Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 09 Oktober 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

1 Korintus 5:1-3

Dosa Dalam Jemaat.

Hari ini kita akan melanjutkan perenungan kita dari:


1 Korintus 5:1-3


5:1 Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.


5:2 Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu?


5:3 Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku--sama seperti aku hadir--telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu.


Kita akan memperhatikan ayat yang pertama. dikatakan di sana:


1 Korintus 5:1


5:1 Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.


Coba kita bayangkan sebuah rumah yang terlihat indah dari luar, dan membuat orang mungkin kagum melihat rumah itu karena keindahannya, tetapi ternyata di dalamnya itu ada kebocoran kecil yang ternyata terus dibiarkan.


Pada awalnya mungkin memang tidak terlalu terlihat, namun jika tidak segera ditangani maka kebocoran yang kecil itu akan menjadi satu kerusakan yang dapat menyebar dan akhirnya merusak seluruh bangunan.


Akhirnya bisa membuat platformnya menjadi penuh dengan jamur mungkin karena ada bocor di sana dan air bisa masuk ketika hujan sehingga lama-kelamaan akan merusak bangunan itu,


Nah, demikian juga dengan kehidupan jemaat, dosa yang dibiarkan mungkin pada awalnya terlihat seperti masalah pribadi, tetapi ketika dosa itu mulai dianggap biasa, dibenarkan, atau bahkan dibanggakan, dampaknya itu fatal karena dapat merusak seluruh kehidupan bersama.


Dalam 1 Korintus 5 ini, Paulus menghadapi persoalan serius yang terjadi di tengah-tengah kehidupan jemaat di Korintus pada waktu itu, ada dosa seksual yang begitu jelas dan begitu nyata.


Pada waktu itu bahkan orang-orang yang tidak percaya atau mengengal Tuhan menganggap bahwa apa yang sudah dilakukan oleh jemaat di Korintus ini sesuatu yang tidak wajar.


Ada yang lebih memprihatinkan adalah jemaat Korintus justru sombong, mereka ini bukannya berdukacita terhadap dosa yang terjadi di tengah-tengah jemaat.


Dari keadaan itu, Paulus ingin mengajarkan satu prinsip yang penting kepada jemaat di Korintus yaitu kekudusan bukan hanya masalah atau persoalan pribadi.


Kekudusan juga merupakan tanggung jawab seluruh jemaat, dosa yang dibiarkan bisa merusak kehidupan jemaat.


Itu sebabnya Paulus berkata bahwa “Ada percabulan di antara kamu”, artinya bahwa persoalan ini bukan terjadi di luar jemaat, tetapi di tengah-tengah komunitas orang percaya.


Dan yang menjadi masalah bukan hanya dosa itu sendiri, tetapi bagaimana jemaat di Korintus pada waktu itu merespon dosa.


1 Korintus 5:2


5:2 Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu?


Ini sangat ironis, seharusnya mereka itu berdukacita, malu, prihatin dan menegur dengan kasih orang yang sudah melakukan dosa seksual yang menyimpang ini, tetapi Paulus menemukan bahwa mereka ini justru hidup di dalam kesombongan.


Saudara, terkadang kita juga bisa memiliki sikap yang sama, namun mungkin dalam bentuk yang berbeda.


Kita melihat kesalahan orang lain lalu mungkin kita berkata, "Ah, itu mah urusan dia yang penting saya mah enggak melakukan hal itu”, “Sudahlah, jangan terlalu ikut campur sama urusan orang, dosa-dosa dia.”


Kita harus sadar bahwa kita tidak dipanggil untuk menjadi hakim atas semua orang, tetapi kita perlu mencatat dan memperhatikan baik-baik ketika kehidupan dosa sudah merusak kesaksian dan kesehatan rohani jemaat.


Kita tidak boleh berdiam diri atau dalam hal ini bersikap seolah-olah, tidak enggak terjadi apa-apa dan kita tidak mau tahu.


Kita harus ingat kasih itu bukan berarti kita membiarkan dosa atau menganggap urusan pribadi orang lain.


