Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
1 Korintus 7:17-24; 29-31
Hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah
17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.
18 Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat.
19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.
20 Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.
21 Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu.
22 Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya.
23 Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.
24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.
29 Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;
30 dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;
31 pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.
Orang dunia, atau bahkan mungkin kita, sering mengukur keberhasilan hidup dari perubahan yang kita alami.
Contohnya, kita merasa bahwa kita akan lebih bahagia kalau keadaan kita berubah, yaitu pekerjaan lebih baik, penghasilan lebih besar, status berubah, keadaan keluarga lebih ideal, atau kita memiliki kesempatan-kesempatan seperti yang dimiliki orang lain.
Tanpa sadar, pemikiran bahwa keberhasilan hidup harus ditentukan karena ada perubahan-perubahan itu akhirnya memengaruhi kehidupan rohani kita.
Kita mulai berpikir bahwa kita baru dapat melayani Tuhan dengan baik kalau keadaan hidup kita juga berubah terlebih dahulu.
Kalau masalah saya sudah selesai, baru melayani Tuhan. Kalau misalnya urusan anak sudah beres, baru nanti saya akan melayani Tuhan.
Di dalam bagian Firman Tuhan yang kita baca tadi, Paulus justru memberikan pandangan yang berbeda.
Cara pandang yang berbeda di tengah berbagai keadaan hidup, menikah atau tidak menikah, menjadi hamba atau orang merdeka, bersunat atau tidak bersunat.
1 Korintus 3 : 17
Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.
Perhatikan kalimat “tetap hidup” di dalam ayat ini. Paulus di sini tidak sedang mengatakan bahwa seseorang tidak boleh mengalami perubahan.
Alkitab tidak melarang kita memperbaiki kehidupan kita, untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, untuk belajar dengan lebih sungguh, untuk semakin bertumbuh atau mengalami perubahan status.
Yang Paulus di sini mau tekankan adalah jangan menganggap atau menjadikan keadaan hidup kita itu sebagai penghalang untuk kita hidup bagi Tuhan.
Kita harus memahami bahwa panggilan Tuhan itu tidak selalu dimulai dengan perubahan keadaan hidup kita.
Sering kali justru kita melihat bahwa Tuhan memanggil kita untuk setia kepada-Nya di dalam keadaan yang sedang kita jalani.
Entah itu sedang dalam keadaan yang penuh dengan pergumulan atau tantangan. Tuhan bisa memakai keadaan-keadaan demikian untuk membawa kita tetap setia kepada Dia.
Hal ini menunjukkan bahwa bagi Tuhan, kesetiaan itu lebih penting daripada sekadar keadaan kita atau kondisi hidup kita.
Di dalam ayat 18 sampai 20, Paulus berbicara mengenai orang bersunat dan yang tidak bersunat.
Pada zaman itu, identitas tersebut memiliki makna sosial dan religius yang besar. Tetapi di sini Paulus justru berkata bahwa yang terpenting itu bukanlah perubahan lahiriah.
Kemudian Paulus mengatakan, “Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.”Artinya, status lahiriah bukan urutan utama atau yang paling pertama menjadi nilai seseorang di hadapan Tuhan.
Kita tidak seharusnya memfokuskan status kita atau status hidup kita harus sesuai dengan apa yang dunia lihat atau apa yang dinilai oleh dunia.
Pada ayat 29 sampai 31, Paulus memberikan pandangan yang benar bagi kita, yaitu bahwa kita harus memakai cara pandang eskatologis.
Artinya, melihat keadaan sekarang dengan kesadaran bahwa Allah sedang membawa sejarah menuju penggenapan akhirnya, yaitu pada kedatangan Kristus kembali, kebangkitan, penghakiman, dan kehidupan kekal.
Itu sebabnya, pada ayat 29 Paulus berkata di sana, “Waktunya singkat.” Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.
Paulus mengingatkan bahwa pernikahan, dukacita, sukacita, dan harta benda di dunia ini sifatnya sementara.
Status pernikahan atau status sosial kita akan selesai ketika kita masuk dalam kekekalan.
Oleh karena itu, kita tidak boleh menaruh pengharapan absolut kita itu pada hal-hal yang fana atau hal-hal yang sementara itu. Kita boleh menikah, kita boleh berbisnis sampai sukses.
