Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
v
1 Korintus 9:19-27
Hak Dan Kewajiban Rasul (Part 2)
Hari ini kita akan kembali melanjutkan perenungan firman Tuhan kita dari:
1 Korintus 9:19-27
9:19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
9:20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
9:24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.
9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
Demikian pembacaan firman Tuhan kita pada hari ini.
Ayat 19 akan menjadi fokus kita yang berkata demikian “Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”
Pernah tidak berjumpa dengan seseorang yang ketika melayani, dia punya satu prinsip yaitu:
orang yang mau bekerja sama dengan saya atau orang yang mau melayani bersama dengan saya, maka orang tersebut harus mengikuti atau menyesuaikan diri dengan saya, harus menerima cara saya, harus sama dengan apa yang saya inginkan.
Saudara, mungkin sebagian kita pernah berjumpa dengan orang yang punya prinsip seperti ini.
Punya pemikiran yang demikian, melayani bersama atau bekerja sama dengan dia, tetapi benar-benar lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri.
Nah, Saudara, hal ini berbeda sekali dengan sikap Rasul Paulus yang menjadikan dirinya justru sebagai hamba.
Dalam 1 Korintus ayat 19 yang kita baca tadi, jelas Rasul Paulus berkata bahwa sungguh pun aku bebas terhadap semua oran, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
Nah, kita semua tahu bahwa Paulus sebagai rasul sebenarnya punya kebebasan.
Dia punya hak, tetapi di sini kita melihat Paulus tidak menggunakan kebebasannya itu untuk memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri atau untuk kepentingan dirinya sendiri.
Tetapi di dalam bagian ini kita melihat bahwa justru Rasul Paulus menggunakan kebebasan yang dia miliki untuk melayani dan memenangkan banyak orang bagi Kristus.
Saudara, di sini kita menemukan bahwa Paulus ini seorang yang rela menjadi segala-galanya demi Injil.
Dalam hal ini bukan berarti Paulus menjadi orang yang tidak memiliki prinsip atau mengikuti keinginan semua orang.
Rasul Paulus dalam hal ini tidak mengajarkan kompromi terhadap suatu kebenaran yang diyakini atau yang diterima oleh banyak orang.
Dia sedang mengajarkan satu kerelaan, untuk apa? Menyesuaikan diri dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan Injil, dengan tujuan supaya Injil dapat diterima dan Kristus dapat dikenal.
Nah, Saudara, di sini kita lihat bahwa Paulus rela menyesuaikan diri demi memenangkan orang.
Dalam ayat 20 sampai 22, Rasul Paulus mengatakan beberapa kali dia menggunakan ungkapanmenjadi seperti.
Kepada orang Yahudi dia katakan ia menjadi seperti orang Yahudi. Kepada mereka yang hidup dibawa hukum Taurat, ia menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat.
Kepada mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, ia menjadi sepertiorang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Kepada yang lemah, dia katakan kembali, ia menjadi seperti orang lemah.
Kemudian Paulus melanjutkan mengatakan, "Bagi semua orang, aku telah menjadi segala-galanya supaya sedapat mungkin aku memenangkan beberapa orang."
Perhatikan, di sini jelas sekali tujuan Paulus,supaya aku memenangkan.
Di sini Paulus tidak menyesuaikan diri supaya disukai orang, supaya dia bisa mendapatkan keuntungan, atau supaya bisa diterima/menyenangkan orang lain. Akan tetapi, jelas sekali bahwa supaya Injil dapat diberitakan.
Jadi, dia menyesuaikan diri demi Injil. Apa yang dilakukan oleh Paulus ini merupakan prinsip misi dari Kristen yang sangat penting di dalam penginjilan.
Kita harus bisa membedakan antara kebenaran Injil dan cara kita menyampaikan Injil. Kebenaran tidak boleh dikompromikan.
Kristus tetap Tuhan, dosa tetap dosa. Keselamatan hanya melalui kasih karunia Allah di dalam Kristus. Tetapi yang perlu kita sesuaikan adalah cara kita menyampaikan kebenaran itu.
Kita harus sesuaikan dengan orang yang kita layani atau orang yang sedang mendengarkan Injil tersebut.
Contoh: ketika kita berbicara kepada anak-anak tentunya kita menggunakan cara dan bahasa yang dapat dimengerti oleh anak-anak.
