Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 44:10-27
Jeritan bangsa yang tertindas (part 2)
Kita semua tahu bahwa dunia kita hari ini tidak baik-baik saja, dan tentu dalam situasi seperti ini keadaan kita tidak selalu ideal.
Kadang kita harus melewati jalan yang lancar ataupun jalan tol dan kadang kita juga melewati saat-saat sulit ataupun melewati lembah air mata.
Mengalami penderitaan yang berat, yang mungkin kita tidak pernah pikirkan dan kita tidak siap untuk menghadapinya.
Mari kita melihat satu bagian Firman Tuhan, lanjutan dari Mazmur 44 ayat 1-9 yang kemarin.
Mazmur 44:10-27
10 Namun Engkau telah membuang kami dan membiarkan kami kena umpat, Engkau tidak maju bersama-sama dengan bala tentara kami.
11 Engkau membuat kami mundur dari pada lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami mengadakan perampokan.
12 Engkau menyerahkan kami sebagai domba sembelihan dan menyerakkan kami di antara bangsa-bangsa.
13 Engkau menjual umat-Mu dengan cuma-cuma dan tidak mengambil keuntungan apa-apa dari penjualan itu.
14 Engkau membuat kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami.
15 Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, menyebabkan suku-suku bangsa menggeleng-geleng kepala.
16 Sepanjang hari aku dihadapkan dengan nodaku, dan malu menyelimuti mukaku,
17 karena kata-kata orang yang mencela dan menista, di hadapan musuh dan pendendam.
18 Semuanya ini telah menimpa kami, tetapi kami tidak melupakan Engkau, dan tidak mengkhianati perjanjian-Mu.
19 Hati kami tidak membangkang dan langkah kami tidak menyimpang dari jalan-Mu,
20 walaupun Engkau telah meremukkan kami di tempat serigala, dan menyelimuti kami dengan kekelaman.
21 Seandainya kami melupakan nama Allah kami, dan menadahkan tangan kami kepada allah lain,
22 masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!
23 Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan.
24 Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!
25 Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami?
26 Sebab jiwa kami tertanam dalam debu,
tubuh kami terhampar di tanah.
27 Bersiaplah menolong kami,
bebaskanlah kami karena kasih setia-Mu!
Mazmur ini merupakan sebuah ratapan umat Tuhan yang menggambarkan pergumulan batin mereka.
Di satu pihak mereka mengakui percaya kepada Tuhan, tetapi di lain pihak mereka mengalami penderitaan yang berat karena kekalahan atas musuh mereka.
Di tengah-tengah keadaan yang kontras antara masa kejayaan, masa lampau dan masa penderitaan yang mereka alami, mereka merasa Tuhan seperti meninggalkan mereka, Tuhan membiarkan mereka.
Namun di tengah-tengah keputusasaan mereka mereka tetap percaya memohon pertolongan kepada Tuhan.
Perhatikan ayat 10-17, disini menjelaskan tentang ratapan, kenyataan penderitaan yang mereka alami.
Mereka diolok-olok, mereka dihina, sehingga kepahitan yang mereka rasakan karena celaan-celaan musuh terhadap mereka.
Pemazmur meratapi kenyataan bahwa Allah seolah-olah telah menolak umat Tuhan dan meninggalkan mereka di tengah-tengah pasukan yang ada di tengah-tengah peperangan.
Hal ini mengakibatkan mereka harus menanggung kekalahan, mereka di jarah dan mereka menjadi bahan cemoohan serta ejekan bangsa-bangsa di sekitar mereka.
Di dalam situasi seperti ini tentu mereka galau, kecewa, dan bertanya-tanya tentang penyertaan Tuhan.
Tetapi menarik sekali di ayat 18-23, mereka menunjukkan kesetiaan mereka kepada Tuhan dengan berseru kepada Tuhan di tengah-tengah penderitaan.
Di sini kita melihat bahwa Pemazmur hendak menegaskan, penderitaan dan penindasan yang mereka alami bukan terjadi karena mereka lalai ataupun berpaling dari Tuhan ataupun mereka beribadah kepada ilah lain. Tidak!.
Disini mereka menyatakan kesetiaan mereka kepada Tuhan, tidak melupakan Tuhan, tidak menyembah dewa asing dan tidak mengabaikan kewajiban mereka kepada Tuhan.
