Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 01 September 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 71 : 1-13

Doa minta perlindungan di masa tua (part 1)


Setiap kita tentu pernah mengalami masa-masa sulit. Ada saatnya ketika tubuh kita mulai melemah, kemampuan kita tidak lagi seperti dahulu, atau mungkin keadaan hidup kita yang membuat kita merasa sendirian.


Di dalam kondisi yang seperti itu mungkin muncul sebuah pertanyaan, "Masihkah Tuhan memelihara hidupku?"


Dalam Mazmur 71 ada doa seorang yang telah berjalan bersama dengan Tuhan selama bertahun-tahun.


Banyak penafsir melihat bahwa Mazmur ini sebagai doa seseorang yang sudah memasuki usia yang lanjut.


Ia menghadapi ancaman dari musuh, tetapi yang paling indah adalah ia tidak memulai doanya dengan rasa takut.


Mazmur 71 : 1-13


1 Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu.


2 Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!


3 Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.


4 Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeraman orang-orang lalim dan kejam.


5 Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.


6 Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji.


7 Bagi banyak orang aku seperti tanda ajaib, karena Engkaulah tempat perlindunganku yang kuat.


8 Mulutku penuh dengan puji-pujian kepada-Mu, dengan penghormatan kepada-Mu sepanjang hari.


9 Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.


10 Sebab musuh-musuhku berkata-kata tentang aku, orang-orang yang mengincar nyawaku berunding bersama-sama


11 dan berkata: "Allah telah meninggalkan dia, kejar dan tangkaplah dia, sebab tidak ada yang melepaskan dia!"


12 Ya Allah, janganlah jauh dari padaku! Allahku, segeralah menolong aku!


13 Biarlah mendapat malu dan menjadi habis orang-orang yang memusuhi jiwaku; biarlah berselubungkan cela dan noda orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku!


Ada sebuah pohon besar yang telah berdiri puluhan bahkan ratusan tahun. Pohon itu tetap kokoh bukan karena setiap hari cuacanya cerah.


Justru selama bertahun-tahun pohon ini telah menghadapi panas, hujan, angin, bahkan badai. Yang membuatnya tetap berdiri adalah akar yang terus bertumbuh semakin dalam, semakin dalam.


Demikian pula kehidupan orang percaya. Kekuatan iman tidak dibangun dalam satu hari. Ia dibentuk melalui perjalanan yang panjang bersama dengan Tuhan.


Setiap pertolongan Tuhan di masa yang lalu menjadi akar yang membuat kita tetap teguh menghadapi pergumulan hari ini.


Mazmur 71 dibuka dengan sebuah pernyataan yang penuh keyakinan.


Mazmur 71 : 1


Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu.


Pemazmur tidak berkata bahwa hidupnya bebas dari masalah. Justru sepanjang ayat-ayat berikutnya kita melihat bahwa ia sedang dikejar musuh, difitnah, bahkan ada orang-orang yang berkata, "Allah telah meninggalkan Dia."


Namun di tengah semuanya itu, ia memilih untuk berlindung kepada Tuhan. Mari kita memperhatikan bagaimana dia menggambarkan Allah.


Pada ayat yang ketiga, ia menyebutkan Tuhan itu sebagai gunung batu, tempat untuk berteduh dan kubu pertahanan.


Semua gambaran ini berbicara tentang keamanan. Di zaman Perjanjian Lama, benteng yang berada di atas gunung merupakan tempat perlindungan yang sulit ditembus oleh musuh-musuhnya.


Dengan kata lain, pemazmur ini percaya bahwa perlindungan sejati tidak ditemukan pada kekuatannya sendiri, melainkan kepada Tuhan.


Kemudian pada ayat yang kelima dan ayat yang keenam, pemazmur melihat kembali perjalanan hidupnya.


Mazmur 71 : 5-6


5 Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.


6 Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji.



Ini adalah sebuah pengakuan yang luar biasa. Pemazmur menyadari bahwa pemeliharaan Tuhan itu bukan baru dimulai ketika dia dewasa, tetapi ada sejak ia lahir.


Bahkan sejak di dalam kandungan Tuhan sudah memegang hidupnya. Karena itu ketika kini usianya bertambah dan kekuatannya mulai berkurang, pemazmur tetap memiliki alasan untuk berharap.


Allah yang setia pada masa mudanya adalah Allah yang sama pada masa tuanya. Dan di ayat yang kesembilan menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh.


Mazmur 71 : 9


Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.


Ini bukan doa karena dia meragukan kasih Tuhan. Sebaliknya, doa ini lahir dari hubungan yang akrab dengan Tuhan. Ia datang membawa seluruh kelemahannya kepada Allah.


Menariknya, ancaman yang ia hadapi bukan hanya kelemahan fisik. Musuh-musuhnya memanfaatkan keadaan itu.


Mereka berkata, "Allah telah meninggalkan Dia. Kejar, tangkap." Mereka menganggap bahwa kelemahan adalah tanda Tuhan sudah tidak lagi menyertai Dia.


Tetapi pemazmur tidak menerima penilaian itu. Ia justru semakin berseru, "Ya Allah, janganlah jauh daripadaku. Allahku, segeralah menolong aku."


Mazmur ini mengajarkan bahwa iman yang dewasa bukan berarti tidak pernah takut. Iman yang dewasa adalah terus datang kepada Tuhan di tengah ketakutan itu.


Firman Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan beberapa hal :


1. Ingatlah kesetiaan Tuhan di masa yang lalu.


Ketika menghadapi pergumulan hari ini, jangan hanya melihat masalah yang ada di depan mata kita.


Lihatlah kembali bagaimana Tuhan telah memimpin hidup kita selama ini. Pemeliharaan-Nya di masa lalu menjadi dasar pengharapan untuk hari ini.


2. Jangan malu membawa kelemahan kepada Tuhan.


Dunia sering menghargai orang yang kuat, orang yang mandiri, tetapi Tuhan mengundang kita datang apa adanya.


Kita boleh mengakui bahwa kita lelah, kita takut, atau kita merasa tidak sanggup. Justru di sanalah kita belajar bersandar dan bergantung kepada-Nya.


3. Jadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan, bukan pilihan terakhir.


Sering kali kita baru mencari Tuhan setelah semua usaha yang kita lakukan itu gagal.


Pemazmur justru memulai doanya dengan berkata, "Padamu, ya Tuhan, aku berlindung." Tuhan adalah tempat pertama kita untuk datang, bukan terakhir.


Mazmur 71 mengingatkan kita bahwa kesetiaan Tuhan tidak dibatasi oleh usia ataupun keadaan hidup. Tuhan yang memegang hidup kita sejak awal tidak akan berhenti memelihara kita sampai akhir.


Ketika kekuatan kita berkurang, kasih setia-Nya tidak pernah berkurang.


Ketika orang lain meninggalkan kita, Tuhan tetap dekat. Ketika masa depan itu tampak tidak pasti, Dia tetap menjadi gunung batu yang tidak tergoncangkan.


Doakan dan renungkan


* Bagi banyak orang aku seperti tanda ajaib, karena Engkaulah tempat perlindunganku yang kuat.


* Mulutku penuh dengan puji-pujian kepada-Mu, dengan penghormatan kepada-Mu sepanjang hari.


PadaMu aku berlindung