Ingatlah bahwa kasih juga berani membawa seseorang itu kembali kepada kebenaran firman Tuhan, kasih itu justru membawa orang untuk kembali ke dalam pertobatan.


Nah, karena itu gereja tidak boleh menganggap bahwa dosa sebagai sesuatu yang normal dan dibiarkan.


Justru gereja harus menjaga kekudusan jemaat sekaligus membawa orang yang berdosa, atau jatuh dalam dosa kepada satu pertobatan yang sungguh untuk kembali kepada kebenaran Tuhan.


Ketika seseorang jatuh dalam dosa, maka respon kita jangan berkata, "Syukurlah, yang jatuh dalam dosa bukan saya, dia kok.”


Tetapi seharusnya kita datang dan berdoa,”Tuhan kasihani dia, jamah hidupnya, ubah dia, tolong pakai saya untuk membawa dia kembali ingat kepada Tuhan, dan saya juga tidak jatuh ke dalam dosa yang sama.”


Kita perlu sadar bahwa kita tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain, karena sebenarnya kita pun hidup hanya karena kasih karunia Allah, kita pun sama-sama manusia berdosa dan rentan sekali untuk jatuh dalam dosa.


1 Korintus 5:3


5:3 Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku--sama seperti aku hadir--telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu.


Oleh sebab itu, Paulus sendiri menunjukkan bahwa dia tidak acuh tak acuh terhadap dosa jemaat.


Pada ayat 3 menunjukkan kepada kita, sekalipun Paulus itu tidak hadir secara fisik, tetapi dia sudah mengambil satu sikap terhadap persoalan ini dengan begitu tegas.


Paulus itu tidak berkata, "Ya sudahlah, biarkan sajalah jemaat itu mau seperti apa, bagaimana yang terjadi dalam kehidupan mereka ya sudah biarkan saja."


Bagi Paulus ini adalah sesuatu persoalan yang serius, dia perlu untuk mengingatkan dan menasihati jemaat Tuhan di dalam kasih.


Ketika saudara kita jatuh biarlah respon kita seharusnya berdoa, mengingatkan orang itu untuk kembali datang kepada Tuhan dengan kasih.


Kita harus punya satu kerinduan agar orang itu bisa dipulihkan.


Kita juga harus menjaga kehidupan dan kekudusan hidup kita, sebelum kita mungkin sibuk melihat dosa orang lain.


Kita juga perlu untuk mengoreksi diri dan bertanya, "Tuhan, apakah ada sesuatu dalam hidup saya yang sedang saya toleransi yang tidak berkenan kepada Tuhan?"


Jikalau ada, mari kita juga bertobat dan biarkan firman Tuhan setiap hari membawa kita untuk boleh kembali kepada Tuhan.


Kita bisa meminta kepada Tuhan untuk memiliki hati seperti Paulus yang peka terhadap dosa, sedih ketika melihat dosa, dan juga berani menegur dengan kasih ketika kita melihat saudara kita jatuh ke dalam dosa.


Kita juga tetap belajar untuk mengasihi bukan menghakimi orang yang berdosa supaya mereka boleh kembali ke jalan Tuhan.


Sebab tujuan akhirnya bukan kita saling menghukum atau saling menghakimi, tetapi saling memulihkan dan menjaga jemaat tetap hidup di dalam kekudusan Kristus.


Mari kita menjadi pribadi-pribadi yang benar-benar memiliki hati yang peduli kepada pertumbuhan saudara seiman kita yang lain.


Sehingga kita bisa saling menopang, menasehhati, mengingatkan untuk kita boleh terus hidup di dalam kebenaran dan kekudusan Tuhan yang Tuhan kehendaki bagi kita sekalian.


Doakan dan renungkan


* Kita memang tidak dipanggil untuk menjadi hakim atas orang lain, tapi kita perlu peduli ketika dosa sudah merusak kesaksian dan kehidupan orang yang kita kenal.


* Ingatlah bahwa kasih itu peduli dan berani membawa seseorang kembali kepada kebenaran firman Tuhan.


Kasih yang peduli dan berani