Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Sabtu, 12 September 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 78:12-39

Pelajaran dari sejarah (part 2)


Salah satu pergumulan dari hidup orang percaya bukanlah apakah Tuhan sanggup melakukan mujizat, menolong setiap kita. Kita percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi.


Seringkali pergumulan kita adalah apakah Tuhan akan memelihara ketika kebutuhan hidup semakin besar, kesehatan semakin menurun, pekerjaan terasa tidak pasti, masa depan yang tampak kabur tidak jelas.


Hati kita mulai dipenuhi kekhawatiran, tanpa sadar kita mulai mempertanyakan pemeliharaan Tuhan.


Bukan hanya kita, bangsa Israel juga mengalami pergumulan ini, bahkan setelah mereka mengalami mujizat yang Tuhan lakukan.


Mazmur 78:12-39

Pelajaran dari sejarah


12 Di hadapan nenek moyang mereka dilakukan-Nya keajaiban-keajaiban, di tanah Mesir, di padang Zoan;


13 dibelah-Nya laut, diseberangkan-Nya mereka; didirikan-Nya air sebagai bendungan,


14 dituntun-Nya mereka dengan awan pada waktu siang, dan semalam suntuk dengan terang api;


15 dibelah-Nya gunung batu di padang gurun, diberi-Nya mereka minum banyak air seperti dari samudera raya;


16 dibuat-Nya aliran air keluar dari bukit batu, dan dibuat-Nya air turun seperti sungai.


17 Tetapi mereka terus berbuat dosa terhadap Dia, dengan memberontak terhadap Yang Mahatinggi di padang kering.


18 Mereka mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan menuruti nafsu mereka.


19 Mereka berkata terhadap Allah: “Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?


20 Memang, Ia memukul gunung batu, sehingga terpancar air dan membanjir sungai-sungai; tetapi sanggupkah Ia memberikan roti juga, atau menyediakan daging bagi umat-Nya?”


21 Sebab itu, ketika mendengar hal itu, TUHAN gemas, api menyala menimpa Yakub, bahkan murka bergejolak menimpa Israel,


22 sebab mereka tidak percaya kepada Allah, dan tidak yakin akan keselamatan dari pada-Nya.


23 Maka Ia memerintahkan awan-awan dari atas membuka pintu-pintu langit,


24 menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan dan memberikan kepada mereka gandum dari langit;


25 setiap orang telah makan roti malaikat, Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-limpah.


26 Ia telah menghembuskan angin timur di langit dan menggiring angin selatan dengan kekuatan-Nya;


27 Ia menurunkan kepada mereka hujan daging seperti debu banyaknya, dan hujan burung-burung bersayap seperti pasir laut;


28 Ia menjatuhkannya ke tengah perkemahan mereka, sekeliling tempat kediaman itu.


29 Mereka makan dan menjadi sangat kenyang; Ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan.


30 Mereka belum merasa puas, sedang makanan masih ada di mulut mereka;


31 maka bangkitlah murka Allah terhadap mereka: Ia membunuh gembong-gembong mereka, dan menewaskan teruna-teruna Israel.


32 Sekalipun demikian mereka masih saja berbuat dosa dan tidak percaya kepada perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib.


33 Sebab itu Ia membuat hari-hari mereka habis dalam kesia-siaan, dan tahun-tahun mereka dalam kekejutan.


34 Apabila Ia membunuh mereka, maka mereka mencari Dia, mereka berbalik dan mengingini Allah;


35 mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka, dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah penebus mereka.


36 Tetapi mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia.


37 Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.


38 Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya.


39 Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali.


Seorang anak kecil mungkin sangat percaya bahwa ayahnya kuat dan sanggup.


Mungkin anak ini pernah melihat ayahnya mengangkat barang berat, namun bisa saja saat berada di toko mainan anak ini bertanya apakah ayahnya mampu membelikan sesuatu yang ia inginkan?


Masalahnya bukan karena ayahnya tidak mampu, masalahnya anak ini belum benar-benar mempercayai kasih dan pemeliharaan ayahnya.


Demikian pula dengan kita, kadang kita mengakui kuasa Tuhan, tetapi masih meragukan apakah Tuhan sanggup mencukupkan kebutuhan kita.


