Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 78:56-72
Pelajaran dari sejarah (part 4)
Sering kali seseorang dinilai dari kemampuannya. Kita mengagumi orang yang cerdas, menghargai orang berpengalaman, mencari pemimpin yang pandai mengambil keputusan.
Semua itu memang penting dan baik, namun firman Tuhan menunjukkan bahwa Tuhan melihat sesuatu yang lebih dalam dari kemampuan, yaitu hati.
Di bagian akhir Mazmur 78, kita melihat kontras yang sangat tajam. Bangsa Israel gagal karena hati mereka terus berpaling dari Tuhan. Sebaliknya, Allah memilih Daud, seorang gembala muda untuk memimpin umat-Nya.
Mazmur 78:56-72
56 Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya;
57 mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya;
58 mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka.
59 Ketika Allah mendengarnya, Ia menjadi gemas, Ia menolak Israel sama sekali;
60 Ia membuang kediaman-Nya di Silo kemah yang didiami-Nya di antara manusia;
61 Ia membiarkan kekuatan-Nya tertawan, membiarkan kehormatan-Nya jatuh ke tangan lawan;
62 Ia membiarkan umat-Nya dimakan pedang, dan gemaslah Ia atas milik-Nya sendiri.
63 Anak-anak teruna mereka dimakan api, dan anak-anak dara mereka tidak lagi dipuja dengan nyanyian perkawinan;
64 imam-imam mereka gugur oleh pedang, dan janda-janda mereka tidak dapat menangis.
65 Lalu terjagalah Tuhan, seperti orang yang tertidur, seperti pahlawan yang siuman dari mabuk anggur;
66 Ia memukul mundur para lawan-Nya, Ia menyebabkan mereka mendapat cela untuk selama-lamanya.
67 Ia menolak kemah Yusuf, dan suku Efraim tidak dipilih-Nya,
68 tetapi Ia memilih suku Yehuda, gunung Sion yang dikasihi-Nya;
69 Ia membangun tempat kudus-Nya setinggi langit, laksana bumi yang didasarkan-Nya untuk selama-lamanya;
70 dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba;
71 dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri.
72 Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.
Ketika orang membangun rumah, perhatiannya biasa tertuju pada bagian luar: bentuk fasad, cat dinding, model atap, dan desain eksteriornya.
Akan tetapi, seorang insinyur akan lebih dahulu memastikan fondasinya, karena rumah yang indah tidak akan bertahan lama jika fondasinya bermasalah.
Demikian pula dengan kehidupan rohani kita. Orang dapat memiliki banyak kemampuan, jabatan, ataupun pelayanan, tetapi Tuhan terlebih dahulu melihat fondasi hati kita.
Bagian ini dimulai dengan gambaran yang menyedihkan. Dikatakan walaupun Tuhan telah membawa Israel masuk ke tanah perjanjian, mereka tetap tidak hidup setia kepada-Nya.
Mazmur 78:56
Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya;
Mereka bukan bangsa yang tidak mengenal Allah; mereka mengetahui hukum-Nya, mengalami pertolongan-Nya, namun pengetahuan itu tidak diikuti oleh ketaatan.
Ayat 57 menggambarkan mereka berubah seperti busur yang memperdaya.
Busur yang rusak mungkin tampak baik dari luar, tetapi ketika dipakai anak panah itu akan melenceng ke kanan dan kiri sehingga tidak akan tepat mengenai sasarannya.
Demikian pula kehidupan bangsa Israel, dari luar mereka disebut umat Allah namun hati mereka tidak lagi tertuju kepada Tuhan.
Mereka bahkan mendirikan bukit-bukit pengorbanan dan menyembah patung-patung berhala. Oleh karena itu, Allah menghukum mereka.
Mazmur ini mengingatkan peristiwa di Silo, pusat ibadah bangsa Israel pada waktu itu yang ditinggalkan oleh Tuhan.
Tabut Allah jatuh ke tangan musuh. Imam-imam gugur dan bangsa itu mengalami kekalahan yang menyakitkan.
Semua ini menunjukkan kehadiran simbol-simbol agama tidak dapat menggantikan kehidupan yang taat kepada Allah. Namun, kisah ini tidak berakhir dengan sebuah penghukuman.
Mulai dari ayat 65 suasananya berubah. Allah kembali bertindak, Ia memukul mundur musuh-Nya dan memulai sebuah babak baru dalam sejarah bangsa Israel.
Ia memilih suku Yehuda, gunung Sion. Lalu Ia memilih seorang yang tidak terduga, yaitu Daud.
Mazmur ini mengingatkan bahwa Daud bukan dipanggil dari istana, melainkan dari kandang domba.
Daud sedang menggembalakan ternak ketika Tuhan memanggilnya untuk menggembalakan umat-Nya. Mengapa Daud?
Mazmur 78:72
Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.
Ayat ini berisi jawaban mengapa Daud dipilih. Berdasarkan urutannya, bukan kecakapan yang disebut terlebih dahulu, melainkan ketulusan hati.
Daud bukan manusia yang sempurna. Alkitab dengan jujur mencatat kegagalan yang dilakukan oleh Daud.
Namun, secara keseluruhan hidupnya ditandai oleh hati yang terus kembali kepada Tuhan ketika ia jatuh.
Daud menjadi gambaran yang menunjuk kepada Yesus Kristus, anak Daud sang Gembala Agung.
Jika Daud menggembalakan Israel dengan ketulusan yang terbatas, maka Yesus menggembalakan umat-Nya dengan kasih yang sempurna.
Dia tidak hanya memimpin kita, tetapi juga menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Hari ini mari kita lebih memperhatikan kondisi hati kita daripada sekadar penampilan rohani kita.
Kita bisa saja tetap beribadah dan melayani, menjalani rutinitas sebagai orang Kristen, semua itu baik dan harus kita lakukan.
Namun, mari kita bertanya dengan jujur: Apakah hati saya masih mengasihi Tuhan seperti dahulu?
2. Mintalah agar Roh Kusus menjaga hati kita tetap lembut, mudah untuk diajar, cepat untuk bertobat ketika melakukan dosa.
Dari hati yang mengasihi Tuhan akan lahir ketaatan yang tulus dalam setiap aspek kehidupan kita.
Mazmur 78 bukan ditutup dengan kisah kegagalan bangsa Israel, tetapi dengan pengharapan: Allah tetap berkarya.
Ia membangkitkan seorang gembala untuk memimpin umat-Nya. Pada akhirnya, Ia mengaruniakan Yesus Kristus, sang Gembala Agung yang tidak pernah gagal memimpin setiap domba-Nya.
3. Marilah kita terus mengikuti suara Sang Gembala dan menyerahkan hati kita kepada-Nya setiap hari.
Doakan dan renungkan
* Daud menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.
* Dari hati yang mengasihi Tuhan akan lahir ketaatan yang tulus dalam setiap aspek kehidupan umatNya.
Kasih dan ketaatan yang tulus