Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 84:1-8
Rindu kepada kediaman Allah (part 1)
Setiap kita pasti memiliki tempat yang selalu ingin kita datangi seperti rumah keluarga, kota yang penuh kenangan, restoran, tempat makan, atau tempat wisata.
Mengapa kita rindu untuk pergi ke tempat itu? Karena di sana kita mungkin merasa diterima, merasa tenang, dan memiliki hubungan yang dalam.
Mazmur 84 mengungkapkan kerinduan yang jauh lebih besar daripada kerinduan kepada sebuah tempat.
Pemazmur merindukan hadirat Allah. Yang dirindukan bukan sekadar bangunan Bait Allah, melainkan kehadiran Allah itu sendiri.
Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak hal yang memuaskan hati, Mazmur ini mengingatkan bahwa hanya Tuhan yang dapat mengisi kerinduan terdalam hati manusia.
Mazmur 84:1-8
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah.
2 Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!
3 Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.
4 Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!
5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela
6 Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
7 Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.
8 Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.
Seorang perantau biasanya akan merasakan kebahagiaan yang sulit digambarkan ketika pada akhirnya bisa pulang ke rumah keluarganya.
Perjalanan yang ditempuh melelahkan dengan jarak jauh dan biaya yang tidak murah. Namun, semua terasa sepadan karena ada kerinduan untuk kembali ke tempat di mana ia merasa pulang. Kerinduan seperti inilah yang digambarkan oleh pemazmur.
Yang membedakan adalah bukan lokasi yang ia rindukan, melainkan bersekutu dengan Allah yang hidup. Mazmur ini diawali dengan seruan yang penuh dengan kekaguman.
Mazmur 84:2
2 Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!
Pernyataan ini bukan sekadar pujian terhadap keindahan Bait Allah, tetapi pemazmur sedang mengungkapkan kasihnya kepada Tuhan.
Mazmur 84:3
3 Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.
Ungkapan “jiwaku hancur” menunjukkan sebuah kerinduan yang sangat dalam. Seolah-olah seluruh keberadaannya tertarik untuk datang kepada Tuhan.
Bahkan ia berkata, “hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.” Seluruh dirinya, jiwa, hati, dan tubuh merindukan Allah.
Lalu pemazmur membuat sebuah gambaran yang sungguh indah. Ia melihat burung pipit dan burung layang-layang yang membuat sarang di dekat mezbah Tuhan. Burung-burung kecil itu tampaknya memiliki tempat yang aman di rumah Tuhan.
Oleh karena itu pemazmur berkata pada ayat 5,”Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu,”.
Harta yang banyak atau pencapaian yang kita peroleh memang bisa memberikan kebahagiaan kepada kita.
Namun, menurut pemazmur, kebahagiaan sejati bukan berasal dari hal-hal tersebut. Kebahagiaan sejati didapat dari hidup yang dekat dengan Tuhan.
Pemazmur beralih kepada para peziarah yang sedang menuju Sion. Di tengah perjalanan panjang yang mereka tempuh, mereka harus melewati lembah Baka.
Menurut penafsir, Baka adalah lambang tempat yang kering, tandus, bahkan tempat ratapan.
Pada ayat 7 dikatakan, “Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air…”
Perhatikan bagian ini, lembah itu tidak hilang dan tetap harus mereka lewati.
Tetapi karena mereka sedang berjalan menuju kepada Tuhan, tempat yang kering berubah menjadi tempat yang dipenuhi berkat karena mereka semangat, berbahagia, dan senang untuk datang kepada Tuhan.
Mazmur 84:8
8 Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.
Umumnya, perjalanan panjang akan membuat orang menjadi semakin lelah dan berjalan melambat.
Akan tetapi, pemazmur berkata sebaliknya, mereka justru semakin kuat. Mengapa? Karena tujuan perjalanan mereka adalah untuk menghadap Allah. Kerinduan kepada Tuhan memberi mereka kekuatan untuk terus melangkah.
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Mari kita memeriksa kembali kerinduan hati kita, apakah kerinduan terhadap Tuhan itu masih ada?
Di tengah banyaknya kesibukan pekerjaan, pelayanan, keluarga, dan beragam tanggung jawab, sangat mungkin kita tetap menjalani kehidupan sebagai seorang percaya.
Namun, apakah kerinduan akan Tuhan masih kita miliki?
2. Mari kita menyediakan waktu, bukan sekadar untuk menyelesaikan kewajiban/disiplin rohani, tetapi benar-benar untuk menikmati kehadiran Tuhan.
Kekuatan hidup orang percaya bukan lahir dari banyaknya aktivitas, melainkan dari hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Semakin kita menikmati kebersamaan dengan Tuhan, semakin kita dikuatkan untuk menghadapi perjalanan hidup kita.
Berkat terbesar bukanlah hidup yang tanpa lembah. Berkat terbesar adalah memiliki Tuhan yang menyertai di dalam setiap lembah kehidupan kita.
Ketika hati kita terus diarahkan kepada-Nya, bahkan perjalanan yang berat dapat menjadi tempat di mana kita mengalami kasih dan pemeliharaan Tuhan.
Doakan dan renungkan
* Kekuatan hidup orang percaya bukan dilihat dari banyaknya aktivitas, melainkan dari hubungan yang dekat dengan Allah.
* Dan berkat terbesar bukanlah hidup yang tanpa lembah, tanpa masalah, melainkan adanya Allah yang setia menyertai di setiap lembah kehidupan.
Perjalanan berat menjadi berkat