Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 74:1-23
Nyanyian ratapan karena bait suci yang rusak
Mungkin ada saat dalam hidup kita, ketika kita melihat sesuatu yang sangat kita kasihi mengalami kehancuran.
Sebuah keluarga yang mungkin retak, sebuah pelayanan yang mungkin mulai merosot, sebuah gereja yang mengalami pergumulan atau mungkin kehidupan kita sendiri terasa seperti puing-puing yang berserakan.
Pada saat seperti itu muncul pertanyaan yang hampir sama dengan yang diucapkan oleh Pemazmur, “Ya Allah, mengapa?”
Hari ini mari kita sama-sama memperhatikan Mazmur 74 ini;
Mazmur 74:1-23
1 Nyanyian pengajaran Asaf.
Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya?
Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-Mu?
2 Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala,
yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri!
Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami.
3 Ringankanlah langkah-Mu ke tempat yang rusak terus-menerus;
segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat kudus.
4 Lawan-lawan-Mu mengaum di tempat pertemuan-Mu
dan telah mendirikan panji-panji mereka sebagai tanda.
5 Kelihatannya seperti orang mengayunkan tinggi-tinggi
sebuah kapak kepada kayu-kayuan yang lebat,
6 dan sekarang ukir-ukirannya seluruhnya
dipalu mereka dengan kapak dan beliung;
7 mereka menyulut tempat kudus-Mu dengan api,
mereka menajiskan tempat kediaman nama-Mu sampai pada tanah;
8 mereka berkata dalam hatinya: "Baiklah kita menindas mereka semuanya!"
Mereka membakar segala tempat pertemuan Allah di negeri.
9 Tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada lagi nabi,
dan tidak ada di antara kami yang mengetahui berapa lama lagi.
10 Berapa lama lagi, ya Allah, lawan itu mencela,
dan musuh menista nama-Mu terus-menerus?
11 Mengapa Engkau menarik kembali tangan-Mu,
menaruh tangan kanan-Mu di dada?
12 Namun Engkau, ya Allah adalah Rajaku dari zaman purbakala,
yang melakukan penyelamatan di atas bumi.
13 Engkaulah yang membelah laut dengan kekuatan-Mu,
yang memecahkan kepala ular-ular naga di atas muka air.
14 Engkaulah yang meremukkan kepala-kepala Lewiatan,
yang memberikannya menjadi makanan penghuni-penghuni padang belantara.
15 Engkaulah yang membelah mata air dan sungai;
Engkaulah yang mengeringkan sungai-sungai yang selalu mengalir.
16 Punya-Mulah siang, punya-Mulah juga malam.
Engkaulah yang menaruh benda penerang dan matahari.
17 Engkaulah yang menetapkan segala batas bumi,
musim kemarau dan musim hujan Engkaulah yang membuat-Nya.
18 Ingatlah ini: musuh mencela, ya TUHAN,
dan bangsa yang bebal itu menista nama-Mu.
19 Janganlah berikan nyawa merpati-Mu kepada binatang liar!
Janganlah lupakan terus-menerus nyawa orang-orang-Mu yang tertindas!
20 Pandanglah kepada perjanjian,
sebab tempat-tempat gelap di bumi penuh sarang-sarang kekerasan.
21 Janganlah biarkan orang yang terinjak-injak kembali dengan kena noda.
Biarlah orang sengsara dan orang miskin memuji-muji nama-Mu.
22 Bangunlah, ya Allah, lakukanlah perjuangan-Mu!
Ingatlah akan cela kepada-Mu dari pihak orang bebal sepanjang hari.
23 Janganlah lupa suara lawan-Mu,
deru orang-orang yang bangkit melawan Engkau,
yang terus-menerus makin keras.
Mazmur 74 adalah ratapan yang lahir dari kehancuran, kemungkinan besar di tulis ketika Bait Allah di rusak oleh musuh, tempat yang selama ini menjadi pusat ibadah umat Allah kini tinggal reruntuhan.
Namun di tengah ratapan itu Pemazmur tidak kehilangan imannya, justru disanalah ia belajar menigngat kembali siapa Allah yang ia sembah.
Setelah terjadi gempa bumi atau kebakaran yang besar, sering kali orang berdiri memandangi rumah yang telah hancur, yang dahulu dipenuhi tawa kini tinggal puing puing.
Dalam situasi seperti ini orang biasanya mengatakan, “Sekarang harus mulai dari mana?”, “Harus mulai dari mana?”
Ketika segala sesuatu yang telihat memberi rasa aman tiba-tiba hilang, kita dipaksa mencari sesuatu yang tidak dapat dihancurkan.
