Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Sabtu, 05 September 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 73:15-28

Pergumulan dan pengharapan (part 2)


Kita pasti pernah melihat sesuatu dari kejauhan, namun setelah kira dekat kenyataannya sangat berbeda dari apa yang kita pikirkan saat melihatnya pertama kali.


Dari jauh sebuah jalan mungkin nampak mulus, bagus, tetapi setelah dilalui ternyata jalannya banyak lubang. Sebaliknya, mungkin ada jalan yang nampak sempit, namun justru mengantarkan kita ke tempat yang indah.


Begitu juga dalam kehidupan, apa yang kita lihat dengan mata seringkali belum menggambarkan seluruh kenyataannya.


Kemarin kita melihat pergumulan Asaf, ia hampir kehilangan imannya karena melihat hidup orang-orang fasik enak, makmur, nyaman.


Hari ini kita akan melihat titik balik yang mengubah seluruh cara pandangnya.


Mazmur 73:15-28

Pergumulan dan pengharapan


15 Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu,” maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.


16 Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,


17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.


18 Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.


19 Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!


20 Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina.


21 Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,


22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.


23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.


24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.


25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.


26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.


27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau.


28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.


Ketika seseorang berdiri sangat dekat dengan lukisan yang sangat besar, ia hanya melihat sebagian kecil dari lukisan itu.


Warna-warna mungkin tampak tidak beraturan, namun ketika ia mundur beberapa langkah barulah sebuah gambar terlihat lebih jelas.


Seringkali itu yang terjadi dalam hidup, kita hanya melihat persoalan hari ini. Kita menjadi kecewa, takut, gelisah, tetapi bila kita belajar dari sudut pandang Allah, kita mulai memahami bahwa Allah sedang melakukan hal yang lebih besar dari apa yang kita pikirkan.


Pada ayat 16, Asaf mengakui bahwa ia berusaha memahami dengan pikirannya sendiri, tetapi tidak menemukan jawaban.


Lalu datanglah ayat 17 yang menjadi titik balik:


sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.


Perubahan bukan karena keadaan orang fasik, yang berubah adalah cara pandang Asaf. Ketika ia datang ke hadirat Allah, ia mulai melihat kehidupan dari perspektif kekekalan, bukan hanya dari apa yang nampak saat ini.


Ia menyadari bahwa kemakmuran orang fasik itu ternyata tidaklah sekokoh yang ia bayangkan.


Mazmur 73:18

Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.


Mereka tampak berdiri tinggi, tetapi sebenarnya di tempat licin. Apa yang terlihat aman ternyata sangat rapuh.


Asaf menyadari bahwa hidup tanpa Tuhan sekalipun dipenuhi kekayaan dan keberhasilan, pada akhirnya tidak memiliki dasar yang kokoh.


Ia melihat ke dalam dirinya dan berkata: ketika hatiku terasa pahit, aku dungu dan tidak mengerti. Ini adalah pengakuan yang rendah hati, yang tidak lagi menyalahi keadaan atau orang lain.


Ia menyadari bahwa iri hati telah membuat penilaiannya menjadi kabur.


Bagian yang indah di ayat 23 dan seterusnya:


Mazmur 73:23

Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.


Perhatikan, bukan Asaf yang mengatakan ia memegang tangan Tuhan, justru Tuhanlah yang memegang tangan kanannya.


Ini adalah gambaran kasih karunia Allah, bahkan ketika iman Asaf mulai goyah, Tuhan tidak melepaskan dia.


Mazmur 73:24

Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.


Lalu muncullah pengakuan iman Asaf:


Mazmur 73:25

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.


Asaf akhirnya menyadari bahwa anugerah terbesar bukanlah kekayaan, kesehatan atau keberhasilan, melainkan memiliki Tuhan Allah sendiri. Karena itu ia berkata:


Mazmur 73:26

Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.


Inilah iman yang dipulihkan.


Pesan Firman Tuhan:


1. Mari kita datang ke hadapan Tuhan ketika hati kita mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan;


Asaf tidak menemukan jawaban ketika hanya mengandalkan pikirannya sendiri, jawaban itu datang ketika ia kembali mencari Tuhan.


Seringkali yang kita butuhkan bukan informasi yang lebih banyak, tetapi persekutuan yang lebih dalam bersama Allah.


2. Lihatlah hidup dari perspektif kekekalan;


Keberhasilan dunia ini bersifat sementara, sebaliknya, hubungan dengan Tuhan memiliki nilai yang kekal.


Apa yang nampak menguntungkan hari ini, belum tentu berarti dalam kekekalan.


3. Bersyukurlah karena Tuhan memegang hidup setiap kita.


Ada saat kita merasa iman kita mulai lemah, namun pengharapan kita tidak bergantung kepada seberapa kuat kita memegang Tuhan, melainkan kepada kesetiaan Tuhan yang tidak pernah melepaskan tangan anak-anak-Nya.


Pergumulan Asaf tidak berakhir ketika semua masalahnya hilang, pergumulannya berubah ketika ia kembali memandang hidup dari sudut pandang Allah.


Di hadirat Tuhan, iri hati berubah menjadi rasa syukur, kebingungan berubah menjadi pengertian, dan kegelisahan berubah menjadi penyembahan.


Doakan dan renungkan


*Ketika hatiku merasa pahit …aku dungu dan tidak mengerti.. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.


* Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.


Hanya dekat Allahku