Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Rabu, 02 September 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 71:14-24

Doa minta perlindungan di masa tua (part 2)


Saat kita berbicara tentang masa tua, banyak orang memikirkan ini adalah masa untuk berhenti. Berhenti dari pekerjaan, berhenti berkarya. Ada yang merasa sudah tidak lagi berguna.


Firman Tuhan memberikan pandangan yang berbeda. Saat menulis Mazmur yang dibaca hari ini, Pemazmur sudah lanjut usia. Rambutnya memutih, tenaganya tidak lagi seperti dahulu.


Namun, ia tidak memandang masa tuanya sebagai akhir dari panggilan Tuhan. Justru, ia berdoa agar Tuhan terus memelihara sehingga ia dapat menceritakan kebesaran Allah kepada generasi berikutnya.


Bagi Tuhan, hidup yang dipakai-Nya tidak diukur dari usia, tetapi dari kesetiaan. Mari bersama membaca Mazmur 71:14-24


Mazmur 71:14-24


14 Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu;


15 mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari,

sebab aku tidak dapat menghitungnya.


16 Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan ALLAH, hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja!


17 Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib;


18 juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku,

supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.


19 Keadilan-Mu, ya Allah, sampai ke langit. Engkau yang telah melakukan hal-hal yang besar,

ya Allah, siapakah seperti Engkau?


20 Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak kesusahan dan malapetaka,

Engkau akan menghidupkan aku kembali, dan dari samudera raya bumi Engkau akan menaikkan aku kembali.


21 Engkau akan menambah kebesaranku dan akan berpaling menghibur aku.


22 Aku pun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku,

menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel.


23 Bibirku bersorak-sorai sementara menyanyikan mazmur bagi-Mu, juga jiwaku yang telah Kaubebaskan.


24 Lidahku juga menyebut-nyebut keadilan-Mu sepanjang hari, sebab akan mendapat malu dan tersipu-sipu orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku.


Dalam sebuah lari estafet, pelari terakhir tidak memulai perlombaan. Ia menerima tongkat dari pelari sebelumnya, lalu menyerahkan kepada pelari berikutnya.


Keberhasilan estafet bukan ditentukan oleh siapa yang berlari paling cepat, melainkan oleh keberhasilan dalam menyerahkan tongkat itu dengan baik.


Demikian juga dengan kehidupan rohani iman kiita. Setiap generasi menerima kesaksian tentang Tuhan dari generasi sebelumnya.


Oleh karena itu, orang-orang yang telah berjalan lama bersama dengan Tuhan, memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk diwariskan.


Terutama bukan harta, melainkan pengalaman akan kesetiaan Allah. Jika pada bagian pertama, Pemazmur banyak memohon pertolongan Tuhan. Dimulai dari ayat 14, suasana itu berubah.


Mazmur 71:14


14 Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu;


Kata “tetapi” menjadi titik balik yang indah walaupun musuh masih ada dan kelemahan itu masih dirasakan.


Ia memilih untuk tetap berharap. Harapannya tidak bergantung kepada keadaan, melainkan kepada Tuhan yang tidak berubah.


Kemudian, pada ayat 15-16, pemazmur berkata bahwa mulutnya akan terus menceritakan tentang keadilan dan keselamatan Tuhan.


Ia mengakui bahwa karya keselamatan Tuhan itu begitu besar sehingga ia tidak dapat menghitungnya.


Pemazmur menyadari bahwa hidupnya dipenuhi oleh jejak-jejak kasih karunia Allah. Ayat 17-18, menjadi pusat dari bagian ini.


Cara Pemazmur menyadari Allah telah mengajarnya dari masa kecil sampai masa tua dan putih rambutnya.


Perhatikan cara penggambaran perjalanan di sini. Dari masa kecil hingga tua, Tuhan tetap menjadi guru yang setia. Namun, hal menarik adalah alasan Pemazmur memohon agar Tuhan tidak meninggalkannya.


Ia tidak berkata supaya dirinya hidup nyaman dan panjang umur. Sebaliknya, ia berkata supaya dirinya memberitakan kuasa Tuhan kepada angkatan itu dan keperkasaan Tuhan kepada semua orang yang akan datang.


Ini adalah tujuan hidup yang indah. Ia ingin generasi berikutnya mengenal Tuhan melalui kesaksiannya. Ayat 19-21 mengingatkan bahwa perjalanan hidup pemazmur tidak mudah.


Pemazmur berkata bahwa Tuhan yang telah membuat dirinya mengalami banyak kesusahan dan malapetaka.


Ia tidak menyangkal penderitaan yang dialami, tetapi ia percaya bahwa Tuhan sanggup mengangkatnya kembali dan memberikan penghiburan.


Harapan orang percaya bukan karena hidupnya akan selalu mudah, melainkan karena Tuhan tetap bekerja melalui masa-masa yang sulit.


Mazmur ini diakhiri dengan pujian. Mulut, bibir, jiwa, dan lidah pemazmur dipakai untuk memuji Tuhan.


Menarik sekali melihat perubahan dari mazmur yang dimulai dengan permohonan perlindungan, berakhir dengan penyembahan.


Saat seseorang mengingat kesetiaan Tuhan sepanjang hidupnya, respon yang paling wajar adalah memuji Dia: Allah yang setia.


Pesan Firman Tuhan bagi kita

1. Tidak ada usia pensiun untuk menjadi saksi Tuhan


Mungkin ada saat kita berhenti dari pekerjaan atau jabatan tertentu, tetapi kita tidak pernah berhenti menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain.


2. Jadikan pengalaman hidup sebagai kesaksian, bukan sekedar kenangan


Tuhan mengizinkan kita melewati berbagai musim kehidupan agar kita dapat berkata kepada orang lain, “Aku sudah melihat kesetiaan Tuhan. Dia tidak pernah meninggalkan dan mengecewakan.”


3. Mari kita tetap berharap


Pemazmur tidak berkata bahwa semua persoalan sudah selesai. Ia berkata, “Aku senantiasa mau berharap.” Harapan adalah pilihan iman yang terus diarahkan kepada Tuhan sekalipun keadaan belum berubah.


Mazmur 71 mengajarkan bahwa hidup bersama Tuhan adalah perjalanan seumur hidup kita. Allah yang mengajar kita sejak masa muda, akan tetap memimpin sampai rambut kita menjadi putih.


Salama napas kita masih ada, Tuhan masih memberi kesempatan untuk kita menjadi saksi bagi generasi selanjutnya.


Doakan dan renungkan


* Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.


* Tuhan mengizinkan kita melewati berbagai musim kehidupan agar kita dapat berkata kepada orang lain, “Aku sudah melihat kesetiaan Tuhan. Dia tidak pernah meninggalkan dan mengecewakan.”


Pengalaman dan Kesaksian