Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
1 Korintus 2:1-5
Hikmat Allah dan hikmat manusia (part 2)
1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.
2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.
4 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,
5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.
Kita akan fokus kepada ayat yang ke-4, disana dikatakan, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh.”
Kita ini hidup di zaman ketika orang sering kali di nilai dari kepandaiannya, dari cara dia berbicara, kemampuan meyakinkan orang lain, penampilannya, pendidikannya, prestasinya.
Orang yang pandai bicara sering dianggap lebih mampu, orang yang punya banyak pengetahuan itu yang dianggap lebih hebat.
Bahkan di dalam pelayanan, kadang kita bisa berpikir bahwa keberhasilan itu bergantung kepada seberapa fasih kita berbicara atau seberapa hebat kita di dalam melayani Tuhan, seberapa banyak talenta karunia yang kita miliki.
Tetapi disini kita menemukan Paulus memberikan kesaksian yang sangat berbeda.
Ketika Paulus datang ke Korintus, dia justru berkata di dalam ayat ke-1,
“Ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.”
Disini kita menemukan bahwa Paulus yang adalah seorang yang terpelajar dan luar biasa, bahkan kita tahu dia seorang yang sangat berperestasi dan mempunyai kemampuan berbicara yang luar biasa.
Namun ketika memberitakan injil, Paulus tidak ingin jemaat bergantung pada kehebatan Paulus atau segala kemampuan yang dia miliki.
Paulus rindu supaya yang mereka lihat itu Kristus dan kuasa Roh Kudus.
Kenapa hal ini harus demikian? Karena Rasul Paulus sadar betul pusat pelayanan kita itu kepada
Kristus bukan kepada manusia.
Di dalam ayat ke-2, Paulus berkata, “Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”
Di sini Paulus sebenarnya bisa berbicara tentang banyak hal, dia memiliki pengetahuan yang sangat luas, tetapi Paulus memilih yang menjadi pusatnya adalah Yesus Kristus yang disalibkan.
Ini mengingatkan kita bahwa dalam hidup dan pelayanan kita, sebenarnya sangat mudah bagi kita untuk kehilangan fokus itu sendiri.
Mungkin kita akan lebih terfokus kepada kemampuan, keberhasilan, pelayanan, kehebatan, pendapat orang tentang kita atau keinginan orang agar kita bisa terus terlihat hebat.
Tanpa sadar, kalau kita mempunyai pemikiran yang demikian pusatnya bukan lagi kepada Kristus tetapi kepada diri kita sendiri.
Paulus berkata, “Aku telah memutuskan”, artinya ada sebuah pilihan yang di sengaja, pilihan yang disadari oleh Paulus pada waktu itu.
Itu sebabnya dia menegaskan bahwa Aku memutuskan untuk menjadikan Kristus sebagai pusat di dalam pelayanannya.
Bagaimana dengan kita? Ketika kita melayani Tuhan apakah Kristus benar-benar masih menjadi pusat dalam hidup kita?
Kita masih menjadikan Kristus yang paling utama dalam hidup kita atau kita mulai kehilangan fokus, kita mulai berpusat kepada diri kita sendiri.
Kita mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri, kita mencari puji-pujian bagi diri kita sendiri.
Hal demikian tidak seharusnya terjadi dalam kehidupan kita.
Kita harus sadar bahwa jika kita bisa melayani itu semua semata-mata karena anugrah Tuhan, suatu kehormatan yang Tuhan mau memakai kita.
Yang Tuhan mau melalui kehidupan kita, kita boleh memuliakan Tuhan.
Itu sebabnya kita harus sadar diri seperti Rasul Paulus, yang sadar betul bahwa di dalam melayani Tuhan pusatnya bukan dirinya sendiri.
Pusatnya bukan terletak pada siapapun juga, tetapi pusatnya terletak kepada Kristus itu sendiri
Kita melihat di ayat ke-3, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar”.
Hal ini menarik karena seorang Rasul Paulus yang begitu luar biasa, ternyata dia mengakui bahwa dia memiliki kelemahan dan kegentaran.
Artinya, di pakai Tuhan tidak berarti kita harus merasa selalu kuat dan hebat.
Mungkin terkadang kita harus sadar bahwa kita tidak sehebat yang orang lain pikirkan karena Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan itu tidak hanya bekerja melalui orang yang merasa kuat.
Tetapi justru ketika kita menyadari betapa lemahnya kita maka disanalah kita akan belajar untuk tidak mengandalkan diri kita sendiri tetapi sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan.
Itu sebabnya Rasul Paulus berkata demikian di ayat 3, dia sadar betul dia punya kelemahan, dia sangat takut dan gentar.
Tetapi Paulus percaya bahwa ada kekuatan kuasa dari pada Kristus yang dapat diandalkannya sehingga dia dapat melayani dan semuanya itu juga karena berpusat kepada Kristus.
Marilah kita belajar dari kehidupan Paulus yang bisa memiliki banyak alasan untuk mengandalkan dirinya sendiri, dia begitu luar biasa.
Tetapi Paulus memilih dengan kesadaran penuh bahwa yang menjadi pusat di dalam pelayanannya bukanlah dirinya sendiri tetapi Kristus yang disalibkan itu yang telah menyelamatkannya.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Yang menjadi pusat pelayanan kita bukanlah diri kita sendiri, tetapi Kristus
2. Di dalam melayani Tuhan, bukan karena kehebatan kita, tetapi karena Roh Allah yang bekerja melalui hidup kita yang mau terus bergantung kepada Dia.
Sehingga dalam melayani Tuhan Nama Tuhan saja yang ditinggikan bukan diri kita sendiri dan kita boleh memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Doakan dan renungkan
* Paulus berkata, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.”
* Dalam pelayanan, Paulus menyadari kelemahan dan kegentarannya oleh sebab itu ia belajar untuk tidak mengandalkan diri tetapi sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan.
Teladani sikap Paulus