Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 83:1-19
Doa mohon pertolongan melawan musuh
Ada kalanya kita mungkin merasa seolah-olah tekanan itu datang dari berbagai arah sekaligus.
Masalah muncul mungkin di dalam keluarga kita, ada tantangan yang begitu berat.
Di tempat kita bekerja, mungkin kesehatan kita terganggu, rencana kita tidak berjalan seperti yang kita rencanakan.
Pada saat seperti itu kita mungkin merasa sendirian, seakan-akan semua keadaan itu sedang melawan kita.
Mazmur 83 lahir dari situasi yang hampir serupa, bangsa Israel bukan hanya menghadapi satu musuh tetapi banyak bangsa yang bersekutu untuk menghancurkan mereka.
Secara manusia, peluang mereka untuk bertahan itu sangat kecil, namun Pemazmur mengingatkan bahwa ketika umat Tuhan menghadapi banyak musuh, mereka tetap memiliki satu perlindungan yang tidak pernah berubah yaitu Tuhan mereka sendiri.
Mazmur 83:1-19
1 Mazmur Asaf: suatu nyanyian.
2 Ya Allah, janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Allah!
3 Sebab sesungguhnya musuh-musuh-Mu ribut, orang-orang yang membenci Engkau meninggikan kepala.
4 Mereka mengadakan permufakatan licik melawan umat-Mu, dan mereka berunding untuk melawan orang-orang yang Kaulindungi.
5 Kata mereka: "Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga nama Israel tidak diingat lagi!"
6 Sungguh, mereka telah berunding dengan satu hati, mereka telah mengadakan perjanjian melawan Engkau:
7 Penghuni kemah-kemah Edom dan orang Ismael, Moab dan orang Hagar,
8 Gebal dan Amon dan Amalek, Filistea beserta penduduk Tirus,
9 juga Asyur telah bergabung dengan mereka, menjadi kaki tangan bani Lot. Sela
10 Perlakukanlah mereka seperti Midian, seperti Sisera, seperti Yabin dekat sungai Kison,
11 yang sudah dipunahkan di En-Dor, menjadi pupuk bagi tanah.
12 Buatlah para pemuka mereka seperti Oreb dan Zeeb, seperti Zebah dan Salmuna semua pemimpin mereka,
13 yang berkata: "Marilah kita menduduki tempat-tempat kediaman Allah!"
14 Ya Allahku, buatlah mereka seperti dedak yang beterbangan, seperti jerami yang ditiup angin!
15 Seperti api yang membakar hutan, dan seperti nyala api yang menghanguskan gunung-gunung,
16 kejarlah mereka dengan badai-Mu, dan kejutkanlah mereka dengan puting beliung-Mu;
17 penuhilah muka mereka dengan kehinaan, supaya mereka mencari nama-Mu, ya TUHAN!
18 Biarlah mereka mendapat malu dan terkejut selama-lamanya; biarlah mereka tersipu-sipu dan binasa,
19 supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.
Dalam sejarah, kita sering melihat negara-negara kecil bertahan bukan karena jumlah tentaranya yang lebih banyak, tetapi karena mereka memiliki sekutu yang jauh lebih kuat.
Keberadaan sekutu itu mengubah cara mereka menghadapi ancaman.
Mereka tidak lagi hanya melihat besarnya musuh, tetapi juga melihat siapa yang berdiri bersama dengan mereka.
Begitu pula kehidupan setiap kita sebagai orang percaya, sering kali kita terlalu lama memandang besarnya persoalan, besarnya masalah, sehingga kita lupa siapa yang ada bersama dengan kita.
Mazmur ini dibuka dengan seruan yang jujur, “Ya Allah, janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan”.
Pemazmur merasa keadaan begitu mendesak sehingga dia memohon agar Tuhan itu segera betindak melakukan sesuatu.
Lalu dia menggambarkan apa yang sedang terjadi, bahwa bangsa-bangsa di sekitar mereka itu bersekutu bekerjasama dan mereka memiliki satu tujuan, untuk apa?