Ketika kita juga berada di generasi yang lebih muda atau generasi yang lebih tua atau generasi tertentu, yang berbeda dengan generasi kita, tentunya kita juga harus menggunakan bahasa atau cara yang dapat dimengerti oleh generasi tersebut.
Kita harus memperhatikan budayanya, latar belakang, pengalaman, pergumulan seseorang. Jadi, jelas di sini, Saudara, bukan Injil yang kita ubah, ya. Injil tidak bisa kita ubah.
Akan tetapi yang perlu untuk kita belajar adalah menyesuaikan diri supaya Injil itu dapat dimengerti dan Kristus dapat dikenal.
Itu sebabnya, Paulus dapat berkata bahwa dia bebas terhadap semua orang. Dalam ayat 19 Paulus jelas berkata, "Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang."
Jelas ya, Saudara, bahwa Paulus tidak menggunakan kebebasan atau haknya sebagai seorang rasul, untuk mementingkan dirinya sendiri.
Dalam pelayanan Paulus tetap memilih untuk menjadi hamba bagi semua orang. Apa yang Rasul Paulus lakukan ini jelas karena dia mengikuti teladan yang Kristus berikan.
Kita tahu bahwa Kristus yang adalah Tuhan. Tetapi Dia mengambil rupa seorang Hamba. Dia memiliki kemuliaan, tetapi Dia rela untuk merendahkan diri.
Bahkan dia memberikan hidupnya bagi manusia berdosa dengan tujuan agar orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Karena itu, Saudara, ketika Paulus berkata, "Aku menjadikan diriku hamba."
Di sini, Paulus sedang mengikuti teladan Kristus. Paulus tidak hidup untuk dirinya sendiri.
Paulus tidak hidup untuk kesenangan, kepentingan dirinya sendiri. Seluruh hidupnya diarahkan kepada satu tujuan, yaitu supaya Injil diberitakan dan semua orang dapat mengenal siapa Kristus yang sesungguhnya.
Nah, Saudara, sekarang bagaimana dengan kehidupan kita, dalam pelayanan kita?
Apakah kebebasan yang kita miliki saat ini untuk melayani kita gunakan untuk berpusat kepada diri kita sendiri atau berpusat kepada Kristus, kepada Injil Kristus itu sendiri.
Jika Injil sungguh-sungguh menjadi pusat hidup kita, maka kita akan mulai bertanya, "Tuhan, bagaimana saya dapat menjadi berkat bagi orang lain?
Bagaimana saya dapat menyampaikan kasih Kristus dengan cara yang dapat dimengerti orang tersebut?
Apa yang dapat saya korbankan supaya orang lain memiliki kesempatan untuk mendengar Injil?
Saudara, kita perlu sadar bahwa dalam pelayanan mungkin kita memiliki cara yang kita sukai, cara yang kita inginkan.
Tetapi dalam melayani Tuhan bukan cara yang kita inginkan atau cara yang kita sukai.
Tetapi apakah kita benar-benar rela untuk belajar beradaptasi dengan cara yang dapat menolong orang lain untuk mengenal Kristus.
Ingatlah bahwa Kristus telah memberikan dirinya bagi kita. Karena itumari belajar untuk menyesuaikan diri dan memberikan diri kita bagi pekerjaan Injil.
Sehingga ketika orang lain melihat kehidupan kita, mereka bukan hanya melihat seseorang yang aktif melayani, aktif memberitakan Injil.
Tetapi melihat seseorang yang hatinya berkata, "Aku rela menyesuaikan diri. Aku rela menjadi hamba agar melalui hidupku, melalui pelayananku, semakin banyak orang dapat menemukan Kristus."
Karena itu,mari kita menggunakan kebebasan kita untuk melayani dan berpusat kepada Kristus.
Sehingga ketika kita memberitakan Injil atau kita menjadi saksi kepada siapapun juga, orang dapat mengenal Kristus melalui kehidupan kita, melalui pemberitaan Injil Tuhan.
Doakan dan renungkan
* Paulus berkata,”Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”
* Paulus bisa membedakan antara kebenaran Injil dan cara menyampaikan Injil. Bagi semua orang dia telah menjadi segala-galanya, supaya dia sedapat mungkin memenangkan mereka.
Demi Injil