Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
1 Korintus 7:1-16
Tentang perkawinan
Renungan firman Tuhan hari ini terambil dari:
1 Korintus 7:1-16
1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,
2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.
8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku — tidak, bukan aku, tetapi Tuhan — perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.
13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?
Di zaman ini, banyak orang yang memandang pernikahan sebagai kontrak sosial guna memenuhi kebahagiaan emosional.
Karena itu, ketika rasa cinta sudah hilang atau tantangan besar menimpa pernikahan, maka kontrak tersebut dengan mudah diputuskan melalui perceraian.
Akibatnya, ada ungkapan yang sering diucapkan, “Jika sudah tidak cocok, untuk apa dipertahankan?”
Berdasarkan data, tingkat perceraian di Indonesia terus bertambah setiap tahun dan tentunya dari sekian banyak jumlah perceraian tersebut, tidak sedikit pula keluarga Kristen yang bercerai.
Hal serupa terjadi pada jemaat di Korintus. Oleh karena itu, melalui 1 Korintus 7, Paulus ingin menjawab persoalan yang terjadi di kehidupan jemaat Korintus yang sudah dipengaruhi oleh budaya dan moralitas yang buruk.
Di tengah jemaat timbul masalah seperti: penyimpangan seksual, pernikahan yang hancur, perceraian, dan pandangan bahwa tidak menikah adalah cara hidup yang paling suci, atau jika sudah menikah, maka harus hidup selibat, yang berarti tidak melakukan hubungan suami-istri.
Maka dari itu, Rasul Paulus ingin meluruskan pandangan yang keliru tentang pernikahan. Ia mengingatkan bahwa pernikahan bukan penentu keselamatan, tetapi pernikahan adalah lembaga kudus yang dirancang oleh Allah.
Di tengah berbagai persoalan pernikahan di zaman ini, kita perlu belajar membangun pernikahan yang tidak hanya untuk kepuasan sementara, melainkan pernikahan yang sungguh-sungguh memuliakan Tuhan.
1.Pernikahan itu sebagai sebuah wadah kekudusan dan saling memberi, bukan saling menuntut (ayat 1-5).
Paulus menegaskan bahwa pernikahan adalah cara terhormat untuk menjaga kekudusan di tengah godaan seksual yang ada di dunia.
1 Korintus 7:2
2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
Selain bahaya percabulan, Paulus juga menegaskan tentang prinsip saling memiliki dan pemenuhan kewajiban timbal balik.
1 Korintus 7:3-4
3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.
4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.
Pernikahan Kristen itu dibangun atas dasar saling berserah dan melayani, termasuk hubungan suami dan istri.
Setiap kewajiban yang ada harus dipenuhi sesuai dengan kesepakatan bersama agar tidak memberi celah bagi kita untuk jatuh ke dalam godaan Iblis.
Dalam ayat 5 dikatakan, “Janganlah kamu saling menjauhi… supaya Iblis jangan menggodai kamu...”
Kita harus menyadari dan bersyukur karena Allah-lah yang merancang pernikahan sebagai tempat untuk saling menguduskan, saling memberi, dan bukan saling menuntut.
2. Pernikahan Kristen itu berpusat pada komitmen yang kokoh dan teguh (ayat 10-11).
Bagi orang yang telah menikah, Paulus menyampaikan perintah yang datang dari Tuhan sendiri bahwa istri tidak boleh menceraikan suami dan suami tidak boleh menceraikan istri. Hal ini menjadi dasar pernikahan Kristen.
Pernikahan Kristen tidak didasari oleh perasaan atau kesenangan semata, melainkan oleh perjanjian di hadapan Allah.
Kristuslah yang mempersatukan, dan kitalah yang berjanji. Bukan janji kepada pasangan semata, tetapi janji di hadapan Allah.
Oleh karena itu, dalam pernikahan Kristen kita harus dapat mencerminkan kasih Kristus, yaitu kasih yang memilih untuk tetap tinggal, mengampuni, mengasihi, dan berjuang bersama melewati berbagai tantangan untuk semakin hidup serupa dengan Kristus.
Bagi setiap pasangan yang telah menikah, kita harus terus mengingat komitmen ini sehingga kita bisa semakin menyerupai Kristus dengan saling mengasihi dan mengampuni di dalam Kristus.
3. Pernikahan sebagai misi pengudusan dan kesaksian (ayat 12-16).
Dalam ayat 12-16, Paulus menjelaskan keresahan yang banyak dialami oleh jemaat di Korintus mengenai pasangan yang belum percaya.
Paulus memberi nasihat dengan penuh hikmat Tuhan. Ia mengatakan bahwa pasangan yang beriman tidak boleh menceraikan pasangannya yang belum seiman, asalkan pasangan tersebut mau hidup bersama (ayat 12-13).
Ayat 14 mengungkapkan, “Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya…”
Hal ini tidak berarti bahwa pasangan akan selamat tanpa percaya pada Kristus. Kehadiran orang percaya dalam rumah tangga itu harus menjadi kesaksian bagi keluarganya dengan cara menghadirkan karakter Kristus di dalam rumahnya.
Rumah tangga bukan hanya tempat untuk beristirahat, tetapi salah satu tempat untuk menunjukkan iman kita.
Ketika masalah melanda dan kita dapat menyelesaikannya dengan baik, maka niscaya kesaksian iman kita dapat membawa pasangan kita untuk mengenal Kristus.
Pernikahan yang memuliakan Tuhan bukan dibangun berdasarkan cinta semata, tetapi atas dasar kebenaran firman Tuhan.
Pernikahan dibangun oleh dua orang berdosa yang menerima pengampunan dan kasih karunia Kristus, kemudian dipersatukan dan memilih untuk saling mengasihi dan mengampuni seumur hidup.
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Seberat/sebesar apa pun tantangan yang sedang kita hadapi saat ini, mari bawa pernikahan kita kepada Tuhan.
Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu ada.
2. Kita harus menjaga komitmen pernikahan kita kepada Tuhan dan terus menjaga kekudusan rumah tangga kita.
Kiranya kita bisa menjadi keluarga yang memuliakan Tuhan dan menjadi saksi di tengah dunia ini.
Doakan dan renungkan
* Pernikahan adalah hal yang diciptakan oleh Tuhan sebagai misi pengudusan dan kesaksian dimana suami dan istri saling memberi, bukan saling menuntut.
* Pernikahan Kristen itu berpusat pada komitmen yang kokoh dan teguh dalam Tuhan.
Pernikahan Kristen