Sekalipun akibat kesetiaan mereka kepada Tuhan, mereka dianiaya dan dihadapkan pada ancaman maut setiap hari.
Satu hal yang menarik sekali disini adalah bagaimana mereka tetap memiliki konsistensi iman mereka untuk percaya kepada Tuhan.
Ayat 24-26 kita melihat bahwa sebagai bukti iman mereka, mereka berseru dan memohon pertolongan Tuhan.
Perhatikan baik-baik, waktu mereka mengeluh, meratap, manusiawi sekali ketika kita berada di dalam situasi yang sulit.
Namun sebagai orang percaya, mereka tetap menyatakan kesetiaan mereka kepada Tuhan.
Apapun yang terjadi tetap setia dan percaya kepada Tuhan.
Di tengah-tengah pergumulan dan penderitaan, mereka berseru kepada Tuhan, mereka minta pertolongan Tuhan.
Di ayat 23-27 itu adalah sebuah seruan permohonan umat Tuhan di tengah-tengah penderitaan.
Ayat 23 berkata, “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan”.
Ayat 24, “Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus!”
Kemudian ayat 27 berkata, “Bersiaplah menolong kami, bebaskanlah kami karena kasih setia-Mu!”
Di tengah-tengah himpitan dan ancaman, disini umat Tuhan tidak hanya berdiam diri dan mengasihani diri, tetapi mereka memohon agar Tuhan sigap, agar tuhan bangun.
Dikatakan, “Bangunlah dari tidurmu!”, ini suatu permohonan, suatu hentakan kesungguhan keseriusan mereka minta kepada Tuhan supaya Tuhan memperhatikan mereka dan Tuhan menolong mereka.
Kita tidak pernah terlepas dari kesulitan dan penderitaan hidup ini, kadang Allah mengijinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita seperti yang tidak kita harapkan.
Kadang kita berdoa kepada Tuhan dan Tuhan tidak menolong kita seperti yang kita inginkan.
Bahkan ketika kita berseru kepada Tuhan, Tuhan tidak mengabulkannya secepat yang kita minta.
Tuhan sepertinya diam, sepertinya Tuhan tertidur.
Kadang Tuhan ijinkan kita harus melewati saat-saat sulit, saat-saat penderitana karena Tuhan ingin kita belajar percaya kepada Tuhan.
Tuhan ingin kita belajar di tengah-tengah kesulitan dan Tuhan ingin menyatakan kemuliaan-Nya, kuasa-Nya, keindahan-Nya dalam hidup kita sehingga Tuhan selalu memberikan pertolongan tepat pada waktu yang Tuhan sudah rancangkan buat kita.
Mari kita belajar untuk tetap percaya kepada Tuhan. Kata-kata Paulus di dalam 2 Kor 57 dikatakan, “We walk by faith not by sight”.
Kita ini sebagai orang percaya tidak berjalan atau menjalani kehidupan kita dengan apa yang kita lihat tetapi apa yang kita alami.
Jika kita menjalani kehidupan kita dengan apa yang kita lihat, kita akan tidak punya gairah dan semangat untuk menjalani kehidupan ini, mengapa?
Kita melihat terlalu banyak hal yang mengancam kita, menggoda kita, banyak hal yang mungkin tidak menjadi pengharapan bagi kita, kesulitan, penderitaan, aniaya bahkan ancaman ekonomi hari ini membuat kita tidak semangat.
Seperti nya masa depan kita gelap, tetapi “we walk by faith”, kita berjalan dengan iman kita menjalani kehidupan kita ini karena iman kita kepada Tuhan.
Tuhan yang dapat kita andalkan di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan hidup kita.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
1. Mari kita belajar untuk tetap percaya kepada Tuhan
2. Sekalipun kita sulit di tengah-tengah kesulitan, namun mari kita tetap berseru dan percaya kepada Tuhan sekalipun mungkin sepertinya Tuan Diam
Ketika kita mengalami jawaban Tuhan, ketika kita mengalami pertolongan Tuhan di tengah-tengah kesulitan, kita akan tercengang menyaksikan keindahan Tuhan di tengah-tengah kesulitan hidup ini.
Doakan dan renungkan
* Hati kami tidak membangkang dan langkah kami tidak menyimpang dari jalan-Mu.
* Bersiaplah menolong kami, bebaskanlah kami karena kasih setia-Mu!
KasihNya Sumber Setiaku