Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Rabu, 24 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 8:1-10

Manusia hina sebagai makhluk mulia


Kita sering merasa kecil karena dunia memandang kita sebelah mata. Padahal, Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang sangat berharga.


Dimana letak patung paling tinggi di dunia? Patung itu adalah Statue of Unity, yang terletak di India. Tinggi patung mencapai 182 m atau 240 m jika dilihat dari landasan bawah.


Candi Borobudur memiliki tinggi 42 m, sehingga patung ini berukuran lima kali lebih tinggi. Kita perlu berada di tempat yang agak jauh untuk bisa melihat patung tersebut secara keseluruhan.


Jika berada pada jarak yang sangat dekat, kita perlu mendongak agar dapat melihat puncak dari patung tersebut.


Saat berhadapan dengan sesuatu yang sangat megah, kita akan sadar bahwa hal tersebut begitu besar. Sebaliknya, kita begitu kecil.


Demikian juga dengan mengenal Allah. Mengenal Allah seperti melihat kaca jendela. Kita dapat melihat betapa indah dan baiknya Tuhan. Pengenalan ini membawa kita ke dalam penyembahan.


Di sisi lain, mengenal Allah seperti melihat cermin. Kita bisa melihat siapa kita di hadapan Tuhan.


Kita sadar bahwa diri penuh dengan dosa. Pada dasarnya, Allah menciptakan kita dengan indah.


Suatu saat Daud melihat langit malam yang indah, dia berefleksi tentang Tuhan dan dirinya. Perenungan ini menghasilkan nyanyian yang sangat indah.


Mazmur 8:1-10


1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud.


2 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.


3 Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.


4 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:


5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?


6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.


7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:


8 kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;


9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.


10 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!


Di tengah langit malam yang penuh bintang, perhatian Daud tidak tertawan pada fenomena alamnya. Melainkan, kepada siapa Pelukis yang ada di baliknya.


Daud memulai dan menutup nyanyiannya dengan berkata,Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.


Sama seperti Daud, saat menyaksikan karya Tuhan yang hebat: melihat langit senja memikat, gunung yang tinggi, taman bunga yang cantik; seharusnya, hal itu mendorong kita menyadari kehadiran Allah dan betapa hebatnya Dia.

Hanya Allah yang dapat membuat pekerjaan seperti itu. Bahkan, Daud berkata bahwa semua keindahan ini diciptakan hanya dengan jari Tuhan. Artinya, Tuhan sanggup menciptakan sesuatu yang jauh lebih indah lagi.


Jadi, kemampuan Allah sungguh luar biasa besar. Hal yang kita saksikan dengan mata kita, hanyalah bagian kecil dari keindahan Allah yang tidak terbatas.


Hal ini menyadarkan Daud, bahwa Allah mampu melakukan banyak hal, termasuk yang tidak masuk akal sekalipun.


Pada ayat 3, disebutkan bahwa Allah dapat memakai anak-anak yang menyusu dan membungkam musuh. Hal ini menggambarkan kebergantungan.


Di dalam kelemahan ini, Tuhan bisa mengalahkan musuh. Dari semua kekaguman ini, pemazmur tiba-tiba berhenti dan mengutarakan pertanyaan pada ayat 5.





Mazmur 8:5


5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?


Di hadapan Allah yang bergitu besar, Daud sadar bahwa dia begitu dikasihi dan dihargai. Gambarannya seperti pesepak bola atau artis terkenal, yang mau menghadapi anak kecil di tengah kerumunan.


Daud sadar bahwa dia adalah manusia yang lemah dan seringkali melakukan kesalahan. Kata “manusia” di ayat 5a, menggunakan kata “enos” yang menggambarkan kelemahan dan kerapuhan.


Kata “anak manusia” di ayat 5b, menggunakan kata “ben adam” yang menekankan bahwa manusia itu hanya ciptaan dari debu tanah.


Di balik semua kerapuhan ini, Daud menyadari bahwa Tuhan menganggap manusia begitu berharga dan spesial. Kata mengingat dan mengindahkan, memiliki makna menyentuh.


Allah digambarkan seperti orang tua yang mengingat anaknya, selalu ingin bertemu dan merawat. Dalam sebuah kerajaan, seorang petani mungkin bisa saja dilupakan.


Namun, di dalam Kerajaan Allah, kita tidak pernah luput dari pikiran Bapa. Pada dasarnya, Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya. Dibanding segala ciptaan yang ada, manusia yang paling merefleksikan Allah.


Manusia diberikan hak istimewa, untuk mengelola bumi yang Allah ciptakan. Kita hidup di dunia yang memandang orang lain berdasarkan standar kecantikan dunia, pencapaian, pekerjaan, kekayaan, dan latar belakang keluarga.


Mungkin kita pernah ditolak dan diabaikan karena pekerjaan, penampilan, penghasilan, kelemahan fisik, dan kegagalan yang pernah terjadi. Semua menyakitkan.


Namun, apapun perkataan atau pandangan orang lain terhadap kita, tidak akan pernah mengubah nilai kita sebagai ciptaan Allah yang berharga.

Pesan Firman Tuhan bagi kita


1. Saat ada orang-orang yang mau merusak gambar diri kita, ingat bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

2. Mari kita sama-sama belajar untuk melihat bahwa kita diterima dan dikasihi oleh Allah sepenuhnya.





Doakan dan renungkan


* Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan.


* Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?… Engkau memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.


Kita diterima dan dikasihi Nya