Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Sabtu, 29 Agustus 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 69:1-13

Doa dalam kesesakan (part 1)


Suatu hari ada seorang ibu datang menemui pendetanya, ibu ini menceritakan tentang tiga puteranya yang sudah dewasa, tetapi tidak bekerja.


Tiap malam berkumpul bersama teman, pulang subuh, pulang ke rumah selalu membuat keributan dan meminta-minta uang kepada ibunya yang sudah tidak bersuami.


Bila ibunya tidak memberikan apa yang diminta, mereka marah dan menghancurkan barang-barang di rumah, sehingga ibu ini berada dalam tekanan yang serius. Ibu ini berkata ke pendeta bahwa ia tidak sanggup hidup lagi.


Saya kira setiap kita bila berada dalam konflik yang melampaui kekuatan kita, pasti kita merasa hidup ini bukan apa-apa, terlalu rapuh.


Tetapi kita bersyukur Tuhan kita adalah Tuhan yang bisa kita andalkan dan sanggup menolong kerapuhan kita.


Mazmur 69:1-13

Doa dalam kesesakan


1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Dari Daud.


2 Selamatkanlah aku, ya Allah, sebab air telah naik sampai ke leherku!


3 Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu; aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku.


4 Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku.


5 Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas.


6 Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu.


7 Janganlah mendapat malu oleh karena aku orang-orang yang menantikan Engkau, ya Tuhan, ALLAH semesta alam! Janganlah kena noda oleh karena aku orang-orang yang mencari Engkau, ya Allah Israel!


8 Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku.


9 Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku;


10 Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.


11 Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi itupun menjadi cela bagiku;


12 aku membuat kain kabung menjadi pakaianku, aku menjadi sindiran bagi mereka.


13 Aku menjadi buah bibir orang-orang yang duduk di pintu gerbang, dengan kecapi peminum-peminum menyanyi tentang aku.


Mazmur ini merupakan doa ratapan Daud, ketika ia ada dalam penderitaan yang sangat dalam.


Daud menggambarkan kesesakan yang menghimpitnya karena musuh membenci dia tanpa alasan, bahkan ada penolakan dari keluarganya.


Ia mengatakan penderitaan yang ia alami bukan karena kesalahan yang ia lakukan, tetapi karena dia semata-mata setia kepada Tuhan.


Ayat 1-5 merupakan ekspresi jeritan hati Daud memohon pertolongan Tuhan, karena kesesakannya seperti tenggelam di air yang mencapai leher, seperti dalam rawa tanpa pijakan yang artinya semakin hari semakin dalam.


Ia mengungkapkan keletihan secara fisik dan mental, oleh sebab itu ia terus menerus berseru kepada Tuhan dan mengatakan tenggorokannya kering dan matanya perih karena penantian yang panjang.


Artinya dalam kondisi yang demikian, ia terus menerus berdoa agar Tuhan memberikan pertolongan pada waktu-Nya.


Ayat 6-13 ia mengungkapkan penderitaan karena fitnah dan penolakan dari orang-orang terdekat terhadap dia. Orang-orang membenci tanpa alasan, musuh lebih banyak dari pada rambutnya (tidak terhitung).


Mereka memfitnah Daud dan memaksa Daud menggantikan barang-barang yang tidak ia curi/ambil, namun di tengah penderitaan ini, Daud menyadari kebodohan dan kesalahannya.


Dalam kesadaran itu, ia berdoa kepada Tuhan meminta supaya aibnya tidak mempermalukan orang-orang yang menantikan Tuhan.


Ayat 8-13 ada sejumlah rentetan ejekan orang-orang kepada Daud, Daud mengatakan dia akan menanggung cemoohan itu. Ini menarik, bukan karena kesalahannya tapi karena komitmen kesetiaannya kepada Tuhan.


Hal ini menunjukkan betapa Daud sungguh-sungguh setia kepada Tuhan di sepanjang hidupnya.


Ketika kita menghadapi tantangan, cobaan dan penderitaan, dapatkah kita tetap setia kepada Tuhan di dalam segala sesuatu yang menjerat kita?


Saya kira Tuhan tahu seberapa kuat kita menanggung beban hidup ini, Tuhan tahu seberapa besar kesabaran kita untuk menantikan jawaban Tuhan.


Saya kira pertolongan Tuhan tidak tergantung kepada seberapa besar/berat persoalan kita, juga tidak serta merta datang karena sudah berapa lama kita melaluinya. Tetapi yang pasti, Tuhan tidak pernah lupa menolong kita.


Ia pasti datang tepat waktu memberikan pertolongan dan pertolongan itu adalah pertolongan yang tanpa batas. Tuhan menolong kita tidak terbatas, pertolongan-Nya melampaui segala persoalan kita.


Untuk itu, bagi kita yang mengatakan kita percaya kepada Tuhan kita perlu belajar kepada sikap Daud menghadapi tuduhan, ancaman dan tuduhan yang berat.


Pesan Firman Tuhan:


1. Mari kita belajar untuk tidak mengeluh, tidak ragu-ragu, dan terus berdoa kepada Tuhan.


2. Mari tetap belajar untuk percaya dan berharap kepada Tuhan.


Karena Dia Tuhan yang tahu kemampuan kita, Dia pasti menolong kita dan sekali lagi pertolongan Tuhan tidak terbatas.


Efesus 3:20

Doa Paulus


Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,


Mari kita bersyukur.

Doakan dan renungkan


* Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku.


* Daud mengungkapkan keletihan secara fisik dan mental menantikan Allah. Namun ia terus berseru kepada Tuhan dan pada waktunya Tuhan pun menolongnya.


Jangan menyerah, tetaplah berharap