Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
I Korintus 4:1-21
Tuhan adalah Satu-satunya Hakim
1 Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.
2 Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.
3 Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi.
4 Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.
5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.
6 Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.
7 Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?
8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kamu.
9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.
10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.
11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara,
12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;
13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.
14 Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.
15 Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.
16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!
17 Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.
18 Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu.
19 Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka.
20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.
21 Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?
Kita fokus pada ayat pertama, yang mengatakan:
I Korintus 4:1
Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.
Ada sebuah perbedaan besar antara bekerja untuk mendapatkan pengakuan manusia, dan melayani karena kita telah dipercayakan sesuatu oleh Tuhan.
Kadang dalam pelayanan, kita bisa tanpa sadar bertanya, apakah saya ini dihargai? Apakah pelayanan saya diperhatikan? Mengapa orang lain bisa mendapatkan pujian sedangkan saya tidak?
Paulus mengingatkan kepada jemaat di Korintus, bahwa ukuran yang utama seorang pelayan bukanlah soal popularitas, atau keberhasilan menurut manusia, atau banyaknya pujian yang diberikan.
Ukuran paling utama seorang pelayan, yang harus kita sadari adalah kesetiaan kepada Kristus.
Jemaat Korintus saat itu sedang mengalami persoalan. Mereka sering kali membanding-bandingkan pemimpin rohani, antara Paulus, Apolos, dan kefas. Akibatnya, pelayanan itu menjadi, seperti sebuah arena persaingan.
Karena itu, Paulus membawa mereka kembali kepada satu pertanyaan yang sangat penting sekali. Paulus bertanya, apakah kita setia kepada Tuhan yang mempercayakan pelayanan itu kepada kita?
Dalam bagian firman Tuhan yang kita baca ini, Paulus mau mengingatkan beberapa hal yang penting, yaitu:
1. Paulus rindu supaya jemaat di Korintus dan kita juga menyadari, bahwa kita ini adalah hamba Kristus, bukan pemilik pelayanan.
Ayat 1-2, Paulus berkata kepada mereka, bahwa mereka harus dipandang sebagai hamba-hamba Kristus dan pengelola rahasia Allah.
Di ayat ini Paulus mau mengatakan, bahwa seorang pengelola, bukanlah pemilik.
Perhatikan, seorang pengelola, bukanlah pemilik. Ia hanya seorang yang dipercaya untuk mengurus sesuatu yang menjadi milik tuannya.
Demikian juga dalam pelayanan kita. Talenta dan karunia yang kita miliki, bukan milik kita.
Waktu kita bukan sepenuhnya milik kita. Sekalipun, kita punya kuasa untuk mengatur waktu kita, tetapi bukan sepenuhnya milik kita.
Jabatan pelayanan juga bukan milik kita. Bahkan, kesempatan kita untuk melayani pun, itu adalah kepercayaan Tuhan dalam kehidupan kita.
Karena itu, kita tidak perlu sibuk untuk mencari pengakuan dari orang lain.
Yang paling penting, bukan apakah orang melihat pelayanan saya? Tetapi, apakah Tuhan melihat dan menemukan kesetiaan dalam diri kita, ketika kita melayani?
Jangan menjadi seorang yang melayani Tuhan, tetapi mencari pengakuan manusia. Jadilah seorang pelayan yang melakukan dan mencari perkenanan Tuhan dalam hidup kita.
Ingat, Tuhan mencari orang yang dapat dipercaya. Bukan orang yang hebat atau luar biasa.
Karena itu, mari menjadi seorang pelayan Tuhan yang betul-betul sadar, bahwa pelayanan kita bukanlah milik kita. Kita adalah hamba Kristus.
2. Jangan kita menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran yang utama.
Dalam ayat 3-5, Paulus mengatakan, bahwa ia tidak perlu memusingkan penilaian manusia. Bahkan penilaian dirinya sendiri pun, bukan menjadi ukuran terakhir.
Ini bukan berarti, bahwa Paulus tidak peduli terhadap kesalahan atau kelemahan. Tetapi, justru di sini ia sadar betul, bahwa hakim yang sesungguhnya adalah Tuhan.
Sering kali dalam kehidupan, kita terlalu mudah untuk menjadi orang yang terus menilai sesama kita. Kita mudah menjadi tawanan penilaian manusia juga.
