Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Rabu, 30 September 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 89:39-53

Kesetiaan Tuhan kepada Daud


Pernahkah kita ada dalam keadaan: saat hal yang dipercaya tentang Tuhan terasa tidak cocok dengan hal yang sedang dialami? Kita percaya Tuhan memelihara, tapi ekonomi semakin sulit.


Kita percaya Tuhan mendengar doa, tetapi jawaban belum datang. Kita percaya Tuhan memiliki rencana baik dalam hidup kita, tetapi kehidupan malah bergerak ke arah yang tidak terbayangkan.


Pada saat seperti itu, muncul pertanyaan: “Tuhan jika Engkau memang setia, mengapa keadaannya seperti ini?” Pertanyaan ini bukan tanda bahwa seseorang kehilangan iman.


Mazmur 89 menunjukkan bahwa pertanyaan itu juga pernah keluar dari hati yang percaya kepada Tuhan. Mari membaca Mazmur 89 bagian yang terakhir.


Mazmur 89:39-53


39 Tetapi Engkau sendiri menolak dan membuang, menjadi gemas kepada orang yang Kauurapi,


40 membatalkan perjanjian dengan hamba-Mu, menajiskan mahkotanya laksana debu,


41 melanda segala temboknya, membuat kubu-kubunya menjadi reruntuhan.


42 Semua orang yang lewat di jalan merampoknya, dan ia menjadi cela bagi tetangganya.


43 Engkau telah meninggikan tangan kanan para lawannya, telah membuat semua musuhnya bersukacita.


44 Juga Kaubalikkan mata pedangnya, dan tidak membuat dia dapat bertahan dalam peperangan.


45 Engkau menghentikan kegemilangannya, dan takhtanya Kaucampakkan ke bumi.


46 Kaupendekkan masa mudanya, Kauselubungi dia dengan malu. Sela


47 Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau bersembunyi terus-menerus, berkobar-kobar murka-Mu laksana api?


48 Ingatlah apa umur hidup itu, betapa sia-sia Kauciptakan semua anak manusia!


49 Siapakah orang yang hidup dan yang tidak mengalami kematian, yang dapat meluputkan nyawanya dari kuasa dunia orang mati? Sela


50 Di manakah kasih setia-Mu yang mula-mula, ya Tuhan, yang telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada Daud demi kesetiaan-Mu?


51 Ingatlah cela hamba-Mu, ya Tuhan, bahwa dalam dadaku aku menanggung penghinaan segala bangsa,


52 yang dilontarkan oleh musuh-musuh-Mu, ya TUHAN, yang dilontarkan mencela jejak langkah orang yang Kauurapi.


53 Terpujilah TUHAN untuk selama-lamanya! Amin, ya amin.


Sebuah permadani yang sedang ditenun, memiliki dua sisi. Dari bagian atas, kita bisa melihat pola yang indah; warna-warna tersusun dengan rapih dengan gambar indah.


Namun, saat kita membalikkan permadani itu, kita lihat sisi yang berbeda; benang-benang bersilangan, ada simpul, ada ujung benang yang tampak tidak beraturan dan tidak menarik.


Jika kita hanya melihat sisi bawahnya, kita akan bertanya tentang hal apa yang sebenarnya sedang dibuat. Sepertinya kurang bagus dan jelek.


Padahal, orang yang membuat permadani tersebut, melihat sisi yang tidak kita lihat. Ia yang mengetahui pola akhirnya.


Sering kali, kehidupan terasa seperti kita sedang melihat bagian belakang dari sebuah tenunan. Kita melihat potongan-potongan yang sepertinya jelek, tidak masuk akal, dan tidak menarik.


Namun, Tuhan melihat keseluruhan dari gambar. Bagian ini mengejutkan karena ayat sebelumnya baru saja mencatat janji Allah kepada Daud. Tuhan berkata: “Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku.”


Bahkan, Ia berkata bahwa keturunan dan takhta Daud akan terus bertahan. Namun, sekarang pemazmur melihat kenyataan yang sama sekali berbeda.


Ayat 39 dimulai dengan kata “tetapi”, orang yang diurapi Tuhan seperti ditolak, mahkotanya dinajiskan, tembok pertahanannya itu runtuh. Musuh-musuh bersukacita.


Pedangnya tidak lagi membawa kemenangan dan takhtanya dicampakkan ke bumi.


Jika kita menempatkan diri sebagai pemazmur; saat satu tangan memegang janji Tuhan, tetapi tangan yang lain memegang kenyataan hidup. Keduanya tampak tidak cocok.


Bukankah Tuhan berjanji menjaga keturunan Daud? Lalu, kenapa takhtanya sekarang dicampakkan?


Pemazmur tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia berseru bertanya berkali-kali: “Berapa lama lagi?”


