Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Kamis, 15 Oktober 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

I Korintus 9:1-18

Hak dan Kewajiban Rasul


Mari kita membaca firman Tuhan di bawah ini:


I Korintus 9:1-18 Hak dan Kewajiban Rasul


1 Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?


2 Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku.


3 Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengeritik aku.


4 Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum?


5 Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?


6 Atau hanya aku dan Barnabas sajakah yang tidak mempunyai hak untuk dibebaskan dari pekerjaan tangan?


7 Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu?


8 Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian?


9 Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!" Lembukah yang Allah perhatikan?


10 Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.


11 Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu?

12 Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus.


13 Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?


14 Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.


15 Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada ...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!


16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.


17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.


18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.



Yang menjadi fokus kita pada ayat 18, dikatakan demikian:


I Korintus 9:18

Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.


“Itu hak saya. Itu bagian saya.” Kalimat ini mungkin kita pernah dengar atau gunakan.


Kalimat ini mau memberikan sebuah penegasan tentang sesuatu yang menjadi hak atau kewenangan saya untuk mendapatkannya, memilikinya, atau melakukannya.


Misalnya, kita mungkin pernah mendengar atau mengatakan: Saya ini berhak lho untuk dihargai. Saya berhak untuk mendapatkan yang terbaik. Saya berhak untuk diperlakukan dengan baik.


Pada dasarnya memang tidak salah untuk memiliki hak atau mengharapkan sesuatu. Tidak ada salahnya.


Namun, perhatikan dalam I Korintus 9 ini. Paulus menunjukkan sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar mempertahankan hak, yaitu kerelaan untuk melepaskan hak demi pelayanan dan kemajuan Injil.


Sebagai seorang rasul, sebenarnya Paulus mempunyai banyak sekali hak. Misalnya, dia berhak mendapatkan dukungan dari jemaat.


Dia berhak makan dan minum dari pelayanan yang dia lakukan. Dia berhak untuk menerima penghargaan atas pekerjaannya atau pelayanannya.


Tetapi, di sini Paulus memilih untuk tidak menggunakan hak-hak tersebut dalam keadaan tertentu. Mengapa?


Bukan karena hak itu salah. Tetapi, karena bagi Paulus, Injil lebih penting daripada kepentingan pribadinya. Berbeda sekali dengan pemikiran banyak orang Kristen saat ini.


Terkadang kita lebih sibuk bertanya, apa yang menjadi hak saya? Daripada bertanya, apa yang dapat saya berikan bagi Tuhan dan bagi orang lain?


Ayat 4-6, di sini Paulus menunjukkan, bahwa seorang rasul sebenarnya memiliki hak untuk mendapatkan dukungan dari jemaat. Dia memberikan beberapa contoh dari kehidupan sehari-hari.


Seperti, seorang prajurit yang tidak berperang dengan biaya sendiri. Orang yang menanam kebun anggur, berhak untuk menikmati hasilnya. Orang yang menggembalakan ternak, berhak mendapatkan bagian dari hasil ternaknya.


Paulus berkata, kalau manusia saja memahami prinsip tersebut, maka terlebih lagi dalam pelayanan Injil, dalam pemberitaan Injil.


Jadi, di sini Paulus tidak mengatakan, bahwa menerima dukungan dalam pelayanan adalah sesuatu yang salah, atau sesuatu yang tidak boleh. Bukan itu maksud Paulus.


Ia bahkan menjelaskan, bahwa orang yang melayani Tuhan berhak untuk mendapatkan dukungan.


Namun kemudian, muncul sesuatu yang lebih luar biasa di ayat 12. Paulus berkata, “Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu.”


Mengapa? Supaya jangan ada sesuatu, yang menjadi penghalang bagi pemberitaan Injil.


Di sinilah kita melihat betapa luar biasanya hati dari seorang rasul seperti Paulus. Hati seorang yang melayani Tuhan


Paulus tidak menjadikan hak pribadinya sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara. Tetapi, ia justru rela membatasi dirinya, jika hal itu membuat Injil semakin maju.


Baginya, Injil yang paling utama. Injil yang paling penting untuk terus dapat diberitakan. Sehingga kemudian, Paulus berkata dalam ayat 15: Tetapi, aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu.


Lalu, ia melanjutkan dengan mengatakan, bahwa ia tidak menulis semuanya itu, supaya memperoleh sesuatu dari jemaat. Tidak.


Ini menunjukkan, bahwa motivasi Paulus dalam pelayanan bukan untuk keuntungan diri sendiri atau keuntungan pribadi.


Ia tidak melayani karena ingin mendapatkan penghargaan. Ia tidak memberitakan Injil supaya ia menjadi seorang yang terkenal atau mendapatkan keuntungan tertentu.


Ia tidak melayani supaya orang berkata, “Wow, hebat, ya! Rasul Paulus sangat luar biasa!”