Kita dipuji, kita senang. Kita dikritik, kita menjadi orang yang hancur. Ketika kita tidak dihargai, kita sangat kecewa.
Ketika pelayanan kita dibandingkan dengan pelayanan orang lain, maka kita mulai merasa minder, merasa rendah diri.
Tetapi, Paulus mengingatkan, jangan menjadikan suara manusia sebagai suara terakhir dalam hidup kita.
Ingat, suatu hari Tuhan akan mengatakan atau menyatakan yang sebenarnya apa yang ada di dalam hati kita.
Karena itu, tetaplah melayani dengan hati yang benar di hadapan Tuhan. Sekalipun, kita tidak selalu mendapatkan apresiasi dari orang lain atas pelayanan yang sudah kita lakukan.
Yang paling utama adalah kesetiaan kita di hadapan Tuhan.
Kita harus benar-benar menjaga hati kita supaya Tuhan menemukan hati yang betul-betul mengasihi Tuhan, dan yang melakukan seluruh pelayanan kita dengan tujuan untuk kemuliaan nama Tuhan.
Karena itu, jangan mencari penilaian manusia, atau menjadikan penilaian manusia sebagai tolak ukur yang paling utama dalam kita melayani Tuhan.
3. Pelayan yang setia itu, tidak mencari kebesaran diri.
Di ayat 6 -13, Paulus menegur dengan keras kesombongan dari jemaat Korintus. Mereka sangat merasa diri mereka hebat. Seolah-olah mereka memiliki segala sesuatu.
Padahal Paulus mengingatkan mereka dengan bertanya, “Apakah yang engkau punyai itu, yang tidak engkau terima?” Ini pertanyaan yang sangat dalam.
Seolah-olah mau mengatakan, “Apakah yang kita miliki, yang tidak kita terima dari Tuhan?”
Kemampuan kita dari Tuhan, kesempatan kita melayani dari Tuhan, kesehatan kita anugerah Tuhan. Kemampuan berpikir itu juga dari Tuhan. Karunia rohani kita dari Tuhan.
Jika semuanya berasal dari Tuhan, maka tidak satu pun alasan di dalam diri kita, untuk menyombongkan diri kita, atau membanggakan diri kita.
Kita harus sadar, bahwa pelayan Tuhan yang dewasa, tidak akan berkata, “Lihat, apa yang sudah saya lakukan.”
Sebaliknya, seorang pelayan Tuhan yang dewasa dalam kehidupan rohaninya, akan berkata, ”Lihat, apa yang sudah Tuhan kerjakan melalui saya.”
Paulus sendiri, bahkan menggambarkan dirinya dan pada rasul sebagai orang yang mengalami penderitaan demi Kristus. Orang yang paling hina, yang paling menderita.
Jadi di sini, sekalipun pelayanan Paulus begitu luar biasa, tetapi ia tahu, bahwa itu semua dari Tuhan. Tidak ada yang perlu dibanggakan.
Itu sebabnya, sekalipun ia harus mengalami penderitaan, Paulus rela. Karena ia tahu, bahwa apa yang ia terima, apa yang bisa ia lakukan, semuanya itu dari dan demi Kristus.
Pesan firman Tuhan bagi kita:
Mari, kita ingat, bahwa kita melayani, karena Kristus melayani terlebih dulu dan mempercayakan pelayanan itu kepada kita.
Biarlah kita juga dapat berkata, “Tuhan saya tidak ingin menjadi pelayan yang terlihat hebat. Tetapi, saya ingin menjadi pelayan yang dapat dipercaya oleh Tuhan, dan menjadi pelayan yang setia, yang rendah hati di hadapan Tuhan.”
Kiranya Tuhan sungguh menolong kita menjadi hamba-hamba Kristus, pelayan-pelayan Tuhan yang terus setia kepada Tuhan kita, Sang Pemilik ladang pelayanan itu.
Doakan dan renungkan
* Paulus berkata bahwa mereka harus dipandang sebagai hamba-hamba Kristus dan pengelola rahasia Allah.
* Seorang pengelola, bukanlah pemilik. Ia hanya seorang yang dipercaya untuk mengurus sesuatu yang menjadi milik tuannya.
Kita, hamba yang dipercaya