Pertanyaan ini bukan berarti pemazmur tidak percaya. Justru, oleh karena ia percaya, ia mempertanyakan keadaan yang nampaknya bertentangan ini.


Lalu, ia bertanya: “Di manakah kasih setiaMu yang mula-mula, ya Tuhan…” Pemazmur tidak meninggalkan Tuhan untuk mencari jawaban di tempat lain. Dia membawa kebingungannya kepada Tuhan.


Iman yang dewasa tidak berarti kita tidak pernah mempunyai pertanyaan, melainkan ketika kita punya pertanyaan, kita tetap membawanya kepada Allah. Bahkan, pemazmur mengingatkan Tuhan akan sumpah-Nya kepada Daud.


Seolah-olah ia berkata: “Tuhan, aku tidak mengerti kenapa semua ini terjadi.” Sekalipun tidak mengerti, ia tetap mau mengingat hal yang Tuhan janjikan.


Kita yang hidup setelah kedatangan Kristus, dapat melihat sesuatu yang belum dapat dilihat sepenuhnya oleh pemazmur. Kerajaan Daud memang mengalami keruntuhan.


Raja-raja keturunan Daud akhirnya kehilangan takhtanya untuk waktu yang sangat panjang seolah-olah janji dari Tuhan itu gagal. Namun, Allah belum selesai.


Berabad-abad kemudian, lahir keturunan Daud, Yesus Kristus. Dia tidak datang dengan mahkota emas, melainkan mahkota duri.


Dia tidak langsung duduk di istana, melainkan digantung di atas kayu salib. Saat itu, keadaan kembali nampak seperti sebuah kekalahan.


Pada hari ketiga, Kristus bangkit dari kematian. Akhirnya, kita melihat bahwa Allah tidak melupakan janji-Nya kepada Daud.


Rencana-Nya jauh lebih besar daripada yang dapat dilihat oleh manusia pada waktu itu.


Takhta yang dijanjikan bukan berhenti kepada kerajaan politik sementara. Janji itu mencapai penggenapannya di dalam Kristus, Raja yang hidup dan memerintah selama-lamanya.


Pemazmur menutup bagian ini dengan perkataan: “Terpujilah Tuhan untuk selama-lamanya! Amin, ya amin.”


Ia belum mendapatkan semua jawaban, keadaan belum berubah di depan mata. Namun, ia masih bisa berkata: “Terpujilah Tuhan…” Itulah iman.




Pesan Firman Tuhan bagi kita

1. Jika ada bagian kehidupan yang sepertinya tidak dimengerti, jangan lepaskan hal yang sudah kita ketahui tentang karakter Tuhan.


Mungkin kita belum mengetahui dan mengalami hal yang sedang Dia kerjakan, kita tidak mengerti kenapa ada hal-hal yang Tuhan izinkan terjadi. Kita belum melihat bagaimana doa itu dijawab.


Kita belum paham kemana Tuhan akan membawa kehidupan kita. Namun, kita sudah mengetahui sesuatu yaitu Tuhan itu setia.


2. Bawalah pertanyaan kita kepada Tuhan dan teruslah berjalan bersama-Nya, sekalipun kita belum melihat seluruh gambarannya.


Selama 30 hari, kita telah berjalan membaca Mazmur 71-89. Kita menemukan pujian, ratapan, ketakutan, pertanyaan, dan pengharapan. Itu adalah gambaran dari kehidupan kita bersama Tuhan.


Tidak setiap hari penuh dengan kemenangan. Tidak setiap hari, doa langsung dijawab. Tidak setiap perjalanan, mudah dipahami. Namun, ada satu benang merah yang muncul di sepanjang perjalanan, yaitu Tuhan tetap setia.


Mazmur 89 berakhir bukan dengan sebuah persoalan yang terselesaikan, melainkan dengan penyembahan: “Terpujilah Tuhan untuk selama-lamanya. Amin, ya amin.”


Kalimat ini juga tepat untuk menutup perjalanan 30 hari di bulan September. Kita belum mengetahui hal yang terjadi besok dan pergumulan yang akan datang. Namun, kita tahu siapa yang berjalan bersama dengan kita.


Iman bukan selalu memahami hal yang Tuhan sedang kerjakan. Iman adalah tetap memegang siapa Tuhan ketika kita belum memahami pekerjaanNya.


Oleh karena itu, apapun musim kehidupan yang sedang dijalani, mari kita tetap berkata: “Tuhan, aku belum mengerti semuanya, tetapi aku tetap percaya kepada-Mu.”

Doakan dan renungkan


* Tidak setiap pergumulan dapat dipahami. Tidak setiap doa cepat dijawab. Namun, ada satu kepastian yang muncul di sepanjang perjalanan, yaitu Tuhan tetap setia.


* Untuk itu Pemazmur berkata,“Terpujilah Tuhan untuk selama-lamanya. Amin, ya amin.”


Ada 1 kepastian padaku