumnya, dalam ayat 17, Paulus sudah mengatakan bahwa ia tidak dapat memuji mereka.


Jadi, melalui ayat 20, Paulus menegaskan bahwa mereka merasa sedang melakukan sesuatu yang rohani, tetapi cara hidup mereka justru menyangkal dan bertentangan dengan apa yang sedang mereka rayakan di dalam ibadah.


Perjamuan Tuhan harus dipahami bukan hanya sebagai kegiatan makan roti dan minum dari cawan.


Perjamuan Tuhan merupakan tindakan iman untuk mengingat dan memberitakan karya keselamatan Kristus.


Itulah sebabnya, dalam ayat 24, Paulus kembali mengulang perkataan Tuhan Yesus, yaitu, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”


Kemudian, dalam ayat 25, Paulus kembali mengulang perkataan Tuhan Yesus dengan berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”


Di sini jelas bahwa Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa ketika mereka melakukan perjamuan Tuhan dan menerima roti serta cawan, atau roti dan anggur, mereka sedang memperingati tubuh Kristus yang diserahkan dan darah Kristus yang dicurahkan bagi pengampunan dosa.


Artinya, perjamuan Tuhan seharusnya mengarahkan umat Tuhan kepada karya Kristus di atas kayu salib.


Itulah sebabnya, dalam ayat 27, Paulus memberikan peringatan yang serius dengan berkata, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.”


Apa yang dimaksud Rasul Paulus dengan ungkapan “cara yang tidak layak” dalam bagian ini?


Paulus tidak mengatakan bahwa hanya orang yang hidupnya sempurna dan sangat rohani yang boleh mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan.


Jika itu yang menjadi syaratnya, tidak ada seorang pun yang bisa mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan.


Yang ditegur Paulus adalah sikap hati dan cara hidup yang tidak menghormati makna tubuh Kristus serta tidak menghargai sesama orang percaya.


Masalah jemaat Korintus bukan karena mereka kurang memahami tata cara perjamuan Tuhan. Masalahnya adalah mereka tidak memahami tubuh Kristus sebagai komunitas umat Allah.


Kita menemukan bahwa ada orang yang makan terlebih dahulu sampai kenyang, sementara yang lain berkekurangan.


Ada yang mabuk, sementara yang lain tidak mendapatkan apa-apa. Orang-orang kaya bahkan mempermalukan orang-orang miskin.


Seharusnya, ketika mereka datang ke meja perjamuan, mereka menyatakan kesatuan di dalam tubuh Kristus.


Namun, Rasul Paulus justru menemukan bahwa mereka membawa kesombongan sehingga perpecahan terjadi di meja perjamuan itu.


Inilah ironi yang sangat besar. Mereka sedang makan roti yang melambangkan satu tubuh Kristus, tetapi mereka tidak hidup sebagai satu tubuh.


Karena itu, dalam ayat 29, Paulus mengatakan bahwa mereka yang makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri.


Dengan kata lain, perjamuan Tuhan tidak boleh dipisahkan dari kehidupan kita sebagai tubuh Kristus, yaitu kehidupan yang mencerminkan kesatuan di dalam tubuh Kristus.


Itulah sebabnya Paulus melanjutkan nasihatnya dalam ayat 28 dengan berkata, “hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.”


Di sini Paulus menegaskan bahwa setiap anggota jemaat tidak boleh hanya berfokus memperhatikan atau menilai orang lain, lalu berkata, “Orang itu tidak layak mengikuti perjamuan Tuhan.”


Sebaliknya, setiap orang hendaknya menguji dirinya sendiri. Jadi, penekanan Paulus adalah memeriksa diri dan hati kita sendiri di hadapan Tuhan.


Inilah yang harus kita lakukan, bukan mencari kesalahan atau menilai orang lain. Dengan demikian, perjamuan yang kita lakukan dapat berkenan di hadapan Tuhan.


Apa yang terjadi dalam kehidupan jemaat Korintus seharusnya menjadi peringatan bagi kita sebagai orang percaya.


Kita tidak boleh datang ke meja Tuhan atau mengikuti perjamuan kudus karena merasa, “Saya layak dan saya berkenan kepada Tuhan.”


Kita harus menyadari bahwa kita datang karena Kristus telah membuka jalan bagi kita, orang berdosa, untuk datang kepada Allah.


Itulah sebabnya, ketika menerima roti dan anggur, kita harus menerimanya dengan hati yang penuh syukur kepada Tuhan.


Kita sadar bahwa hanya karena kasih karunia Tuhanlah kita dapat memperoleh keselamatan.


Tuhanlah yang melayakkan kita untuk menerima roti dan anggur itu. Kita tidak boleh berkata, “Kelayakan itu ada pada diri saya sehingga saya boleh menerimanya. Saya lebih layak daripada orang itu.”


Ingatlah, tidak ada seorang pun yang layak atas dirinya sendiri. Kita semua sama di hadapan Tuhan, yaitu orang berdosa yang menerima kasih karunia Allah.


Itulah sebabnya perjamuan kudus seharusnya menghasilkan kerendahan hati karena kita menyadari siapa diri kita di hadapan Tuhan.


Kita adalah manusia yang tidak layak, tetapi dilayakkan untuk menerima perjamuan Tuhan.


Karena itu, ingatlah bahwa perjamuan kudus bukanlah meja bagi orang yang merasa dirinya sempurna.


Perjamuan kudus atau perjamuan Tuhan adalah meja yang mengingatkan kita bahwa keselamatan kita sepenuhnya bergantung kepada Kristus.


Tubuh Kristus yang diserahkan dan darah Kristus yang telah tercurah itulah yang menyucikan kita dari dosa dan melayakkan kita menerima anugerah keselamatan.


Ketika menerima roti dan anggur, hendaklah kita melakukannya dengan sikap hati yang benar di hadapan Tuhan.


Kita harus datang dengan hati yang mengasihi Tuhan, penuh kerendahan hati menyadari siapa kita, serta penuh rasa syukur dan hormat kepada Tuhan.


Dengan demikian, perjamuan kudus itu sendiri dapat menjadi berkat bagi kita dan menyenangkan hati Tuhan.


Kiranya Tuhan menolong kita untuk benar-benar datang ke gereja bukan hanya sekadar hadir, melainkan sungguh-sungguh datang untuk beribadah kepada Tuhan.


Biarlah kita menikmati undangan perjamuan Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh bersyukur kepada-Nya.


Doakan dan renungkan


* Rasul Paulus menemukan bahwa jemaat di Korintus membawa kesombongan sehingga perpecahan terjadi di meja perjamuan.


* Inilah ironi yang sangat besar. Mereka makan roti yang melambangkan satu tubuh Kristus, tetapi mereka tidak hidup sebagai satu tubuh.


Cerminan Tubuh Kristus