Tetapi ia memiliki satu tujuan yang paling mulia. Satu tujuan yang paling utama, yaitu supaya Injil diberitakan.


Inilah perbedaan antara pelayanan yang berpusat pada diri sendiri dengan pelayanan yang berpusat kepada Kristus.


Jika pelayanan berpusat pada diri sendiri, kita pasti akan mudah sekali untuk kecewa ketika kita tidak mendapatkan penghargaan dari orang lain.


Kita akan mudah sekali marah, mudah sekali meninggalkan pelayanan kita, ketika kita merasa hak-hak yang seharusnya menjadi milik kita, tidak kita dapatkan.


Oleh karena itu, kita mungkin akan berkata, “Aduh, saya sudah melakukan banyak hal. Tetapi, kenapa tidak ada yang berterima kasih?”


Atau, “Saya sudah berjuang. Saya sudah mati-matian dalam pelayanan. Tetapi, kenapa saya tidak diberikan hak yang seharusnya menjadi bagian saya?”


Akhirnya, kita akan menjadi mudah tersinggung ketika kita tidak mendapatkan posisi yang kita inginkan. Kita mulai banyak menghitung, berapa banyak yang sudah kita lakukan dibandingkan orang lain.


Tetapi, ketika Kristus menjadi pusat pelayanan, maka kita tidak akan melakukan hal-hal seperti tadi. Kita tidak akan berpikir tentang untung rugi, ini menjadi hak saya atau tidak.


Tetapi, ketika kita betul-betul menjadikan Kristus sebagai pusat dalam pelayanan kita, maka kita justru akan bertanya, “Bagaimana melalui hidup saya, Kristus makin dikenal?”


Ini yang seharusnya menjadi pertanyaan kita. Seperti Paulus sendiri, melakukan semua pelayanan itu karena ia berpusat atau menjadikan teladan Kristus menjadi dasar di dalam pelayanannya.


Jadi, di sini Paulus tidak sedang menceritakan/ mengajarkan sesuatu yang asing dari Injil. Apa yang ia lakukan, justru mencerminkan keteladanan Kristus.


Kita tahu bersama, bahwa Kristus, raja di atas segala raja. Kristus memiliki segala hak dan kemuliaan.


Tetapi, Dia rela merendahkan diri-Nya. Bahkan mengambil rupa seorang hamba, dan memberikan diri-Nya bagi kita orang berdosa, bagi semua orang berdosa.


Jadi, ketika Paulus di sini memberikan contoh, bagaimana ia rela melepaskan semua haknya demi Injil, itu bukan karena keinginan dirinya sendiri.


Ia sadar betul, bahwa ia harus meneladani apa yang Kristus sudah lakukan. Apa yang diteladani Kristus dalam hal menanggalkan segala hak-Nya, itu juga terus menjadi bagian yang dihidupinya dalam kehidupannya sebagai seorang rasul.


Dengan demikian, ia sungguh dapat menjadi berkat bagi orang lain. Demikian juga seharusnya dalam pelayanan kita, bahwa Kristus-lah yang harus menjadi teladan kita.


Di dalam melayani, kita pun harus belajar untuk menanggalkan segala hak kita. Jangan sampai kita melayani hanya untuk supaya kita mendapatkan pujian, keuntungan, atau demi kepentingan pribadi kita. Jangan.


Pelayanan yang kita lakukan, seharusnya menjadi sebuah respon syukur kita, terhadap kasih karunia yang telah diberikan kepada kita.


Ingat, bahwa karena Kristus melepaskan haknya, itulah yang membuat kita boleh memperoleh keselamatan, memperoleh kasih karunia yang begitu besar.


Itu sebabnya, dalam melayani, sekalipun kita tidak dihargai orang, sekalipun kita tidak mendapatkan sesuatu yang seharusnya diberikan kepada kita, jangan kecewa, jangan marah, jangan menuntut.


Sebab upah yang seharusnya kita nantikan adalah upah yang akan diberikan Kristus bagi kita. Hak, yang akan diberikan, akan dinyatakan oleh Kristus bagi kita.


Dengan demikian, saat melayani Tuhan, kita akan melayani seperti rasul Paulus.


Melayani, demi supaya Injil diberitakan. Melayani, demi supaya orang dapat melihat Kristus melalui pelayanan kita. Bukan untuk melihat betapa hebatnya kita dalam melayani Tuhan.


Karena itu, mari kita mengingat, bahwa pelayanan yang sejati bukanlah tentang seberapa hak yang berhasil kita pertahankan, tetapi seberapa rela kita memberikan diri kita bagi Kristus, untuk orang lain, dan bagi kemuliaan nama Tuhan.


Doakan dan renungkan


* Paulus berkata, “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.”


* Terkadang orang lebih sibuk bertanya, “Apa yang menjadi hak saya?” Daripada, “Apa yang dapat saya berikan bagi Tuhan dan bagi orang lain.”


Upahku: memberitakan Injil