Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 78:1-11
Pelajaran Dari Sejarah (Part 1)
Setiap keluarga pasti mempunyai cerita. Ada cerita tentang perjuangan membangun kehidupan, ada cerita di mana mengalami kesulitan di masa-masa yang tidak mudah, ada cerita tentang sukacita dan keberhasilan.
Cerita-cerita itu sering diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, tetapi dalam Mazmur 78 mengingatkan bahwa ada satu cerita yang tidak boleh hilang atau dilupakan, yaitu cerita tentang karya dan kesetiaan Tuhan.
Asaf memahami bahwa jika satu generasi berhenti menceritakan siapa itu Tuhan dan kebesaran-Nya, maka generasi berikutnya akan kehilangan dasar iman.
Karena itu ia menulis mazmur ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteruskan.
Mazmur 78:1-11
78:1 Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.
78:2 Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala.
78:3 Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami,
78:4 kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya.
78:5 Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka,
78:6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka,
78:7 supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya;
78:8 dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
78:9 Bani Efraim, pemanah-pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada hari pertempuran;
78:10 mereka tidak berpegang pada perjanjian Allah dan enggan hidup menurut Taurat-Nya.
78:11 Mereka melupakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, yang telah diperlihatkan-Nya kepada mereka.
Di banyak tempat ada tradisi di mana keluarga berkumpul untuk mendengarkan cerita dari orang tua atau kakek nenek mereka.
Melalui cerita itu, anak-anak mengenal asal-usul keluarga mereka, memahami nilai-nilai yang dijunjung, dan belajar menghargai perjalanan orang-orang sebelum mereka.
Pada akhirnya membentuk identitas mereka bukan hanya nama keluarga, tetapi dari cerita yang mereka dengar berulang kali.
Begitu pula dalam kehidupan rohani setiap kita, iman tidak hanya dibangun melalui informasi, tetapi juga melalui kisah tentang bagaimana Tuhan bekerja di dalam kehidupan umat-Nya.
Mazmur 78:1
78:1 Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.
Mazmur ini diawali dengan sebuah ajakan, "Pasanglah telinga untuk pengajaranku”, Asaf ingin agar umat itu benar-benar memperhatikan apa yang akan disampaikannya.
Ia tidak sedang memberikan pendapatnya pribadi, tetapi hendak mengajarkan pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan umat Allah.
Mazmur 78:3
78:3 Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami,
Ia berkata bahwa apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang telah didengar dari nenek moyang mereka, artinya, iman bangsa Israel itu dibangun melalui pewarisan yang terus berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya.
Mazmur 78:4
78:4 kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya.
Lalu muncullah pernyataan yang menjadi pusat dari bagian ini, “Kami tidak hendak menyembunyikan kepada anak-anak mereka”, Kalimat ini menunjukkan adanya sebuah keputusan.
Mereka memilih untuk tidak membiarkan karya Tuhan itu terlupakan. yang akan mereka ceritakan bukan kisah tentang keberanian manusia atau keberhasilan bangsa Israel.
Tetapi puji-pujian kepada Tuhan, kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan oleh Tuhan fokusnya selalu kepada Allah.
Mengapa hal ini begitu penting? Ayat 6 dan 7 menjawabnya:
Mazmur 78:6-7
78:6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka,
78:7 supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya;
Perhatikan tujuannya bukan hanya sekedar agar anak-anak itu mengetahui sejarah, bukan pula supaya mereka memiliki pengetahuan Alkitab yang banyak.
Tujuannya adalah supaya keturunan selanjutnya itu menaruh kepercayaan kepada Allah, pengenalannya akan karya Tuhan seharusnya menghasilkan iman.
Mazmur 78:8-9
78:8 dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
78:9 Bani Efraim, pemanah-pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada hari pertempuran;
Sebaliknya, Asaf mengingatkan bahaya yang harus dihindari, ia berbicara tentang angkatan yang tidak tetap hati dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
Contoh itu kemudian digambarkan melalui bani Efraim, meskipun memiliki perlengkapan perang, mereka gagal karena tidak berpegang kepada perjanjian Allah.
Mazmur 78:11
78:11 Mereka melupakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, yang telah diperlihatkan-Nya kepada mereka.
Ayat 11 merangkum akar persoalannya, lupa di sini bukan berarti mereka kehilangan ingatan.
Mereka masih mengetahui kisah-kisah itu, namun kisah tentang Tuhan itu tidak lagi mempengaruhi cara hidup mereka. Mereka mengetahui pekerjaan Tuhan tetapi tidak lagi hidup dengan percaya kepada Tuhan.
Inilah peringatan bagi setiap generasi, iman tidak dapat dipelihara hanya dengan mengenang masa lalu. Kisah tentang Tuhan harus terus diceritakan dan dihidupi agar setiap generasi mengenalnya secara pribadi.
1. Hari ini mari kita mulai untuk lebih sering menceritakan tentang kesetiaan Tuhan.
Ketika kita berkumpul bersama keluarga, anak-anak, cucu atau mungkin orang-orang lain yang lebih muda dari kita, jangan hanya berbicara tentang pekerjaan, sekolah atau rencana hidup.
Itu baik dan perlu, tetapi jangan sampai kita lupa untuk menceritakan pengalaman kita bersama dengan Tuhan.
Apa yang Allah sudah kerjakan di tengah-tengah keluarga kita, di tengah-tengah kehidupan kita.
Ceritakan bagaimana Tuhan pernah menolong, menghibur, membukakan jalan, dan menjawab doa setiap kita.
Kesaksian yang sederhana seringkali menjadi benih iman bagi orang lain.
Mereka mungkin tidak akan mengingat semua nasihat kita, tetapi mereka akan mengingat cerita tentang Allah yang nyata bekerja di dalam hidup setiap kita,
2. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk meneruskan iman kepada generasi berikutnya.
Bukan dengan paksaan, bukan hanya dengan teori, tetapi dengan terus menceritakan siapa Tuhan dan apa yang Ia telah kerjakan.
Kiranya ketika orang-orang di sekitar kita mengenang hidup yang kita sudah ceritakan, mereka bukan hanya mengingat siapa kita, tetapi juga mengenal Tuhan yang kita Imani dan kita layani.
Iman yang hidup selalu memiliki cerita tentang kesetiaan Tuhan dan cerita itu layak untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.
Kiranya Tuhan boleh menolong setiap kita.
Doakan dan renungkan
* Iman tidak dapat dipelihara hanya dengan mengenang masa lalu. Kisah tentang Tuhan perlu kita dengar dan hidupi.
* Iman yang hidup selalu memiliki cerita tentang kesetiaan Tuhan dan cerita itu layak untuk diteruskan dari generasi ke generasi.
Kesaksian yang hidup