Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 9: 12-21
Allah, Pelindung orang-orang saleh (part 2)
Kesulitan hidup memang sering kali membuat doa kita menciut, tetapi iman mendorong kita untuk tetap memiliki hati yang luas. Salam jumpa dalam program Tuhan adalah Gembalaku.
Semakin sulit keadaan yang kita alami, biasanya semakin sempit doa kita.
Kalau normalnya kita bisa berdoa buat orang lain, entah itu untuk keluarga kita, teman kita, atau orang-orang di luar sana, di tengah keadaan yang semakin menghimpit, doa kita juga biasanya semakin terfokus ke diri kita sendiri.
Waktu kita ke sekolah, saat ujian semakin dekat, kita pasti akan fokus berdoa supaya Tuhan menolong kita dan memberikan kita hasil yang baik. Tentu tidak ada yang salah dengan doa seperti ini.
Namun, bersyafaat bagi orang lain itu penting karena itu menunjukkan iman yang matang dan melatih kita untuk memiliki hati seperti Kristus.
Membawa orang lain dalam doa berarti menyelaraskan hati dengan Allah yang peduli.
Saat kita berseru, kita perlu mengingat bahwa kita bukan satu-satunya orang yang sedang berjuang.
Di luar sana ada banyak orang lain yang bergumul dengan masalah ekonomi, dengan masalah pekerjaan, dengan relasi, atau bahkan mungkin tidak memiliki tempat untuk tinggal.
Di dalam seruannya kepada Allah, Daud tidak hanya memikirkan nasibnya, tetapi dia juga memikirkan nasib dari bangsanya, termasuk mereka yang miskin dan sengsara.
Seperti yang kita pelajari di renungan sebelumnya, musuh yang Daud hadapi di Mazmur 9 kemungkinan adalah bangsa lain.
Sehingga dia juga berdoa bagi orang-orang yang menderita karenanya. Selain karena Daud adalah raja, dia juga memedulikan orang-orang yang berhadapan dengan ketidakadilan.
Doa Daud adalah doa pemimpin yang sadar bahwa keselamatannya terikat dengan kesejahteraan orang-orang lemah yang ada di sekitarnya. Hari ini mari kita bersama-sama melanjutkan perenungan kita dari Mazmur pasal yang ke-9.
Mari kita sama-sama membuka Alkitab kita dari Mazmur pasal yang ke-9 ayat 12 sampai yang ke-21. Saya akan membacakan dalam versi Terjemahan Baru yang Kedua.
Mazmur 9 : 12-21
12 Bermazmurlah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa,
13 sebab Dia, yang membalas penumpahan darah, ingat kepada orang yang tertindas; teriak mereka tidaklah dilupakan-Nya.
14 Kasihanilah aku, ya TUHAN; lihatlah sengsaraku, disebabkan oleh orang-orang yang membenci aku, ya Engkau, yang mengangkat aku dari pintu gerbang maut,
15 supaya aku menceritakan segala perbuatan-Mu yang terpuji dan bersorak-sorak di pintu gerbang puteri Sion karena keselamatan yang dari pada-Mu.
16 Bangsa-bangsa terbenam dalam pelubang yang dibuatnya, kakinya tertangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri.
17 TUHAN telah memperkenalkan diri-Nya, Ia menjalankan penghakiman; orang fasik terjerat dalam perbuatan tangannya sendiri. Higayon. Sela
18 Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati, ya, segala bangsa yang melupakan Allah.
19 Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.
20 Bangkitlah, TUHAN, janganlah manusia merajalela; biarlah bangsa-bangsa dihakimi di hadapan-Mu!
21 Biarlah mereka menjadi takut, ya TUHAN, sehingga bangsa-bangsa itu mengakui, bahwa mereka manusia saja. Sela
Daud memang mengalami sendiri pembebasan yang Tuhan berikan di bagian sebelumnya ketika dia bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati.
Tapi hidup tentu saja terus berjalan dan ancaman masih saja datang ke hidup Daud. Di ayat 14, Daud berkata, "Kasihanilah aku, ya Tuhan. Lihatlah betapa sengsaranya aku."
Masalah yang dibawa oleh musuh-musuhnya membawa Daud kepada sebuah keadaan terpuruk di gerbang maut.
Permainan kata yang Daud gunakan di sini menarik. Kata gerbang digunakan untuk menggambarkan situasi yang kontras.
Dia berkata bahwa dia berada di gerbang maut atau ketakutan akan kematian. Dia merindukan tempat yang penuh dengan sukacita, yaitu gerbang putri Sion.
Gerbang putri Sion sendiri merupakan referensi dari Yerusalem. Tempat di mana Allah dikatakan bersemayam dan tempat di mana biasanya umat Tuhan memuji bersama-sama.
Makanya Mazmur ini sering dinyanyikan juga ketika orang-orang Yahudi berada di pembuangan. Ketika mereka diasingkan dan dijajah bangsa lain, mereka merindukan Yerusalem.
Mazmur ini memang relevan bagi orang Israel di pembuangan karena ancaman yang Daud rasakan.
Ancaman yang diceritakan di sini digambarkan sebagai bangsa-bangsa, bukan sekadar sekelompok orang jahat yang melakukan perbuatan keji.
Di ayat yang ke-18, Daud memakai kata-kata orang fasik dan segala bangsa yang melupakan Allah secara bergantian di ayat yang sama.
Artinya Daud memang sedang berhadapan dengan sebuah bangsa, sehingga ia berseru kepada Tuhan. Di dalam seruan inilah Daud mengingat orang-orang yang lemah.
Dia berkata bahwa harapan itu ada seperti apa yang Tuhan telah lakukan sebelumnya, bukan hanya bagi Daud, tetapi juga bagi orang-orang yang miskin dan sengsara.
Di dalam ayat 19, Daud berkata seperti ini: "Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya harapan orang sengsara lenyap."
Dalam seruannya kepada Tuhan, Daud mengingat orang-orang di sekitarnya. Bagi Daud, pengharapannya bukan sekadar keselamatan bagi dia dan seisi rumahnya.
Tetapi juga bagi mereka yang berjuang di tengah kehidupan yang keras, bukan hanya mereka yang menerima ketidakadilan.
Di ayat 21, Daud juga berkata, "Biarlah bangsa-bangsa mengakui bahwa mereka manusia belaka."
Di akhir doanya, Daud meminta Tuhan menyadarkan bangsa yang sombong itu bahwa mereka hanyalah manusia yang fana.
Mendoakan orang lain bukan berarti hanya mendoakan yang baik-baik, tetapi juga bersyafaat agar Tuhan melembutkan hati mereka yang keras dan menyadarkan mereka akan Tuhan.
Tuhan Yesus di dalam kehidupan-Nya tidak hanya memikirkan kesejahteraan hidup-Nya.
Ia menyatakan kasih dan kepedulian-Nya kepada orang-orang lain, termasuk mereka yang terpinggirkan di tengah masyarakat.
Bahkan di puncak dari penderitaan-Nya di atas kayu salib, Tuhan Yesus masih berdoa untuk pengampunan orang lain, termasuk saya.
Kalau kerinduan kita adalah menjadi serupa dengan Kristus, maka biarlah Roh Kudus menolong kita untuk menyelaraskan hati kita dengan hati Kristus.
Biarlah hati kita tertuju bukan hanya kepada diri kita sendiri, tapi juga kepada orang lain.
Doakan dan renungkan
* Bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.
* Dalam seruannya kepada Tuhan, Daud mengingat orang-orang di sekitarnya, dia berdoa bagi mereka yang berjuang di tengah kehidupan yang keras.
Mari berdoa bagi orang lain