Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 84: 9-13
Doa umat yang terancam
Dalam kehidupan ini kita sering dihadapkan pada pilihan tentang apa yang paling berharga bagi setiap kita. Mungkin ada yang mengejar kekayaan, ada yang menghabiskan hidup untuk mencari jabatan.
Ada yang rela mengorbankan keluarga demi kesuksesan. Semua pilihan itu menunjukkan apa yang dianggap paling bernilai di dalam hidupnya.
Mazmur 84 mengajukan sebuah pertanyaan yang sama kepada setiap kita. Apa yang paling berharga di dalam hidup kita?
Bagi pemazmur jawabannya sangat jelas. Tidak ada yang lebih bernilai daripada hidup dekat dengan Tuhan.
Mazmur 84 : 9-13
9 Ya TUHAN, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya Allah Yakub. Sela
10 Lihatlah perisai kami, ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi!
11 Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.
12 Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan 4 dari orang yang hidup tidak bercela.
13 Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!
Ada seorang pengusaha yang suatu hari diminta untuk menceritakan apa pencapaian terbesar di dalam hidupnya.
Orang-orang mengira ia akan berbicara tentang perusahaannya yang ia bangun atau kekayaan yang ia berhasil kumpulkan.
Namun ia menjawab, “Pencapaian terbesar saya adalah ketika saya belajar bahwa kesuksesan tidak akan pernah bisa menggantikan damai sejahtera yang saya temukan di dalam Tuhan.”
Perkataan itu mengingatkan kita bahwa manusia dapat memiliki banyak hal tetapi tetap merasa kosong.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki Tuhan dapat tetap memiliki damai sekalipun hidupnya sederhana.
Bagian kedua Mazmur ini dimulai dengan sebuah doa, “Ya Tuhan Allah semesta alam, dengarkanlah doaku.”
Pemazmur datang kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa Allah itu mendengar. Kemudian dia berkata, “Lihatlah perisai kami, ya Allah. Pandanglah wajah orang yang Kauurapi.”
Pada masa itu, orang yang diurapi menunjuk kepada raja yang memimpin umat Allah. Pemazmur berdoa agar Tuhan tetap memelihara pemimpin mereka karena kesejahteraan bangsa sangat berkaitan dengan penyertaan Tuhan atas pemimpinnya.
Namun pusat dari bagian ini terdapat pada ayat yang setiap kita sudah kenal, bahkan mungkin hafal.
“Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain.”
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan puitis. Pemazmur sedang menyatakan nilai yang ia pegang di dalam hidupnya.
Satu hari menikmati hadirat Tuhan lebih berharga daripada waktu yang sangat lama di tempat lain, tapi di sana tidak ada Tuhan.
Lalu ia menambahkan, “Lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik.”
Berdiri di ambang pintu adalah posisi yang sangat sederhana. Pemazmur tidak berkata, “Aku ingin menjadi imam besar.”
Ia bahkan rela hanya menjadi penjaga pintu asalkan apa? Dia tetap berada dekat dengan Tuhan. Mengapa? Karena pemazmur tahu bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh posisi setiap kita, tetapi oleh Siapa yang kita dekati.
Kemudian ayat berikutnya memberikan alasan yang indah. “Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan perisai.”
Dua gambaran ini saling melengkapi. Matahari memberikan terang, kehangatan, dan kehidupan, perisai memberikan perlindungan. Artinya, Tuhan bukan hanya menuntun hidup kita, tetapi Dia juga akan menjaga hidup kita.
Pemazmur mengatakan kasih dan kemuliaan Ia berikan. Ia tidak menahan kebaikan dari hidup orang yang hidup tidak bercela. Ini bukan janji bahwa hidup orang percaya itu akan bebas dari segala kesulitan, melainkan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah menahan apa yang benar-benar baik bagi anak-anak-Nya.
Kadang kita menganggap sesuatu itu baik, tetapi Tuhan melihat jauh lebih dalam bahwa sebagai Bapa yang penuh kasih, Dia memberikan apa yang benar-benar kita perlukan sesuai dengan hikmat-Nya.
Apa yang kita anggap baik belum tentu itu adalah baik. Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk setiap kita.
Mazmur ini ditutup dengan sebuah ucapan bahagia. “Ya Tuhan semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu.”
Menarik bahwa akhirnya bukan dikatakan berbahagialah orang yang kaya, berbahagialah orang yang berhasil. Yang disebutkan berbahagia adalah orang yang percaya kepada Tuhan.
Kepercayaan kepada Allah menghasilkan damai yang tidak bergantung kepada keadaan. Karena itu, mari kita coba tanya kepada diri kita sendiri, “Apa sih yang paling saya cari setiap hari?”
Sering kali kita begitu sibuk mengejar banyak hal yang baik sampai tanpa sadar hubungan kita dengan Tuhan menjadi nomor dua.
Mazmur ini mengajak kita menyusun kembali prioritas hidup setiap kita. Jangan biarkan kesibukan membuat kita kehilangan waktu untuk menikmati waktu bersama dengan Tuhan.
Sebab ketika Tuhan menjadi harta terbesar, semua hal lain itu ditempatkan pada posisi yang benar.
Dunia akan terus menawarkan banyak hal yang nampaknya begitu menarik. Namun semua itu tidak dapat menggantikan sukacita untuk bisa hidup dekat dengan Tuhan.
Pemazmur telah menemukan rahasia kebahagiaan yang sejati. Bukan pada apa yang dimiliki, bukan pada apa atau di mana dia berada, tetapi pada Siapa yang menjadi pusat kehidupannya.
Orang yang menjadikan Tuhan sebagai harta terbesarnya akan menemukan sukacita yang tidak dapat diberikan maupun diambil oleh dunia ini.
Kiranya kita boleh semakin mengasihi Tuhan dan dapat berkata bersama dengan pemazmur, “lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain” Tuhan Yesus memberkati.
Doakan dan renungkan
*“Ya Tuhan semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu.”
* Kepercayaan kepada Allah menghasilkan damaisejahtera yang tidak bergantung pada keadaan.
Ku mau tetap percaya