Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 11:1-7 (TB2)
TUHAN, tempat perlindungan
Di tengah tekanan hidup, ketakutan sering kali mengaburkan pandangan kita akan kehadiran Tuhan.
Namun, di balik rapuhnya hidup ada takhta yang berdiri teguh memegang kendali atas setiap pergumulan kita.
Akhir-akhir ini banyak berita yang mengkhawatirkan kita. Ekonomi yang lesu, masa depan negara yang belum jelas, orang-orang korup yang mungkin ada di dalam badan pemerintahan, dan maraknya tindak kekerasan.
Kita disadarkan bahwa kita menjalani hidup yang sulit, di samping itu kita menghadapi masalah pribadi yang tidak kunjung selesai, seperti: penyakit, relasi dalam keluarga, trauma yang belum sembuh, dan lain sebagainya.
Mungkin banyak pertanyaan yang kita lontarkan. Apakah Tuhan masih ada di sana? Apakah Tuhan mendengarkan suara kita?
Kita merasa sudah menjadi Kristen dan mengikuti Tuhan bertahun-tahun, tetapi hidup yang kita jalani tidak semakin mudah melainkan semakin sulit.
Kita sering mendengar pernyataan bahwa Allah kita adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa. Namun sering kali pernyataan iman ini berlalu begitu saja.
Sebagai manusia yang hidup di dunia yang rapuh dan penuh dengan pergumulan, kita sering kali sulit melihat kehadiran Allah yang memegang kendali atas kehidupan kita.
Di tengah kondisi seperti ini, pemazmur mengajak kita untuk belajar tetap percaya dan berpegang kepada Allah.
Pemazmur percaya bahwa Allah tidak pernah tidur. Di tengah kondisi yang sulit dan tekanan yang berat, ia ingin tetap belajar untuk melihat dunia dari kacamata Allah.
Mazmur 11:1-7 (TB2)
1 Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Pada TUHAN aku berlindung, bagaimana kamu berani berkata kepadaku: "Terbanglah ke gunung seperti burung!"
2 Sebab, lihat orang fasik melentur busurnya, mereka memasang anak panahnya pada tali busur, untuk memanah orang yang tulus hati di tempat gelap.
3 Apabila dasar-dasar runtuh, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar?
4 TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.
5 TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan.
6 Ia menghujani orang-orang fasik dengan arang berapi dan belerang; angin yang menghanguskan, itulah isi piala mereka.
7 Sebab TUHAN itu adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.
Serupa dengan kita, Daud juga berhadapan dengan ancaman dan krisis yang terus datang dalam hidupnya.
Apa yang terjadi? Pada ayat 2-3, rekan-rekan Daud berkata ia seolah diperhadapkan dengan musuh yang menyerang.
Ketika Daud menggambarkan musuhnya atau orang fasik sebagai pemanah yang melenturkan busurnya, itu adalah gambaran ancaman yang begitu dekat dan bisa datang kapan saja.
Mereka siap menghancurkan orang-orang yang hidupnya takut akan Tuhan, termasuk Daud.
Kita tidak mengetahui apakah itu parah atau tidak, tetapi yang pasti rekan-rekan Daud pada ayat 3 merasa bahwa orang benar sudah kalah bahkan tidak bisa melakukan apa-apa dan fondasi mereka sudah hancur. Harapan sudah tidak terasa ada.
Dalam keadaan ini, Daud mendengar nasihat dari rekan-rekannya yang berbunyi “…Terbanglah ke gunung seperti burung!"(ay. 1). Perkataan ini bukan hanya nasihat, namun sebetulnya sindiran untuk Daud.
Daud dinasihati untuk terbang seperti burung kecil yang ketakutan karena Allah sepertinya tidak bekerja.
Dari tata bahasanya, ini adalah sebuah sindiran halus yang menyatakan bahwa seolah-olah Allah itu tidak berkuasa.
Di tengah riuhnya dunia, kita juga sering mendengar suara-suara yang membawa kita menjauh dari Tuhan.
Daripada belajar berserah, kita diajar untuk mengambil jalan pintas. Daripada menantikan Tuhan, kita diajak untuk meragukan-Nya.
Di tengah dilema pekerjaan, ada hasutan bahwa cara Kristen dan cara dunia bekerja itu berbeda.
Padahal seharusnya, kebenaran itu memengaruhi cara kita hidup dan bekerja. Di tengah banyaknya suara ini, suara mana yang kita dengar?
Godaan untuk percaya dan mengandalkan diri sendiri sering kali lebih memikat daripada belajar untuk terus bersandar dan mengandalkan Allah di tengah kesulitan.
Saat Daud mendengar nasihat tersebut, dia tetap memilih untuk percaya kepada Allah.
Di ayat 4-5, Daud menyatakan keyakinannya akan Allah yang hadir dan adil. Ada 2 variabel yang Daud sebutkan yaitu:
1. Tuhan yang ada di dalam bait-Nya.
Hal ini menegaskan bahwa Allah hadir di tengah umat-Nya. Bait Allah sebagai lambang dari kehadiran Allah. Meskipun keadaan tidak menentu, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
2. Tuhan yang bertakhta di surga.
Allah bertakhta seperti raja yang memegang kendali. Dia bahkan menguji anak-anak manusia.
Allah itu adil, Ia mencintai kebenaran dan di sisi lain membenci kejahatan.
Di satu sisi kita bisa bersukacita karena hidup kita aman di dalam tangan-Nya, tetapi di sisi lain Ia akan menghakimi orang-orang yang hidup dalam kejahatan.
Maz 11:6 (TB2)
Ia menghujani orang-orang fasik dengan arang berapi dan belerang; angin yang menghanguskan, itulah isi piala mereka.
Penghukumannya pun tidak main-main, gambaran yang tertulis di ayat 6 itu sangat mengerikan.
Bagi orang-orang seperti ini, hukuman itulah yang menjadi “piala” atau hidup mereka.
Maz 116:13 (TB2) – Bersyukur karena luput dari belenggu maut
Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan menyerukan nama TUHAN.
Berbeda dari mereka, seperti yang tertulis pada Mazmur 116:13, piala kita adalah keselamatan.
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Kita dipanggil untuk melihat rapuhnya kehidupan dengan mata iman, bukan dengan “mata kita.”
Saat kita percaya pada Allah, hidup kita mungkin tidak akan langsung berubah 180 derajat, tetapi hati kita akan dibentuk untuk memiliki keyakinan dan kelegaan di dalam Allah.
Kita bisa merasa aman karena Kristus telah menyelamatkan kita dan Roh Kudus ada di dalam hati kita.
Ia hadir di tengah kita, memegang kendali atas dunia, dan Ia juga membenci kejahatan.
Saat kita diperhadapkan dengan kesulitan hidup, sakit penyakit, dan masalah iman, percayalah bahwa Allah itu berkuasa.
Saat kita berhadapan dengan ketidakadilan dan orang-orang jahat, percayalah bahwa Tuhan menguji anak-anak manusia.
2. Mari belajar melihat dengan mata iman dan percaya bahwa Allah itu berdaulat.
Doakan dan renungkan
* Di tengah riuhnya dunia, kita sering terbawa untuk menjauh dari Tuhan. Daripada menantikan-Nya, kita diajak untuk meragukan-Nya.
* Sesungguhnya, saat kita percaya pada-Nya, hidup kita mungkin masih sama,tetapi pikiran dan hati kita dibentuk untuk memiliki keyakinan dan kelegaan di dalam-Nya.
Harapan yang melegakan