Ayat 5, “Kata mereka, marilah kita melenyapkan mereka sebagai suatu bangsa”.
Pemazmur menyadari bahwa serangan itu bukan hanya ditujukan kepada bangsa Israel.
Di ayat 6 dikatakan, mereka telah mengadakan perjanjian melawan Engkau, artinya ketika bangsa-bangsa itu sedang menyerang umat Allah mereka sebenarnya sedang menentang Allah itu sendiri.
Inilah yang memberikan penghiburan, pergumulan umat Tuhan tidak pernah luput dari perhatian Tuhan.
Apa yang menyentuh umat-Nya, juga menyentuh hatinya Tuhan.
Kemudian Pemazmur mengingatkan kembali bagaimana Tuhan pernah menyelamatkan bangsa Israel pada masa yang lalu.
Pemazmur menyebutkan Midian, Sisera, Yabin, Oreb, Zeeb, Zebah dan Salmuna, semua nama ini mengingatkan kita kepada kisah-kisah ketika Allah memberikan kemenangan yang mustahil melalui Gideon, Debora dan pemimpin-pemimpin lainnya.
Mengapa pemazmur mengingat sejarah? karena iman selalu dikuatkan ketika kita mengingat pekerjaan Tuhan di masa yang lampau.
Lalu muncul bagian yang sering terasa keras ketika kita membacanya, Pemazmur memohon supaya Tuhan menghukum musuh-musuhnya, namun kita perlu memperhatikan tujuan akhirnya.
Ayat 17 berkata, “Penuhilah muka mereka dengan kehinaan supaya mereka mencari namamu ya Tuhan”, dan mazmur ini ditutup dengan kalimat yang sangat penting, “Supaya mereka tahu Engkau sajalah yang bernama Tuhan yang maha tinggi atas seluruh bumi”.
Jadi tujuan akhirnya bukan sekedar kehancuran musuh, bukan sekedar menang tetapi tujuan akhirnya adalah pengenalan akan Allah yang benar.
Pemazmur rindu agar semua bangsa itu mengetahu bahwa hanya Tuhan Allah yang sejati.
Ini menunjukkan bahwa bahkan di tengah doa memohon keadilan, hati Allah tetap mengarah kepada pernyatan kemuliaan-Nya.
Hari ini, ketika kita menghadapi tekanan atau persoalan yang terasa begitu berat dan besar, jangan mulai dengan menghitung berapa banyak masalah yang sedang dihadapi.
Mulailah dengan mengingat siapa yang menyertai kita.
Semakin kita memusatkan perhatian kepada besarnya persoalan, maka semakin mudah kita akan dikuasai oleh rasa takut itu.
Sebaliknya, semakin kita mengenal kebesaran Tuhan maka semakin kita akan mampu menghadapi keadaan dengan lebih tenang.
Bukan karena persoalan yang kecil tetapi karena kita percaya bahwa tidak ada persoalan yang lebih besar dari pada Allah yang kita sembah.
Mazmur 83 mengajarkan bahwa umat Tuhan tidak pernah dijanjikan hidup itu tanpa musuh, tanpa kesulitan, tanpa pergumulan.
Kita dijanjikan bahwa Tuhan akan tetap memegang kendali.
Dia melihat, Dia bertindak dan pada akhirnya Dia akan menyatakan bahwa hanya Dialah Allah yang maha tinggi atas seluruh bumi.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Jangan biarkan ketakutan menguasai hati kita.
2. Marilah kita datang kepada-Nya dan tetap berlindung kepada Tuhan yang tidak pernah kehilangan kuasa-Nya.
Orang percaya tidak menghadapi hidup dengan keyakinan bahwa musuhnya besar tetapi dengan keyakinan bahwa Allahnya jauh lebih besar dari apapun yang sedang dihadapi.
Kiranya Tuhan memberkati setiap kita.
Doakan dan renungkan
* Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup orang percaya tanpa; kesulitan, kekecewaan dan air mata.
* Tapi kita percaya bahwa tidak ada persoalan yang sedemikian besar hingga Allah tak sanggup menolong kita.
Allah ku sanggup