Tetapi jangan sampai hal-hal itu mencuri fokus kita dari Tuhan.
Kita tidak lagi melihat panggilan Tuhan di tempat kita berada karena mungkin kita terlalu sibuk menginginkan atau membandingkan diri kita dengan orang lain, karena kita mau ada perubahan besar dalam hidup kita.
Paulus mengingatkan kita bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak tergantung pada keadaan yang ideal, keadaan yang sempurna. Seseorang itu dapat memuliakan Tuhan dalam pekerjaan yang sederhana sekalipun.
Seseorang yang mungkin pekerjaannya dipandang sebelah mata, tetapi jika orang itu tahu fokusnya kepada Tuhan, maka sekalipun pekerjaan itu dipandang sebelah mata, dia tetap bisa memuliakan Tuhan.
Seseorang juga dapat memuliakan Tuhan di dalam keluarga. Seseorang juga tentunya bisa memuliakan Tuhan dalam keadaan dia bergumul.
Entah itu bergumul karena sakit penyakit, masalah ekonomi, atau masalah dan tantangan-tantangan yang lain.
Kalau dia tetap punya fokus kepada Tuhan, maka keadaan-keadaan sulit ini tidak akan membuat dia lupa bahwa dia harus hidup memuliakan Tuhan.
Ada banyak orang yang dalam keadaan sulit, tetap bisa memuliakan Tuhan.
Bahkan seseorang itu dapat memuliakan Tuhan ketika mungkin hidupnya tidak sesuai dengan rencana yang dia buat.
Karena yang menentukan nilai pelayanan kita, pekerjaan kita, hidup kita itu bukan seberapa hebat keadaan kita. Bukan, tetapi seberapa kita ini setia kepada Tuhan di dalam keadaan itu.
Karena itu, ingatlah bahwa kita ini menjadi milik Kristus. Itu sebabnya hidup kita harus berpadanan dengan panggilan Kristus di dalam hidup kita.
Kita dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan. Jangan menunggu keadaan kita sempurna, baru kita mau menjadi setia.
Kita dipanggil untuk setia setiap hari seterusnya, di mana pun kita berada, dalam keadaan apa pun.
Karena inilah yang Tuhan mau pakai melalui kehidupan kita yang setia, kita bisa menjadi berkat bagi banyak orang.
Tuhan sendiri dapat bekerja melalui keadaan yang kita sedang hadapi untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Karena itu, kita harus ingat panggilan Kristen itu bukan pertama-tama mengenai pekerjaan apa yang kita miliki atau status apa yang sedang kita sandang.
Panggilan terbesar kita adalah menjadi milik Kristus dan hidup dalam kesetiaan untuk kemuliaan-Nya.
Pekerjaan, keluarga kita, pelayanan kita, pendidikan kita, dan berbagai tanggung jawab hidup kita adalah menjadi tempat di mana panggilan itu harus kita jalankan.
Kita harus menunjukkan kesetiaan kita. Karena itu, mulailah bertanya pada Tuhan saat ini, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan dengan keadaan yang Engkau percayakan kepadaku pada hari ini?”
Mungkin pekerjaan kita tidak seperti yang kita harapkan. Masalah kita juga belum selesai. Keadaan rumah tangga kita juga belum baik-baik sekali.
Bahkan mungkin pelayanan kita terlihat kecil dan tidak banyak orang melihatnya.
Tetapi tetaplah hidup dengan penuh integritas. Tetaplah menjadi pribadi yang dapat membawa kasih Kristus.
Tetaplah setia karena Tuhan melihat segala sesuatu yang kita lakukan. Biarlah kita benar-benar menghidupi kehidupan yang terus setia kepada Tuhan karena kita tahu bahwa apa yang ada di dalam dunia ini akan berlalu dan waktunya singkat.
Tuhan ingin kita menunjukkan kesetiaan kita kepadaNya di waktu hidup yang masih Dia berikan.
Maka dengan demikian, kita dapat terus memuliakan Tuhan melalui seluruh kehidupan kita.
Doakan dan renungkan
* Seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya.
* Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.
Hamba Kristus yang merdeka