Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
1 Korintus 11:1-16
Israel sebagai suatu peringatan (part 3); Hiasan kepala wanita
Renungan firman Tuhan hari ini terambil dari:
1 Korintus 11:1-16
1 Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.
2 Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.
3 Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.
4 Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya.
5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.
7 Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.
8 Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.
9 Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
10 Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.
11 Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.
12 Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.
13 Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?
14 Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang,
15 tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.
16 Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun Jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian.
Renungan hari ini akan terfokus pada ayat 1: “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita saat kita mendengar kata “teladan”? Mungkin teladan berasal dari seseorang yang hidupnya layak dicontoh karena tidak hanya berkata dengan baik, namun apa yang dilakukan sesuai dengan apa yang dikatakan.
Hal ini membuat kita beranggapan bahwa menjadi teladan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang sudah sangat rohani, contohnya para rohaniwan atau pelayan gereja.
Melalui bacaan firman Tuhan hari ini, ketika rasul Paulus berbicara tentang teladan pada ayat pertama, ia tidak berkata, “Ikutilah aku karena aku sempurna”, atau “Ikutilah aku karena aku layak menjadi teladan”.
Namun ia berkata, “Ikutilah aku sejauh aku mengikuti Kristus.”
Apa yang Paulus katakan memberi kita suatu pemahaman bahwa teladan orang percaya itu bukanlah mengarahkan orang lain kepada dirinya sendiri, melainkan melalui kehidupannya mengarahkan orang lain kepada Kristus.
Kehidupan orang percaya memiliki dimensi yang dapat dilihat. Iman sejati tidak berhenti pada pengakuan dalam hati bahwa kita adalah orang percaya dan beriman.
Sebaliknya, iman tersebut harus diwujudkan melalui kehidupan yang dapat dilihat dan diamati oleh orang lain.
Setiap hari orang di sekitar kita belum tentu membaca Alkitab, namun mereka dapat membaca kehidupan kita setiap hari. Oleh karena itu, sebagai orang percaya kita harus bisa menjadi teladan.
Melalui firman ini, kita diingatkan untuk menyatakan iman kita melalui kehidupan sehari-hari agar kita dapat menjadi teladan.
Beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan agar kita bisa menjadi teladan:
1. Teladan dimulai dari siapa yang kita ikuti, yaitu mengikuti teladan Kristus;
Kita tidak mungkin menjadi teladan yang benar jika kita tidak memiliki teladan yang benar.
Seperti yang dikatakan Paulus pada ayat pertama, sumber keteladanan Paulus bukanlah dirinya sendiri, melainkan berasal dari Kristus.
Bagi Paulus, keteladanan bukan kekuatan moral atau kebaikan manusia, melainkan karena karya Kristus yang mengubah manusia.
Sebagai manusia berdosa, kita tidak mungkin bisa menjadi teladan. Namun, di dalam Kristus, kita menerima identitas baru karena anugerah Allah.
Oleh karena itu, keteladanan orang percaya selalu berjalan bersama dengan kerendahan hati.
Pengikut Kristus yang sejati tidak akan menunjukkan diri hebat dengan berpura-pura menjadi orang baik hanya untuk menampilkan sesuatu yang terlihat mengagumkan.
Sebaliknya, kita akan disadarkan bahwa apa yang ada di dalam diri kita merupakan pemberian Allah.
Oleh karena itu, perkataan, tindakan, dan seluruh aspek kehidupan kita seharusnya diarahkan agar orang lain dapat menemukan Kristus melalui hidup kita.
Kesadaran ini membuat kita semakin mengenal Kristus dan rindu agar Kristus terlihat melalui hidup kita.
Dengan demikian, sebagai orang percaya, teladan yang kita ikuti bukan berasal dari diri sendiri, melainkan dari Kristus, sehingga melalui hidup kita, orang lain dapat melihat Kristus.
2. Teladan itu terlihat dari cara kita hidup;
Mulai ayat 2 dan seterusnya, Paulus membahas persoalan spesifik dalam jemaat Korintus, seperti tatanan kepala dan tata cara beribadah bagi perempuan dan laki-laki.
Kita perlu berhati-hati saat membaca bagian ini, karena Paulus tidak sedang mengajarkan bahwa nilai seorang laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.
Sebaliknya, Paulus mengajarkan bagaimana umat Tuhan menjalani kehidupan dan ibadah dengan menghormati ketetapan yang Tuhan berikan.
Prinsip yang dapat kita ambil adalah bahwa iman yang benar akan terlihat melalui cara kita menjalani kehidupan bersama orang lain.
Teladan tidak hanya ditunjukkan ketika kita berada di gereja, melainkan juga dalam kehidupan keluarga kita, melalui cara kita berbicara dan memperlakukan pasangan serta anggota keluarga, maupun ketika kita bekerja dan menghadapi orang yang berbeda pendapat.
Ketika kita berada di tempat yang tidak terlihat oleh orang lain, apakah kita tetap melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan? Melalui hal-hal tersebut, kualitas iman kita akan terlihat.
Oleh karena itu, sebagai orang percaya, kita harus menjadi teladan dalam seluruh aspek kehidupan.
Tidak hanya terlihat rohani di gereja, tetapi yang sungguh Tuhan kehendaki adalah teladan melalui seluruh kehidupan kita.
3. Teladan yang kita berikan bukan untuk mencari perhatian, tetapi untuk memuliakan Tuhan.
Paulus mengarahkan jemaat agar dalam kehidupan ibadah mereka tidak menjadi sumber kekacauan atau mempermalukan orang lain.
Hal ini mengajarkan dan menegaskan bahwa kehidupan Kristen bukan berpusat pada apa yang saya mau, tetapi apa yang memuliakan Tuhan dan dapat membangun orang lain.
Dunia saat ini sering mengajarkan dan menggemakan pentingnya mengutamakan kenyamanan diri sendiri.
Sebagai orang percaya, kita jangan bertanya “Apa yang membuat saya nyaman?” melainkan “Apakah hidup saya menyenangkan Tuhan?”
Teladan orang percaya bukanlah untuk mendapatkan pujian dari sesama atas kehidupan kita, melainkan untuk membuat orang melihat Kristus melalui seluruh aspek kehidupan kita.
Teladan kita tidak berpusat pada popularitas, melainkan pada ketaatan dan kesetiaan kita untuk melakukan kehendak Tuhan setiap hari.
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Kita melakukan yang benar dan menjadi teladan karena kita mengasihi dan menghormati Tuhan.
2. Sekalipun tidak ada yang memuji kita, kita harus tetap setia dan hidup benar.
Ketika kebaikan kita tidak dihargai atau dibenci orang, mari kita tetap mengasihi.
Sebab teladan yang sejati tidak mengejar pandangan manusia, tetapi mengarahkan pandangan kepada Kristus.
Kiranya melalui hidup kita, orang dapat menemukan jalan yang membawa mereka kepada Kristus dan nama Tuhan dapat dimuliakan melalui keteladanan kita.
Doakan dan renungkan
* Bagi Paulus, keteladanan bukan karena kekuatan moral atau kebaikan manusia, melainkan karena karya Kristus.
* Keteladanan orang percaya mengarahkan orang lain bukan kepada dirinya, melainkan melalui kehidupannya mengarahkan orang lain kepada Kristus.
1 Tujuan, bagi Kristus