Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 38:1-23
Doa pada waktu sakit
1 Mazmur Daud pada waktu mempersembahkan korban peringatan.
2 TUHAN, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu;
3 sebab anak panah-Mu menembus aku, tangan-Mu telah turun menimpa aku.
4 Tidak ada yang sehat pada dagingku oleh karena amarah-Mu,
tidak ada yang selamat pada tulang-tulangku oleh karena dosaku;
5 sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku;
semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku.
6 Luka-lukaku berbau busuk, bernanah oleh karena kebodohanku;
7 aku terbungkuk-bungkuk, sangat tertunduk; sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita.
8 Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku;
9 aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku.
10 Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu;
11 jantungku berdebar-debar, kekuatanku hilang, dan cahaya mataku pun lenyap dari padaku.
12 Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena penyakitku, dan sanak saudaraku menjauh.
13 Orang-orang yang ingin mencabut nyawaku memasang jerat,
orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku, memikirkan kehancuran
dan merancangkan tipu daya sepanjang hari.
14 Tetapi aku ini seperti orang tuli, aku tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya;
15 ya, aku ini seperti orang yang tidak mendengar, yang tak ada bantahan dalam mulutnya.
16 Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku.
17 Pikirku: "Asal mereka jangan beria-ria karena aku, jangan membesarkan diri terhadap aku apabila kakiku goyah!"
18 Sebab aku mulai jatuh karena tersandung, dan aku selalu dirundung kesakitan;
19 ya, aku mengaku kesalahanku, aku cemas karena dosaku.
20 Orang-orang yang memusuhi aku besar jumlahnya,
banyaklah orang-orang yang membenci aku tanpa sebab;
21 mereka membalas yang jahat kepadaku ganti yang baik,
mereka memusuhi aku, karena aku mengejar yang baik.
22 Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku!
23 Segeralah menolong aku, ya Tuhan, keselamatanku!
Berapa banyak orang di dunia ini mengambil falsafah hidup yang disebut falsalah transaksional?
Artinya, apa yang mereka perbuat itu bergantung bagaimana perbuatan orang kepada dia.
Mungkin orang Kristen ada yang memiliki falsafah yang seperti ini.
Bahkan orang Kristen bisa mempunyai falsafah transaksional ketika berelasi dengan Tuhan, kalau Tuhan begini saya begini, kalau Tuhan begitu saya begitu.
Apa yang kita baca dari mazmur 38 ini, kehidupan transaksional adalah sebuah kehidupan yang rentan menghadapi kekecewaan dan tawar hati.
Pemazmur berkata di ayat 21, “Mereka membalas yang jahat kepadaku ganti yang baik,
mereka memusuhi aku, karena aku mengejar yang baik”.
Perhatikan bahwa sebab akibat tidak selalu terjadi secara pola yang sama.
Kita berbuat baik, tetapi kita mengalami yang jahat dari orang lain.
Ada orang berbuat jahat, tetapi dia adalah seorang yang kelihatannya selalu beruntung dalam hidupnya.
Ada orang yang berbuat baik tetapi kelihatannya dia tidak seberuntung orang yang berbuat jahat.
Jikalau kita menjadi orang percaya yang mempunyai falsafah transaksional maka kita akan merasa kita di tikam dari belakang.
Kita menjadi orang yang kecewa dan bisa tawar hati dan tidak mau berbuat baik lagi.
Pemazmur mengalami masa yang tidak mudah bagi dia, ayat 18 berkata, “Sebab aku mulai jatuh karena tersandung, dan aku selalu dirundung kesakitan”.
Lalu apa yang terjadi setelah dia mengalami kesakitan seperti itu?
Ayat 12 & 13 berkata, “Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena penyakitku,
dan sanak saudaraku menjauh”.
Bisa kita bayangkan, ketika kita mengalami masa-masa sulit, masa-masa paceklik, ketika kita mengalami pergumulan, sahabat-sahabat, teman-teman, sanak family menjauh.
Lalu ayat ke-13 mengatakan, “Orang-orang yang ingin mencabut nyawaku memasang jerat,
orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku, memikirkan kehancuran dan merancangkan tipu daya sepanjang hari”.
Kita bisa bayangkan pergumulan Raja Daud bukan hanya pergumulan sakit penyakit yang dia alami tetapi pergumulan mental yang luar biasa.
Dia mengejar yang baik bagi orang lain, dia ingin berbuat baik kepada orang lain, tetapi ketika dia mengalami kemalangan, tidak ada orang yang peduli kepada dia.
Bahkan ada orang mengharapkan Raja Daud mengalami kemalangan.
Apa yang menjadi respons raja Daud pada saat-saat seperti ini?
Ayat (14) Tetapi aku ini seperti orang tuli, aku tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya; (15) ya, aku ini seperti orang yang tidak mendengar, yang tak ada bantahan dalam mulutnya.
Inilah yang menjadi respons dari Raja Daud.
Raja Daud, daripada dia membalas apa yang jahat dari orang lain dengan kejahatan, dia lebih baik berdiam diri, dia seperti orang tuli tidak mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan dia.
Dia seperti orang bisu, yang tidak membalas kata-kata yang tidak menyenangkan hatinya.
Kenapa Raja Daud bertindak seperti ini?
Rahasianya adalah, bahwa Raja Daud percaya kepada Tuhan, dia tidak mempunyai falsafah transaksional.
Dia membiarkan orang-orang berbuat jahat kepadanya, tetapi dia tidak berharap kepada orang- orang itu, dia berharap kepada Tuhan.
Raja Daud daripada menunjuk kesalahan orang lain, dia lebih memilih untuk mengintrospeksi diri dan mengakui dosa-dosanya.
Orang yang memiliki semangat seperti ini, introspeksi diri, dia adalah orang yang beruntung.
Karena dia tidak dikendalikan oleh sikap orang lain.
Dia tidak bergantung kepada apa yang terjadi dengan orang lain.
Tetapi dia bergantung kepada Tuhan dan dia selalu ingin hidupnya berkenan kepada Tuhan, disitu dia introspeksi diri.
Pesan Firman Tuhan bagi kita:
Sifat transaksional adalah sifat yang melandaskan hidup kepada fondasi yang goyah.
Apalagi ketika kita ingin membangun relasi yang lebih sejati dengan orang lain, ketika kita menaruh fondasi transaksional, maka fondasi ini fondasi yang goyah.
Mengapa? karena ingat! Respons orang lain kepada kita tidak sesuai dengan pola yang kita inginkan, tetapi dengan pola acak.
Kita berbuat baik tetapi belum tentu orang merespons yang baik kepada kita.
Tetapi bagaimana kita bisa selalu berbuat baik kepada orang lain? Kita percaya kepada Tuhan dan percaya kepada kebaikan Tuhan.
Tuhan yang baik, Dia tahu apa yang Dia ingin lakukan di dalam hidup kita.
Oleh karena itu, tinggalkan semangat transaksional, marilah kita mempunyai semangat yang selalu ingin menjadi berkat bagi orang lain.
Doakan dan renungkan
* Tetapi aku ini seperti orang tuli, aku tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya; tak ada bantahan dalam mulutnya.
* Raja Daud, tidak membalas apa yang jahat dari orang lain, dia memilih berdiam diri, seperti orang tuli yang tidak mendengar kata-kata yang menyakitkannya.
Tidak membalas sepadan