Mazmur 74 mengajarkan bahwa ketika segala sesuatu itu runtuh, Allah kita tetap tidak berubah.
Mazmur ini di mulai dengan pertanyaan yang sangat menyentuh, “Mengapa ya Allah, Kau buang kami untuk seterusnya?”
Pemazmur tidak sedang berdebat dengan Tuhan, Ia sedang mencurahkan isi hati nya.
Ia melihat bait Allah yang rusak, ukir-ukiran yang indah itu dihancurkan dengan kapak dan beliung.
Tempat kudus itu dibakar, musuh mendirikan panji-panji mereka di tempat yang seharusnya di pakai untuk menyembah Tuhan.
Bahkan pada ayat ke-9 dikatakan, tanda-tanda tidak kami lihat, tidak ada lagi nabi, mereka merasa kehilangan arah, tidak ada lagi suara yang memberi pengharapan.
Mungkin kita pernah mengalami keadaan seperti itu, kita berdoa tetapi jawabannya seakan belum datang, kita menunggu pertolongan Tuhan tetapi keadaan justru semakin sulit.
Namun tepat di tengah Mazmur ini muncul sebuah pengakuan iman yang kuat, “Namun Engkau ya Allah adalah rajaku dari zaman purbakala.”
Kata “namun” ini menjadi titik balik, keadaan belum berubah, musuh masih ada, Bait Allah hancur tetapi iman Pemazmur kembali mengingat siapa Allah sesungguhnya.
Kemudian dia mulai mengingat karya-karya Tuhan, dia mengingat bagaimana Tuhan itu membelah laut, mengalahkan kuasa-kuasa yang melawannya.
Dia mengingat bagaimana Tuhan menciptakan siang dan malam dan menempatkan matahari, musim dan batas batas bumi.
Mengapa Pemazmur mengingat semua ini? Karena ketika keadaan di sekitar tampak tidak terkendali, dia mengingat bahwa Allah tetap memegang kendali atas seluruh ciptaan-Nya.
Di bagian akhir Pemazmur beberapa kali berkata, “Ingatlah, ingatlah”, bukan karena Allah benar benar lupa, ungkapan itu adalah doa agar Allah bertindak sesuai dengan kasih setia dan perjanjiannya.
Ayat 20 berkata, pandanglah kepada perjanjian. Pemazmur tidak bersandar kepada jasa umat Israel, dia bersandar kepada kesetiaan Allah terhadap janjinya sendiri.
Inilah dasar pengharapan orang percaya bukan karena kita selalu setia kepada Tuhan tetapi karena Tuhan selalu setiap kepada janjinya, kepada Firmannya.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Tidak apa-apa membawa ratapan kita kepada Tuhan;
Mazmur 74 mengajarkan bahwa doa tidak selalu berisi ucapan syukur, ada kalanya doa itu dipenuhi dengan air mata dan pertanyaan, Tuhan tidak menolak hati yang datang dengan jujur di hadapan-Nya.
2. Ingatlah karya Tuhan ketika keadaan terasa gelap, terasa suram;
Pemazmur tidak membiarkan kehancuran menjadi satu-satunya kenyataan yang memenuhi pikirannya.
Ia sengaja mengingat kembali siapa Allah dan Allah yang dia ingat itu, apa yang sudah dilakukan dan dikerjakan-Nya.
Mengingat kesetiaan Tuhan di masa yang lalu akan menguatkan iman kita untuk menghadapi hari ini.
3. Peganglah janji Tuhan bukan keadaan.
Keadaan bisa berubah dengan cepat, apa yang hari ini nampak kokoh besok bisa runtuh. Tetapi janji Tuhan tidak pernah berubah, disitulah pengharapan dari setiap kita orang percaya.
Mungkin hari ini ada bagian dari hidup kita yang terasa seperti runtuh, hancur, kita berdoa sekian lama tapi rasanya Tuhan tidak jawab.
Rencana yang mungkin kita susun dengan baik tetapi gagal atau hati kita yang sedang terluka.
Mazmur 74 mengingatkan kita bahwa meskipun keadaan dapat berubah, Allah tetaplah Raja.
Dia tetap memegang kendali dan Dia tetap setia kepada janji-janjiNya.
Doakan dan renungkan
* Ketika segala sesuatu yang kita andalkan dan memberi rasa aman tiba-tiba hilang, kita dipaksa mencari sesuatu yang tidak dapat dihancurkan.
* Di saat itulah kita menemukan bahwa Tuhan tidak pernah berubah, Ia adalah pengharapan setiap kita, orang percaya.
Saat putus asa