Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 15 September 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 79 : 1-13

Doa umat yang terancam


Saya yakin setiap kita sebagai orang percaya, kita berdoa. Pertanyaannya, mengapa kita berdoa? Sering kali jawabannya sederhana, karena kita membutuhkan pertolongan Tuhan.


Ketika sakit, kita berdoa memohon kesembuhan. Ketika menghadapi masalah, kita memohon untuk bisa meminta jalan keluar. Ketika berada dalam kesulitan, kita memohon kekuatan dari Tuhan. Semua itu baik, betul.


Tuhan memang mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan segala kebutuhan kita.


Namun, Mazmur 79 mengajarkan satu hal yang lebih dalam. Adakalanya doa kita bukan lagi berpusat kepada kenyamanan diri kita, melainkan pada kemuliaan nama Tuhan.


Mazmur 76 : 1-13


1 Mazmur Asaf. Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing.


2 Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi.


3 Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan.


4 Kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami.


5 Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api?


6 Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas bangsa-bangsa yang tidak mengenal Engkau, ke atas kerajaan-kerajaan yang tidak menyerukan nama-Mu;


7 sebab mereka telah memakan habis Yakub, dan tempat kediamannya mereka hancurkan.


8 Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami.


9 Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!


10 Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: "Di mana Allah mereka?" Biarlah di hadapan kami bangsa-bangsa lain mengetahui pembalasan atas darah yang tertumpah dari hamba-hamba-Mu.


11 Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!


12 Dan balikkanlah ke atas pangkuan tetangga kami tujuh kali lipat cela yang telah didatangkan kepada-Mu, ya Tuhan!


13 Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.


Mari kita bayangkan seorang anak yang membawa nama baik keluarganya. Ketika dia bertindak dengan jujur, orang lain akan menghormati keluarganya.


Sebaliknya, ketika ia hidup sembarangan, bukan hanya dirinya yang dipandang buruk, tetapi keluarganya juga akan ikut dilihat buruk.


Nama seseorang memiliki makna, nama berkaitan dengan kehormatan dan reputasi. Dalam Alkitab, nama Tuhan berbicara tentang pribadi-Nya, karakter-Nya, dan kemuliaan-Nya.


Karena itu, ketika pemazmur berdoa, yang terutama ia rindukan bukan sekadar perubahan keadaan, melainkan agar nama Tuhan tetap dimuliakan.


Mazmur 79 ini lahir dari sebuah masa yang kelam dan tidak menyenangkan. Yerusalem telah dihancurkan.


Bait Allah dinajiskan, orang-orang mati bergelimpangan tanpa sempat untuk dikuburkan. Bangsa-bangsa di sekitar mengejek umat Tuhan dan pemazmur tidak menutupi kenyataan pahit ini.


Ia membawa semuanya dengan jujur ke hadapan Tuhan. Di tengah ratapan itu, dia bertanya, "Berapa lama lagi, ya Tuhan?"


Ini pertanyaan yang sering muncul di dalam doa orang percaya. Ketika penderitaan itu terasa begitu panjang, pertanyaan ini muncul, berapa lama lagi?


Tapi yang menarik, doa pemazmur kemudian berubah arah. Ia tidak hanya meminta agar penderitaannya segera berakhir.


Dia berkata, "Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami." Sebelum berbicara tentang musuh, ia terlebih dahulu mengakui kebutuhan akan belas kasihan Tuhan.


Pemazmur sadar bahwa umat Tuhan tidak layak menuntut pertolongan dari Allah. Seolah-olah mereka itu tidak pernah bersalah.

Mereka membutuhkan pengampunan sama seperti mereka membutuhkan kelepasan. Muncullah ayat selanjutnya.


Mazmur 79 : 9


Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!


Perhatikan alasan yang dipakai. Bukan karena mereka layak, bukan karena jasa mereka, bukan pula karena mereka bangsa yang kuat.


Pemazmur memohon pertolongan berdasarkan nama Tuhan. Ia percaya bahwa Allah akan bertindak sesuai dengan karakter-Nya yang penuh kasih, setia, dan benar.


Ayat berikutnya menambahkan, "Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata, 'Di mana Allah mereka?'"


Ini bukan sekadar soal harga diri dari bangsa Israel. Pemazmur rindu agar bangsa-bangsa mengenal bahwa Allah Israel itu adalah Allah yang hidup, yang menolong mereka, menyertai mereka.


Di akhir Mazmur, suasananya berubah menjadi pengharapan. Ia berkata, "Maka kami ini umat-Mu dan kawanan domba gembalaan-Mu akan bersyukur kepada-Mu untuk selama."


Meskipun keadaan masih tetap sama ketika doa itu dinaikkan, pemazmur sudah melihat dengan iman bahwa Tuhan layak untuk dipuji dan ditinggikan.


Ratapan berubah menjadi penyembahan karena harapan mereka bertumpu kepada Allah. Mari kita coba untuk membawa setiap doa-doa kita dengan satu pertanyaan sederhana.


“Apakah yang saya minta ini akan memuliakan nama Tuhan atau tidak?”


Ketika kita berdoa untuk pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau pelayanan, jangan hanya memohon agar hidup kita menjadi lebih mudah atau lebih baik.


Mintalah agar melalui jawaban Tuhan, orang lain dapat melihat kasih, kesetiaan, dan kuasa-Nya.


Doa seperti ini mengubah cara kita memandang hidup. Kita tidak lagi hanya mengejar berkat, tetapi kita rindu agar melalui hidup setiap kita, nama Tuhan semakin dimuliakan, dihormati, ditinggikan.


Mazmur yang tadi kita baca mengajarkan bahwa di tengah reruntuhan, di tengah air mata, umat Tuhan masih memiliki alasan untuk berdoa.


Bukan karena mereka kuat, bukan karena kita layak, tetapi karena kita mengenal Allah yang penuh belas kasihan itu. Kita memiliki Allah yang tidak pernah meninggalkan kita.


Kiranya setiap doa yang kita naikkan bukan hanya berisi permohonan untuk diri kita, tetapi juga kerinduan agar nama Tuhan dimuliakan melalui setiap bagian dari kehidupan kita.


Doa yang paling dalam bukan hanya memohon agar keadaan berubah, tetapi agar nama Tuhan semakin dimuliakan melalui hidup setiap kita.


Kiranya Tuhan memberkati setiap kita.


Doakan dan renungkan


* Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!


* Pemazmur memohon pertolongan berdasarkan nama Tuhan bukan karena merasa layak. Ia percaya bahwa Allah akan bertindak sesuai dengan karakter-Nya yang penuh kasih, setia, dan benar.


Bersandar pada Karakter Allah