Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 7:1-10
Allah, Hakim yang adil (part 1)
Di tengah dunia yang mengajarkan untuk selalu terlihat baik, Tuhan justru mengundang kita untuk datang secara transparan di hadapan-Nya.
Manusia cenderung berusaha menampilkan versi terbaik dari dirinya. Kita tidak suka orang menyadari kelemahan dan kekurangan kita.
Contohnya, saat atasan di tempat kerja menghampiri, kita biasanya segera merapikan meja, fokus dengan pekerjaan, dan berusaha agar terlihat serius.
Selain itu, saat kita sedang meeting online dan diminta untuk menyalakan kamera, kita mungkin akan langsung menata penampilan kita, merapikan kamar di belakang kita, dan lain sebagainya.
Kita sering berupaya memasang filter untuk mengatur cara orang melihat kita. Kita bisa saja menyulap penampilan kita di hadapan orang lain.
Tetapi ada satu area yang tidak bisa kita rekayasa, termasuk isi hati kita. Area itu adalah hidup kita di hadapan Allah.
Di Kejadian, saat Adam dan Hawa berbuat dosa, mereka berusaha bersembunyi di dalam taman. Tetapi Allah menemukan mereka karena Ia adalah Allah yang Maha Tahu.
Di Mazmur 139, pemazmur menyatakan Allah mengetahui perkataan kita, bahkan sebelum itu terucap dari mulut kita. Oleh sebab itu, tidak ada yang dapat kita lakukan selain menjadi transparan di hadapan Allah.
Daud menyadari hal ini dan bahkan ia pernah membuka hidupnya untuk diperiksa oleh Allah secara jujur.
Mazmur 7:1-10
1 Nyanyian ratapan Daud, yang dinyanyikan untuk TUHAN karena Kush, orang Benyamin itu.
2 Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku dan lepaskanlah aku,
3 supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan mencabik-cabik aku, tanpa ada yang melepaskan.
4 Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku,
5 jika aku melakukan yang jahat terhadap kawanku, atau menjarah lawanku tanpa alasan,
6 biarlah musuh mengejar aku dan menangkap aku, menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kehormatanku dalam debu. Sela
7 Bangkitlah, TUHAN, dalam murka-Mu, berdirilah menghadapi geram orang-orang yang melawan aku, bangunlah untukku, Engkau yang menuntut keadilan!
8 Biarlah bangsa-bangsa berkumpul mengelilingi Engkau, dan bertakhtalah di atas mereka di tempat yang tinggi.
9 TUHAN mengadili bangsa-bangsa. Hakimilah aku, TUHAN, sebab aku benar, dan aku tulus ikhlas.
10 Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.
Ada suatu momen di mana Daud membayangkan ancaman musuh yang ia hadapi bagaikan ancaman binatang buas.
Disebutkan bahwa musuhnya adalah Kush, orang Benyamin. Kita tidak tahu siapa dia, tetapi Daud menggambarkannya seperti seekor singa yang siap menerkam dan mencabik-cabik.
Oleh karena itu, Daud membutuhkan harapan dan pembebasan dari Allah. Dengan gambaran ekstrem tersebut, Daud seolah-olah ingin berkata bahwa jika bukan Tuhan yang menolongnya, tidak ada lagi jalan keluar yang tersedia baginya.
Apa yang Daud lakukan saat ia memohon pertolongan Allah? Ia meminta agar keadilan ditegakkan bagi mereka yang melakukan kejahatan, sembari membiarkan Tuhan menguji hidupnya.
Saat Kush terus melemparkan tuduhan dan fitnah kepada Daud, ia ingin berkata bahwa tuduhan itu tidak berdasar.
Pada ayat 4-6, Daud berkata jika ia melakukan dosa yang menyebabkan dia dihukum, maka terjadilah.
Daud yakin ia tidak melakukan kesalahan. Dengan kepercayaan dirinya, ia siap menerima konsekuensi jika ia benar-benar bersalah, bahkan rela hidupnya diinjak-injak sampai ke tanah.
Sebaliknya pada ayat 7-10, Daud berdoa agar Tuhan bangkit menyatakan penghakiman dengan adil.
Daud meminta Tuhan menghakiminya dan orang-orang yang terus menyerangnya, sehingga mereka yang menjahati Daud menerima hukuman dan Daud diselamatkan.
Maz 7:10
Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.
Kenapa Daud yakin dengan permohonannya? Karena ia tahu bahwa Allah adalah Allah yang adil, seperti yang ia yakini di ayat 10.
Keadilan Allah didasarkan pada kenyataan bahwa Ia sanggup menguji hati dan batin manusia.
Ia tahu isi hati dan pikiran manusia yang Ia ciptakan. Apakah Daud orang yang sempurna? Tentu saja tidak, ia punya banyak dosa dan kelemahan yang tercatat jelas di dalam alkitab.
Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah Daud menyanyikan mazmur ini, namun kita dapat melihat akuntabilitas dan transparansi Daud di hadapan Allah.
Tuhan pasti mengetahui rencana jahat di kepala, kebencian di hati, bahkan betapa kotornya pikiran kita.
Akan tetapi, apakah kita siap menelanjangi diri di hadapan Tuhan dan berkata, “Selidikilah aku, ya Tuhan.”
Kita memang tidak menjadi transparan agar diselamatkan, sebaliknya karena kita tahu bahwa kita sudah diselamatkan melalui karya salib, maka kita rela membiarkan Tuhan memeriksa hati kita.
Sering kali, saat kita membiarkan Tuhan memeriksa hidup kita, kita baru tersadar bahwa kita membutuhkan Tuhan dan tanpa Tuhan, kita bukan siapa-siapa.
Pesan Firman Tuhan bagi kita
1. Kesediaan menjadi transparan ini memang membutuhkan keberanian, tetapi biarlah pengorbanan Kristus menjadi kekuatan dan penghiburan kita.
Kita tahu bahwa kita sudah diampuni sekali dan untuk selamanya, dan selalu ada anugerah yang tersedia bagi kita yang mau selalu dibentuk.
2. Mari belajar membuka hati kita dan membiarkan Tuhan menyelidiki hati kita sampai ke bagian yang terdalam.
Doakan dan renungkan
* Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.
* Kesediaan untuk diuji Tuhan membutuhkan keterbukaan dan keberanian, tetapi biarlah pengorbanan Kristus menjadi kekuatan dan penghiburan kita.
Uji lah aku Tuhan