Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 77:1-11
Perbuatan Allah di masa lampau (part 1)
Ada saat di kehidupan; kita berdoa, memohon, menanti dengan sungguh-sungguh; jawaban yang diharapkan belum juga datang. Tidak sedikit orang mulai bertanya, “Apakah Tuhan masih mendengar doaku?”
Mazmur 77 mengajak kita masuk ke dalam pergumulan demikian. Mazmur ini bukan dimulai dengan sukacita, melainkan dengan tangisan.
Asaf mengalami masa begitu berat hingga merasa gelisah saat hatinya mengingat Allah. Namun, melalui pergumulan jujur ini, kita belajar bagaimana tetap mencari Tuhan di tengah malang kehidupan.
Mazmur 77:1-11
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut: Yedutun. Mazmur Asaf.
2 Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, dengan nyaring kepada Allah, supaya Ia mendengarkan aku.
3 Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, jiwaku enggan dihiburkan.
4 Apabila aku mengingat Allah, maka aku mengerang, apabila aku merenung, makin lemah lesulah semangatku. Sela
5 Engkau membuat mataku tetap terbuka; aku gelisah, sehingga tidak dapat berkata-kata.
6 Aku memikir-mikir hari-hari zaman purbakala, tahun-tahun zaman dahulu aku ingat.
7 Aku sebut-sebut pada waktu malam dalam hatiku, aku merenung, dan rohku mencari-cari:
8 "Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi?
9 Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun?
10 Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?" Sela
11 Maka kataku: "Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah."
Saat seseorang berada di dalam kabut yang sangat gelap, jarak pandangnya menjadi sangat terbatas. Jalan yang sebenarnya masih ada, terasa seolah-olah menghilang.
Bukan karena jalannya hilang, tetapi karena kabut menutupi pandangan. Saat hati diliputi kesulitan dan tekanan yang berat, kita mulai sulit melihat penyertaan Tuhan.
Bukan karena Tuhan meninggalkan kita, tetapi karena rasa sakit mengaburkan pandangan iman kita.
Mazmur 77 diawali dengan sebuah keputusan penting. Asaf berkata, “Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah... supaya ia mendengarkan aku.”
Hal pertama yang Asaf lakukan ketika menghadapi kesusahan; bukan menjauh dari Tuhan, melainkan berseru kepada-Nya. Ayat berikutnya; ia mengatakan bahwa pada hari kesusahannya, ia mencari Tuhan.
Asaf tidak mengatakan bahwa ia mencoba melupakan masalahnya. Melainkan membawa segala pergumulannya kepada Allah. Ia berkata pada malam hari, tangannya terus terulur di dalam doa.
Ini menggambarkan doa yang sungguh-sungguh dan tidak menyerah. Ada satu kalimat yang menyentuh: …jiwaku enggan dihibur.
Asaf begitu terluka dan sedih. Penghiburan apa pun tidak mampu mengangkat beban hatinya.
Dalam ayat 4 disebutkan bahwa jika ia mengingat Allah, ia mengerang. Biasanya mengingat Tuhan, membawa ketenangan. Dalam pergumulan yang sangat dalam, Asaf semakin menangis ketika ia mengingat Allah.
Hal ini bukan berarti Asaf membenci Tuhan, melainkan ia sangat merindukan pertolongan-Nya. Ia terus merenung hingga tidak bisa tidur.
Lalu muncul serangkaian pertanyaan, seperti: Untuk selamanyakah Tuhan menolak? Sudah lenyapkah kasih setia-Nya? Sudah lupakah Allah menaruh belas kasihan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan ajaran bahwa Allah benar-benar berubah. Sebaliknya, ini adalah pergumulan hati seseorang yang sedang mencoba memahami keheningan dari Tuhan.
Mazmur 77:11
11 Maka kataku: "Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah."
Puncaknya di ayat 11, hal ini yang dirasakan oleh Asaf. Ia merasa seolah-olah Tuhan tidak lagi bertindak seperti dahulu. Tentu kita tahu, dari seluruh kesaksian Alkitab, Tuhan tidak pernah berubah.
Namun, Alkitab mencatat bahwa orang percaya juga bisa mengalami masa seakan perasaan mereka bertentangan dengan kebenaran yang mereka tahu. Justru di sini, kita melihat kasih karunia Tuhan.
Alkitab tidak menutupi pergumulan ini dan mengizinkan ratapan ini dicatat, agar kita tahu bahwa kita tidak sendirian saat mengalami malam yang gelap.
Terpenting, kita tetap datang kepada Tuhan meskipun hati kita dipenuhi dengan banyak pertanyaan.
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Jangan berhenti berdoa ketika Tuhan terasa diam.
Mari kita membawa pergumulan dengan jujur kepada-Nya.
2. Jangan menjadikan perasaan itu sebagai ukuran kebenaran.
Ada saat ketika kita merasa Tuhan itu jauh, tetapi Firman Tuhan mengajarkan bahwa DIa tetap setia.
Perasaan dapat berubah dari hari ke hari, tetapi karakter Allah tidak pernah berubah.
Mungkin kita sedang menjalani malam panjang. Doa belum terjawab, hati dipenuhi pertanyaan, Tuhan seolah diam.
Mazmur 77 mengajarkan kita tetap perlu datang kepada Allah. Meskipun kita belum melihat jawaban-Nya, Dia tetap mendengar setiap seruan anak-anakNya.
Doakan dan renungkan
* Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun? Sudah lupakah Allah menaruh kasihan…
* Orang percaya juga bisa mengalami masa dimana perasaan mereka bertentangan dengan kebenaran yang mereka tahu. Justru di saat seperti ini, kasih karunia Tuhan sangat nyata.
Saat Tuhan terasa diam.