Asaf mengajak umat untuk mengingat kembali perjalanan bangsa Israel di padang gurun, ia menyebutkan satu demi satu karya Allah yang luar biasa.


Tuhan membelah laut sehingga bangsa Israel bisa menyeberang, Ia memimpin mereka dengan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari, Ia membelah gunung batu sehingga air bisa mengalir ke tempat kering.


Semua itu menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya membebaskan bangsa Israel dari Mesir, tetapi juga memelihara mereka setiap hari.


Namun setelah semua pengalaman itu, di ayat 17-19 mereka terus berbuat dosa terhadap Dia, mereka mulai mencobai Allah dengan menuntut makanan sesuai dengan keinginan mereka.


Muncullah pertanyaan ironis: sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun? Padahal mereka baru saja menyaksikan Tuhan mengeluarkan air dari gunung batu.


Mereka tidak meragukan kuasa Tuhan pada masa yang lalu, tetapi mereka meragukan pemeliharaan Tuhan untuk hari ini. Inilah masalahnya dan persoalannya:


Mazmur 78:22

sebab mereka tidak percaya kepada Allah, dan tidak yakin akan keselamatan dari pada-Nya.


Ketidakpercayaan berarti menyangkal keberadaan Allah, ketidakpercayaan juga muncul ketika kita berhenti bahwa Tuhan akan memelihara hidup kita.


Menariknya, Tuhan tetap memberikan manna dari langit, Ia bahkan mengirimkan burung puyuh yang sangat banyak. Pemeliharaan-Nya tidak pernah kurang, tetapi hati manusia tetap tidak pernah merasa cukup.


Mazmur 78:30

Mereka belum merasa puas, sedang makanan masih ada di mulut mereka;


Kalimat ini sangat relevan sampai hari ini. Masalah terbesar seringkali bukan sedikitnya berkat dari Tuhan, melainkan hati manusia yang tidak pernah puas.


Asaf kemudian menunjukkan pola yang terus berulang, ketika dihukum bangsa Israel mencari Tuhan, mereka berkata Tuhan adalah gunung batu dan penebus mereka, tetapi hal itu hanya sebatas kata-kata.


Ayat 36 dan 37 berkata mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, hati mereka tidak tetap kepada Dia.


Mereka menginginkan pertolongan Tuhan, tetapi tidak ingin sungguh-sungguh hidup bersama Tuhan.


Ayat 38 menutup dengan berita yang indah, tetapi Allah bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka.


Allah tetap adil terhadap dosa, namun belas kasihan-Nya lebih besar daripada kegagalan umat-Nya. Ia tetap sabar karena Ia mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas.


Kasih karunia Tuhan selalu mendahului kita untuk kembali kepada-Nya.


Pesan Firman Tuhan:


1. Mari kita belajar untuk mempercayai pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita.


Seringkali kita lebih mengingat pertolongan Tuhan di masa yang lalu,daripada mempercayai-Nya untuk kebutuhan hari ini.


Padahal, Allah yang membelah laut bagi bangsa Israel adalah Allah yang sama dengan Allah yang memberi mereka manna setiap hari.


Mungkin saat ini kita sedang memikirkan kebutuhan keluarga, kesehatan, pekerjaan atau masa depan, jangan biarkan kekhawatiran perlahan berubah menjadi keraguan terhadap Allah.


Percayalah, Tuhan tidak hanya sanggup melakukan perkara besar, Ia juga setia memelihara anak-anak-Nya dalam kebutuhan sehari-hari.


Bagian kita adalah tetap berjalan dalam ketaatan sambil mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya.


Mazmur ini mengingatkan bahwa persoalan terbesar bangsa Israel bukan kurangnya mujizat, mereka telah banyak melihat karya Allah.


Persoalannya adalah mereka berhenti percaya bahwa Allah yang sama akan terus memelihara.


Kiranya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.


2. Mari kita menjalani setiap hari dengan hati yang tenang, karena Bapa yang di surga yang telah menolong kita, tidak akan berhenti memegang kehidupan kita.


Doakan dan renungkan


* Persoalan terbesar bangsa Israel bukan kurangnya mujizat Tuhan.


* Persoalan mereka adalah tidak percaya bahwa Allah yang sama akan terus memelihara. Mereka menginginkan pertolongan, tetapi tidak sungguh hidup bersamaNya.


Mulut meminta, hati tak percaya