Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 15 : 1-5
Siapa yang boleh datang kepada TUHAN?
Mazmur 15 : 1-5
1 Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
3 yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
4 yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
5 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.
Mazmur 15 ini adalah Mazmur Daud. Kalau kita baca, kita tahu Mazmur ini merupakan doa dari Raja Daud kepada Tuhan.
Namun ketika kita membaca penuturan dari Mazmur ini, ternyata doa dari Raja Daud itu berupa perenungan bagi dia. Mungkin jarang bagi kita memikirkan doa adalah sebuah perenungan pribadi.
Tidak heran kenapa Raja Daud bisa menjadikan doa sebuah perenungan, karena berdoa adalah kita menghadap Tuhan.
Ketika kita menghadap Tuhan, maka kita mulai merenungkan siapakah Tuhan dan siapakah kita.
Di situ timbul pertanyaan dari dalam hati seorang yang berdoa menghadap Tuhan: "Tuhan, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?"
Bagaimana kehidupan doa kita hari ini? Dalam doa kita bisa meminta kepada Tuhan.
Namun hari ini kita belajar satu hal bahwa doa itu membuat kita sadar siapakah Tuhan dan siapakah kita. Di situlah kita semakin mengenal Tuhan, kita semakin menyadari siapa diri kita.
Ketika Raja Daud merenungkan hal ini, maka dia menanyakan, siapakah orang yang boleh menumpang di rumah atau di kemah Tuhan.
Dan kita temukan dia berkata seperti ini, "Dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya."
Dari ayat 2 saja maka timbul pertanyaan dalam hati saya, mungkin juga dalam hati kita. Adakah orang yang seperti ini secara sempurna: berlaku tidak bercela, melakukan apa yang adil, mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya?
Belum lagi kalau kita baca ayat 3, ayat 4, dan ayat yang kelima, tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki kesempurnaan yang seperti ini.
Jikalau tidak ada, siapakah yang boleh menumpang dalam kemah Tuhan? Siapakah yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Apakah Raja Daud? Tentu tidak.
Raja Daud tahu untuk menghadap Tuhan dia tidak boleh datang begitu saja. Dia harus membawa korban pengampunan dosa untuk menutupi dosa-dosanya sebagaimana dituliskan di dalam Taurat Musa.
Raja Daud pasti sadar dia bukan orang yang memenuhi kriteria itu. Pertanyaan bagi kita adalah mengapa Daud mempertanyakan hal itu?
Kita tahu bersama bahwa bangsa Israel adalah umat Tuhan, bukan berdasarkan kehebatan mereka atau kebenaran mereka.
Mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk. Mereka bangsa yang kecil,budak, dan tidak terpandang. Tetapi Tuhan memilih mereka melalui Abraham, Ishak, dan Yakub.
Raja Daud adalah raja Israel. Dia tahu sepenuhnya mereka boleh menghadap hadirat Tuhan, semata-mata karena mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan.
Di sini Raja Daud ingin menekankan sebagai orang-orang yang dipilih oleh Tuhan, marilah kita hidup sebagaimana yang Tuhan inginkan.
Menghadap Tuhan dan menyembah Tuhan tidak pernah bisa karena kebenaran kita, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan.
Anugerah Tuhan itu ada jalannya dan jalan yang Tuhan sediakan itu sudah diberikan kepada kita.
Di situlah Tuhan Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun sampai kepada Bapa jikalau tidak melalui Aku."
Jalan yang Tuhan sediakan itu jalan anugerah. Ketika seseorang menolak anugerah Tuhan itu, maka tidak ada jalan bagi dia untuk boleh datang kepada Tuhan.
Tidak ada seorang pun yang layak boleh menghadap Dia dengan kebenarannya sendiri. Oleh karena itu, mari ketika kita berdoa, kita merenungkan siapakah orang yang boleh menghampiri Tuhan.
Di situ kita mengerti hanya kasih karunia di dalam Tuhan Yesus Kristus yang mati menanggung dosa kita, membawa kita boleh datang kepada Tuhan.
Doakan dan renungkan
*TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemahMu? Hanya dia yang berlaku tidak bercela.
* Tidak ada seorang pun yang layak menghadap Dia dengan kebenarannya sendiri. Hanya kasih karunia Tuhan Yesus Kristus melayakkan kita datang kepadaNya.
Hanya jika dilayakkan Tuhan