Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 89:20-38
Kesetiaan TUHAN kepada Daud
Dalam kehidupan orang percaya ada kesalahpahaman yang kadang muncul. Ketika semuanya berjalan baik-baik saja, hidup kita sedang baik, kita berkata, “Tuhan sayang kepada saya.”
Tetapi ketika Tuhan memberikan teguran, mengoreksi, atau mengizinkan kita menghadapi konsekuensi dari kesalahan kita, kita mulai bertanya, “Apakah Tuhan masih sayang sama saya?”
Seolah-olah sayangnya Tuhan itu hanya dibuktikan, ditunjukkan melalui kenyamanan atau ketika hidup kita baik-baik saja. Tuhan memang mengasihi, tetapi mari kita ingat Tuhan juga mendisiplin.
Kedua hal ini tidak bertentangan. Bahkan, salah satu bukti kasih Tuhan adalah bahwa Dia tidak membiarkan orang-orang percaya terus berjalan di jalan yang salah.
Mazmur 89 : 20-38
20 Pernah Engkau berbicara dalam penglihatan kepada orang-orang yang Kaukasihi, kata-Mu: "Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan, telah Kutinggikan seorang pilihan dari antara bangsa itu.
21 Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus,
22 maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.
23 Musuh tidak akan menyergapnya, dan orang curang tidak akan menindasnya.
24 Aku akan menghancurkan lawannya dari hadapannya, dan orang-orang yang membencinya akan Kubunuh.
25 Kesetiaan-Ku dan kasih-Ku menyertai dia, dan oleh karena nama-Ku tanduknya akan meninggi.
26 Aku akan membuat tangannya menguasai laut, dan tangan kanannya menguasai sungai-sungai.
27 Dia pun akan berseru kepada-Ku: 'Bapaku Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku.'
28 Aku pun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi.
29 Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia untuk selama-lamanya, dan perjanjian-Ku teguh bagi dia.
30 Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan takhtanya seumur langit.
31 Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku,
32 jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku,
33 maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan.
34 Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku.
35 Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.
36 Sekali Aku bersumpah demi kekudusan-Ku, tentulah Aku tidak akan berbohong kepada Daud:
37 Anak cucunya akan ada untuk selama-lamanya, dan takhtanya seperti matahari di depan mata-Ku,
38 seperti bulan yang ada selama-lamanya, suatu saksi yang setia di awan-awan." Sela
Seorang pelatih yang baik tidak selalu berkata kepada anak didiknya, “Bagus, semuanya sudah sempurna.” Kadang kala ia akan menghentikan latihan dan berkata, “Itu salah. Ulangi.”
Dia akan memperbaiki posisi tubuh, mengoreksi teknik, meminta anak didiknya untuk mengulangi gerakan yang sama berkali-kali. Bagi atlet, koreksi itu mungkin tidak menyenangkan.
Namun, justru karena sang pelatih melihat potensi dan peduli terhadap perkembangan anak didiknya itu, ia tidak akan membiarkan kesalahan itu menjadi sebuah kebiasaan. Ada perbedaan besar antara ditolak dan dikoreksi.
Mazmur hari ini menolong kita memahami perbedaan itu di dalam hubungan kita dengan Tuhan. Pada bagian sebelumnya, Mazmur 89 berbicara tentang kebesaran dan kesetiaan Allah.
Sekarang pemazmur mengingatkan secara khusus perjanjian Tuhan dengan Daud.
Mazmur 89 : 21
Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus,
Daud menjadi raja bukan hanya karena kemampuannya. Allahlah yang memilihnya. Allah yang mengangkatnya. Karena itu Tuhan berjanji, “Tanganku tetap dengan dia, bahkan lenganku meneguhkan dia.”
Perhatikan berulang kali Tuhan berkata,“Aku akan meneguhkan”,“Aku akan menghancurkan lawannya”,“Aku akan menyertai”,“Aku akan memelihara kasih setiaku.”
Dasar keamanan dari Daud bukanlah kekuatan Daud itu sendiri. Dasarnya adalah komitmen dari Allah.
Mazmur 89 : 27
Dia pun akan berseru kepada-Ku: 'Bapaku Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku.'
