Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 88:1-19
Doa pada waktu sakit payah
Ketika kita menonton sebuah film, ending seperti apa yang kita harapkan.
Saya yakin setiap kita ingin happy ending, ketika ada masalah datang lalu ada pertolongan tiba.
Orang sakit kemudian sembuh, seorang kehilangan pekerjaan, kemudian mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Kita senang mendengar kesaksian seperti itu dan kita memang patut bersyukur ketika Tuhan memberikan kita kelepasan.
Tetapi bagaimana dengan cerita yang belum memiliki akhir yang seperti itu tidak happy ending?
Bagaimana jika kita sudah berdoa tetapi orang yang kita kasihi masih tetap sakit?
Bagaimana jika kita sudah menunggu tetapi keadaan belum berubah?
Bagaimana jika kita sudah mencari pertolongan dari Tuhan tetapi hari ini masih terasa sangat gelap seperti kemarin.
Mazmur 88 adalah salah satu mazmur yang paling gelap dari seluruh kitab mazmur, tidak ada perubahan keadaan yag dramatis di akhir mazmur ini.
Tidak ada kalimat, “Tetapi kemudian Tuhan melepaskan aku”, bahkan kata terakhir mazmur ini berbicara tentang kegelapan.
Namun justru karena itulah mazmur 88 ini sangat berharga, mazmur ini menunjukkan kepada kita seperti apa iman ketika jawaban belum datang.
Mari kita bersama-sama membaca:
Mazmur 88:1-19
Doa pada waktu sakit payah
1 Nyanyian. Mazmur bani Korah. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Mahalat Leanot. Nyanyian pengajaran Heman, orang Ezrahi.
2 Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku,siang hari aku berseru-seru,pada waktu malam aku menghadap Engkau
3 Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku;
4 sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.
5 Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur;aku seperti orang yang tidak berkekuatan.
6 Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur, yang tidak Kauingat lagi, sebab mereka terputusdari kuasa-Mu.
7 Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.
8 Aku tertekan oleh panas murka-Mu,dan segala pecahan ombak-Mu.Kautindihkan kepadaku. Sela
9 Telah Kaujauhkan kenalan-kenalankudari padaku, telah Kaubuat aku menjadi kekejian bagi mereka. Aku tertahandan tidak dapat keluar;
10 matakumerana karena sengsara. Aku telah berserukepada-Mu, ya TUHAN, sepanjang hari, telah mengulurkan tangankukepada-Mu.
11 Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu?Sela
12 Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mudi tempat kebinasaan?
13 Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa?
14 Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong,dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu.
15 Mengapa, ya TUHAN, Kaubuangaku, Kausembunyikan wajah-Mudari padaku?
16 Aku tertindasdan menjadi inceran maut sejak kecil,aku telah menanggung kengeriandari pada-Mu, aku putus asa.
17 Kehangatan murka-Mumenimpa aku, kedahsyatan-Mumembungkamkan aku,
18 mengelilingi aku seperti air banjirsepanjang hari, mengepung aku serentak.
19 Telah Kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan.
Ada perbedaan antara sebuah foto dan sebuah film.
Foto menangkap satu moment, jika seseorang melihat sebuah foto ketika tokoh utamanya sedang menangis, ia mungkin menyimpulkan bahwa seluruh ceritanya adalah kesedihan.
Tetapi sebuah film memiliki banyak adegan, satu adegan yang gelap belum tentu merupakan akhir dari sebuah kisah.
Masalah kita adalah kita sering melihat kehidupan seperti sebuah foto, kita melihat keadaan hari ini lalu menyimpulkan mungkin semuanya akan selalu seperti ini.
Padahal kita belum melihat seluruh cerita yang sedang Tuhan tuliskan.
Heman, penulis mazmur 88 sedang berada di salah satu adegan tergelap di dalam hidupnya, dan Alkitab tidak memberitahu kita kapan keadaan itu akan berubah.
Mazmur ini di mulai dengan sebuah kalimat yang sangat penting, “Ya Tuhan, Allah yang menyelamatkan aku”.
Jangan melewatkan kalimat ini, sebab setelah kalimat tersebut hampir seluruh isi mazmur adalah ratapan.
Heman berbicara tentang penderitaan, tentang kematian, kesepian, tentang merasa ditinggalkan, tentang doa yang seakan-akan itu belum di jawab.
Tetapi sebelum mengatakan semuanya itu, dia memanggil Tuhan, “Allah yang telah menyelamatkan aku”.
Keadaannya sangat berat, ia berkata, “Jiwaku kenyang dengan malapetaka”.
Biasanya kita mengatakan kata kenyang setelah makan sampai tidak sanggup lagi menerima makanan, sehingga kita berkata, ”Sudah cukup, saya tidak mau makan lagi”.
