Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 04 September 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 73:1-14

Doa Minta Pertolongan.


Pernahkah kita bertanya dalam hati, kenapa orang yang tidak takut akan Tuhan justru hidupnya terlihat mudah?


Kenapa orang yang jahat, hidupnya baik-baik saja? Mereka tampak berhasil, usahanya maju, hidupnya nyaman sementara orang yang berusaha untuk hidup benar justru menghadapi banyak pergumulan.


Pertanyaan seperti ini bukanlah pertanyaan yang baru bahkan seorang pemazmur bernama Asaf pernah bergumul dengan hal yang sama.


Alkitab tidak menyembunyikan pergumulan itu, sebaliknya firman Tuhan mengajarkan bahwa kita boleh datang kepada Tuhan dengan pertanyaan yang jujur yang penting kita tidak berhenti di dalam pertanyaan itu, tetapi terus mencari jawaban di hadapan Tuhan.


Mari kita bersama-sama memperhatikan:


Mazmur 73:1-14


73:1 Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.


73:2 Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.


73:3 Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.


73:4 Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;


73:5 mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.


73:6 Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.


73:7 Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan.


73:8 Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.


73:9 Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.


73:10 Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah.


73:11 Dan mereka berkata: "Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?"


73:12 Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!


73:13 Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.


73:14 Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.


Di zaman media sosial seperti sekarang ini, kita sering melihat potongan-potongan kehidupan orang lain.


Ada yang mengunggah liburan, rumah baru, pencapaian-pencapaian atau keberhasilan-keberhasilan yang didapatkan dari layar ponsel kita hidup mereka tampak begitu sempurna, tanpa sadar kita mulai membandingkan dengan diri kita.


Kenapa hidup mereka begitu mudah? Mengapa hidup mereka begitu menyenangkan? Padahal kita hanya melihat apa yang nampak di permukaan.


Perbandingan seperti itu dapat mengganggu hati dan membuat kita lupa melihat bagaimana Tuhan sedang bekerja di dalam hidup kita sendiri, pergumulan itulah yang juga dialami oleh Asaf.


Mazmur ini dimulai dengan sebuah keyakinan, “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya.”


Kalimat ini adalah dasar iman dari Asaf, ia tahu bahwa Allah itu baik, namun segera setelah itu ia mengakui sesuatu yang sangat jujur, “Tetapi aku sedikit lagi maka kakiku terpeleset”


Dengan kata lain imannya hampir goyah, kenapa? Ayat 3 memberitahukan kepada kita:


Mazmur 73:3


73:3 Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.


Asaf tidak iri kepada orang yang hidupnya benar, ia iri kepada orang fasik yang hidupnya terlihat lebih baik dan lebih makmur.


Lalu ia mulai menjelaskan apa yang dilihat menurut pengamatannya, mereka itu tampak sehat, mereka tidak mengalami banyak kesusahan dan mereka itu hidup dalam kemewahan.


Pada akhirnya mereka jadi sombong, mereka menggunakan kekuasaan mungkin untuk menindas orang lain bahkan mereka berani berkata, "Bagaimana Allah tahu hal itu?"


Artinya mereka hidup seolah-olah Tuhan Allah itu tidak melihat dan tidak akan menghakimi mereka.


Bagi Asaf yang paling menyakitkan adalah kesimpulan yang mulai muncul dalam pikirannya, ia berkata, "Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih."


Inilah titik yang paling berbahaya, masalah sebenarnya bukan lagi tentang keberhasilan orang fasik, tetapi ketika hati orang percaya mulai mempertanyakan nilai hidup dari kebenaran.


Asaf mulai merasa bahwa kesetiaannya kepada Tuhan tidak ada gunanya karena setiap hari justru dia mengalami penderitaan.


Pergumulan yang dialami adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi, namun Alkitab dengan jujur memperlihatkan bahwa bahkan orang yang mengasihi Tuhan pun bisa mengalami krisis seperti ini.


Yang membedakan Asaf adalah ia tidak menyembunyikan pergumulannya, ia membawanya kepada Tuhan, dan itu menjadi awal dari pemulihan yang akan kita lihat pada bagian berikutnya.


Melalui firman Tuhan yang tadi kita baca, kita merenungkan beberapa hal:


1. Jangan mengukur hidup hanya dari apa yang nampak.


Asaf melihat kemakmuran orang fasik, tapi ia belum melihat keseluruhan dari cerita orang itu.


Kita pun sering hanya melihat bagian luar kehidupan seseorang sementara Tuhan melihat hati dan mengetahui akhir dari setiap jalannya hidup.


2. Hati-hati dengan kebiasaan membandingkan diri.


Ketika fokus kita tertuju kepada apa yang dimiliki oleh orang lain, kita jadi lupa bersyukur dan mengeluh.


Perbandingan yang tidak sehat seringkali menjadi pintu masuk bagi iri hati dan keraguan.


3. Mari kita membawa pergumulan kepada Tuhan.


Asaf tidak pura-pura kuat, dia jujur di hadapan Allah. Tuhan tidak menolak hati yang datang dengan pergumulan, sebaliknya, Ia mengundang kita untuk datang dan mencari hikmat-Nya.


Kadang kita memang melihat orang yang hidup jauh dari Tuhan tampak berhasil sementara jalan orang benar itu terasa berat, namun apa yang terlihat hari ini belum tentu mencerminkan kenyataan yang utuh.


Mari kita ingat Allah tetap adil dan Allah tetap baik, Dia sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang dapat kita lihat saat ini.


Satu hal yang kita miliki dan tidak dimiliki oleh orang fasik yaitu Kristus jaminan hidup kekal kehidupan di masa yang akan datang itu yang kita miliki, dan bukankah ini adalah sesuatu yang sangat berharga yang seharusnya kita syukuri?


Mari kita boleh tetap percaya Allah itu adil, Allah itu baik dan mari kita tidak membandingkan diri kita dengan mereka.


Iman seringkali diuji bukan ketika kita menderita, tetapi ketika kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain.


Karena itu tetaplah memandang kepada Tuhan, bukan kepada keberhasilan yang hanya nampak di permukaan.


Besok kita akan melihat bagaimana pergumulan Asaf berubah menjadi sebuah keyakinan ketika dia kembali memandang segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan.


Kiranya Tuhan memberkati kita semua.


Doakan dan renungkan


* Menurut Asaf, orang fasik menambah harta benda dan senang selamanya. Sedangkan dia menderita dan merasa sia-sia mempertahankan hati yang bersih.

* Iman seringkali diuji bukan ketika kita menderita, tetapi ketika kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain.


Stop Membandingkan!