Pada ayat 27, hubungan itu digambarkan dengan sangat pribadi. Ini bukan sekadar hubungan antara seorang raja dan Allah yang jauh. Ada relasi perjanjian yang dekat.
Tuhan bahkan berkata bahwa Ia akan mengangkatnya menjadi anak sulung, yang dalam konteks ini berbicara tentang kedudukan yang istimewa dan keutamaan di antara raja-raja.
Lalu di sini Tuhan menegaskan,“Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia untuk selama-lamanya”
Sampai di sini semuanya terdengar begitu indah.
Namun mulai ayat 31 muncul sesuatu yang serius.“Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku”, bagaimana jika keturunan Daud itu memberontak?
Bagaimana jika mereka itu melanggar perintah Tuhan? Apakah kasih Tuhan berarti Tuhan akan membiarkan dosa mereka? Tentu tidak.
Mazmur 89 : 33
maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan.
Dengan kata lain, akan ada disiplin, akan ada konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Kasih karunia tidak berarti dosa menjadi tidak penting.
Kesetiaan Tuhan terhadap perjanjian-Nya tidak berarti Tuhan akan mengabaikan ketidaktaatan, membiarkan umat pilihan-Nya, orang-orang percaya itu jatuh dalam dosa.
Datanglah kata yang sangat penting, “Tetapi, kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan daripadanya.” Ini adalah intinya.
Tuhan berkata, “Aku akan mendisiplin, Aku akan memukul, Aku akan melakukan sesuatu karena engkau sudah melakukan dosa atau kesalahan.
Tetapi Aku tidak akan berhenti setia. Aku akan mengoreksi, Aku akan memperbaiki, tetapi Aku tidak akan mengingkari perjanjian-Ku.”
Mazmur 89 : 35
Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.
Manusia bisa berubah. Generasi Daud bisa gagal, raja-raja bisa jatuh di dalam dosa, tetapi karakter Allah tidak berubah seperti yang kita sudah bahas. Di sinilah kita melihat sesuatu yang lebih besar daripada Daud.
Tidak ada satu pun keturunan Daud yang sanggup menjadi raja yang sempurna. Sebagian hidup takut akan Tuhan, tetapi sebagian lagi gagal dengan sangat buruk.
Namun janji Tuhan tidak berhenti. Sampai pada akhirnya dari keturunan Daud datanglah Kristus. Dia adalah Anak Daud yang sempurna.
Raja yang tidak pernah memberontak kepada Bapa. Raja yang kerajaan-Nya tidak akan pernah berakhir.
Manusia gagal, tetapi kegagalan manusia tidak menggagalkan rencana Allah. Hari ini jika Tuhan sedang menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hidup kita, jangan lari dari teguran yang Tuhan berikan.
Mungkin melalui Firman yang kita dengar, kita disadarkan tentang sikap tertentu, dosa tertentu. Mungkin ada kebiasaan yang harus dihentikan.
Mungkin ada hubungan yang harus dibereskan, mungkin ada kesombongan yang perlu direndahkan. Jangan langsung menganggap bahwa teguran Tuhan sebagai tanda bahwa Dia jauh.
Terimalah koreksi-Nya sebagai kesempatan untuk kembali berjalan dekat dengan-Nya. Kasih Tuhan bukan hanya menghibur ketika kita terluka, tetapi kasih Tuhan juga mengoreksi ketika kita salah.
Ada kalanya tangan Tuhan itu memberikan penghiburan. Ada kalanya tangan yang sama juga memukul setiap kita. Tetapi keduanya berasal dari hati Allah yang sayang kepada setiap kita.
Mazmur 89 mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah berkata dosa itu tidak penting. Ada konsekuensi, ada disiplin, ada koreksi. Namun di tengah semuanya itu Tuhan berkata, “Kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan.”
Ketika kita melihat kepada Kristus, kita menemukan bukti terbesar dari kesetiaan itu. Allah tidak membatalkan janji keselamatan-Nya karena kegagalan manusia. Dia menggenapinya melalui Kristus.
Teguran Tuhan bukan berarti kasih-Nya telah berakhir. Justru karena Dia mengasihi kita, Dia tidak akan membiarkan kita terus berjalan ke arah yang salah. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita.
Doakan dan renungkan
* Tuhan berfirman, “Jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan.”
* Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku.
Kasih yang mengoreksi