Heman memakai kata itu untuk penderitaannya, seolah-olah dia berkata, “Aku sudah tidak sanggup lagi menerima satu penderitaan, kesulitan masalah lagi”.
Kemudian dia menggambarkan dirinya seperti orang yang berada di dekat kubur.
Dia kehilangan kekuatan bahkan hubungan dengan orang-orang disekitarnya pun ikut terganggu.
Di ayat 9 dikatakan, “Telah Kau jauhkan kenalan-kenalanku dari padaku”.
Jadi penderitaannya bukan hanya fisik tetapi juga emosional dia juga mengalami kesepian.
Perhatikan di ayat ke-10, “Aku telah berseru kepada-Mu, ya Tuhan, sepanjang hari, telah mengulurkan tanganku kepada-Mu”.
Inilah sesuatu yang luar biasa, Heman merasa bahwa Tuhan itu jauh tetapi apa yang dia lakukan?
Dia tetap berdoa, dia tetap datang kepada Tuhan, dia tidak memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan tetapi dia tetap mengulurkan tangannya kepada Tuhan, meminta pertolongan.
Ayat 14 dikatakan, “ Tetapi aku ini, ya Tuhan, kepada-Mu aku berteriak minta tolong dan pada waktu pagi doaku datang kehadapan-Mu”.
Kata pagi ini menarik, malam sebelumnya dia belum mendapatkan jawaban, tetapi ketika pagi itu datang, ia berdoa lagi, besok pagi ia datang lagi dan pagi berikutnya dia menghampiri Tuhan.
Inilah bentuk iman yang jarang kita bicarakan, di mana dia selalu datang, Dia percaya bahwa Tuhan mendengar, Tuhan ada bersama dengan dia.
Kita sering berfikir bahwa iman yang besar adalah iman yang menghasilkan mujizat yang besar.
Mazmur 88 menunjukkan bentuk iman yang lain, iman yang tetap datang kepada Tuhan ketika mujizat itu belum terjadi, belum terlihat.
Heman kemudian bertanya di ayat 15, “Mengapa ya Tuhan, Kau buang aku? Kau sembunyikan wajah-Mu dari pada-ku?”
Tidak ada jawaban langsung dari mazmur ini.
Dan akhirnya dia berkata, “Telah kau jauhkan daripadaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan”.
Lalu Mazmur ini berhenti, tidak ada solusi, tidak ada perubahan suasana.
Mengapa Tuhan membiarkan Mazmur seperti ini masuk ke dalam Alkitab?
Mungkin salah satu alasannya adalah supaya kita mengetahui bahwa iman tidak selalu memiliki jawaban yang cepat.
Ada orang percaya yang harus menjalani musim kehidupan yang panjang dan berat, dan mereka tetap dikasihi Tuhan.
Ada doa yang harus dinaikkan berkali-kali dan doa itu tetap di dengar Tuhan.
Bahkan ketika seseorang hanya mampu berkata, “Tuhan, aku masih disini”, inipun dapat menjadi sebuah tindakan iman.
Jika ada satu doa yang sudah lama kita naikkan, tetapi jawabannya belum terdengar, belum terlihat, jangan berhenti membawanya kepada Tuhan.
Tidak perlu mencari kata-kata yang baru setiap hari, tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Datanglah kembali!, seperti Heman, malah dia berseru, sepanjang hari dia mengulurkan tangannya dan ketika pagi tiba doanya kembali datang kepada Tuhan.
Mungkin iman kita hari ini tidak berbentuk sorak-sorak kemenangan, mungkin iman kita hanya berbentuk satu doa sederhana, “Tuhan aku masih percaya kepada-Mu”. Teruslah datang kepada Tuhan.
Mazmur 88 tidak mengajarkan bahwa setiap malam akan langsung berubah menjadi pagi yang cerah. Mazmur ini mengajarkan sesuatu yang mungkin lebih sulit.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Tetaplah mencari Tuhan ketika malam itu masih berlangsung.
Dan bagi kita yang mengenal Kristus, kita yang percaya kepada Kristus, kita memiliki pengharapan yang bahkan Heman belum lihat secara penuh.
Yesus sendiri pernah masuk ke dalam kegelapan, penderitaan dan kematian, namun kubur bukanlah akhir cerita.
Kebangkitan Kristus memberikan kita keyakinan bahwa kegelapan tidak akan mendapat kata terakhir atas kehidupan orang yang berada di dalam Dia.
2. Mungkin hari ini kita belum melihat bagaimana cerita kita akan berakhir, tetapi kita mengenal Tuhan yang memegang akhirnya.
Doakan dan renungkan
* Saat jiwa kita merasa kenyang dengan malapetaka, bahkan hidup serasa dekat dengan dunia orang mati.
* Tetaplah percaya dan berdoa, “Ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong,dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu.”
Kekuatan Dibalik Derita