Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Sabtu, 27 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 10:1-11 (TB2)

Allah, Pelindung orang-orang saleh (part 3)


Kerendahan hati sering kali tidak diukur dari ucapan yang mengecilkan diri, tetapi dari cara hidup yang selalu menyadari kuasa dan kehadiran Allah.


Ada sebuah cerita terkenal tentang politikus dari Brazil yang bernama Tancredo Neves. Tahun 1980-an, Neves pernah berambisi menjadi presiden Brazil. Pada kampanyenya, ia berkata:


“Jika saya mendapatkan 500.000 suara, bahkan Tuhan pun tidak akan bisa mencegah saya menjadi presiden.”


Neves berhasil menjadi presiden terpilih. Namun, tepat satu malam sebelum dia dilantik secara resmi, dia jatuh sakit mendadak. Sakit yang parah, sampai akhirnya meninggal. Meski dia pernah terpilih sebagai presiden, dia tidak pernah secara resmi dilantik.


Sebagai orang Kristen, kita kerap bergumul dengan dosa kesombongan. Kita merasa memiliki kendali atas segala sesuatu dan melakukan semuanya sesuai dengan keinginan hati kita.


Meskipun kita tidak pernah secara frontal mengecilkan Tuhan, kita sering merasa tidak membutuhkan Tuhan dalam hidup kita. Kita membesarkan diri dan mengecilkan Tuhan.


Di sepanjang perenungannya, Daud sering menemui orang-orang congkak. Saat kita membaca nyanyian mazmur, kita menempatkan diri sebagai pemazmur, padahal tidak jarang justru kita berkelakuan seperti orang fasik.


Mazmur 10:1-11 (TB2)


Allah, Pelindung orang-orang saleh


1 Mengapa, Engkau berdiri jauh-jauh ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?


2 Dengan congkak orang fasik memburu orang tertindas; biarlah mereka terjebak dalam tipu daya yang mereka rancang.


3 Karena orang fasik membangga-banggakan keinginan hatinya, dan orang serakah mengutuki dan menista TUHAN.


4 Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas, “Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!”, itulah seluruh pikirannya.


5 Tindakan-tindakannya selalu berhasil; hukum-hukum-Mu terlalu tinggi baginya; ia meremehkan semua lawannya.


6 Ia berkata dalam hatinya, “Aku takkan goyah. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun-temurun.”


7 Mulutnya penuh dengan sumpah serapah, tipu daya dan penindasan; di bawah lidahnya ada kelaliman dan kejahatan.


8 Ia duduk mengadang dekat perkampungan, di tempat yang tersembunyi ia membunuh orang yang tak bersalah. Matanya mengintip orang lemah;


9 ia mengendap di tempat yang tersembunyi seperti singa di dalam semak-semak; ia mengendap untuk menyergap orang tertindas. Ia menyergap orang tertindas itu dengan menyeretnya ke dalam jaringnya.


10 Ia membungkuk dan tiarap, jatuhlah orang-orang yang malang ke dalam cakarnya yang kuat.


11 Ia berkata dalam hatinya, “Allah melupakannya; Ia menyembunyikan wajah-Nya dan tidak akan melihatnya untuk seterusnya.”


Mazmur pasal 10 adalah kelanjutan dari Mazmur Daud pasal 9.


Daud bukan hanya berhadapan dengan bangsa-bangsa yang menyerang, tetapi juga orang-orang di dalam komunitas, yang hidup dalam kesombongan dan kecongkakan. Bagi Daud, orang-orang yang congkak ini adalah orang-orang fasik yang Tuhan benci.


Amsal 15:9 (TB2)

Kumpulan amsal Salomo


Jalan orang fasik menjijikkan bagi TUHAN, tetapi siapa mengejar kebenaran dikasihi-Nya.


Orang-orang seperti ini merasa bahwa mereka lebih besar dan berkuasa dari Tuhan, padahal mereka hanyalah manusia.


Kata “manusia” di dalam bahasa aslinya adalah “enos” yang dipakai oleh Daud untuk menyembah Allah, dengan menggambarkan kerapuhan manusia di hadapan Allah yang agung.


Dalam Mazmur 10:18 kata “enos” dipakai untuk menggambarkan orang fasik yang menakut-nakuti, yang akan mengalami penghakiman dari Allah.


Ada 2 karakteristik orang fasik yang diceritakan oleh Daud, yaitu:


1. Merasa hebat;


Di ayat 2, mereka digambarkan memburu orang tertindas dan menjebak mereka. Mereka tidak mengindahkan cara hidup yang Tuhan ajarkan.


Di ayat 3, mereka juga membanggakan dirinya dan merasa bahwa Allah itu tidak ada, mereka merasa bahwa pribadi yang powerful(kuat, berkuasa) itu adalah mereka, bukan Tuhan.


Di ayat 6, mereka berkata “Aku takkan goyah. Aku tidak akan ditimpa malapetaka turun temurun.”


2. Merendahkan orang lain


Semakin tinggi pandangan seseorang tentang dirinya, semakin rendah cara dia melihat orang lain. Orang ini hanya berpikir bahwa dunia berputar di sekelilingnya dan orang lain hadir harusnya hanya untuk memuaskan keinginannya.


Di ayat 7, mereka mengatakan kata-kata yang menjatuhkan, “Mulutnya penuh dengan sumpah serapah, tipu daya dan penindasan; di bawah lidahnya ada kelaliman dan kejahatan.”


Mereka bahkan menyergap dan membunuh orang-orang lemah di perkampungan.


Sekilas, mungkin kita merasa kita bukan orang-orang seperti itu. Namun kenyataannya, tanpa Tuhan, kita akan hidup seperti mereka.


Kita mungkin tidak berkata bahwa Allah itu tidak ada, tetapi kita bisa saja menjalankan hidup tanpa sadar Allah bekerja. Kita tidak merasa bahwa kita punya cara hidup sendiri, tetapi kita bisa menjalani hari-hari dengan mengabaikan Firman Tuhan.


Kita mungkin tidak menyergap orang-orang tertindas, tetapi kita bisa saja memandang rendah orang lain.


Bahkan, saat kita sudah diselamatkan melalui kuasa Injil, kita harus sadar bahwa kebiasaan lama kita sebagai orang fasik sering kali masih tampak dalam hidup kita.


Pesan Firman Tuhan:


1. Kesombongan sering kali tidak hanya berbicara soal apa yang kita ucapkan tentang diri kita, tetapi bagaimana kita hidup mengabaikan Allah.


2. Mari memohon agar Roh Kudus menyadarkan kita dan mengkalibrasi (mengukur dengan standar) ulang hati kita, sebab tanpa Dia, kita tidak sanggup berubah atau bahkan hidup.


Doakan dan renungkan


* Meskipun kita tidak pernah secara frontal mengecilkan Tuhan, kita sering merasa tidak membutuhkan Tuhan dalam hidup kita. Kita membesarkan diri dan mengecilkan Tuhan.


* Saat kita sudah diselamatkan melalui kuasa Injil, Roh Kudus menyadarkan dan menolong kita agar tidak hidup seperti orang fasik yang mengabaikan Allah.


Membesarkan Tuhan, mengecilkan diri