Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Minggu, 21 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 6:1-11

Doa dalam pergumulan


“Tuhan tidak mencari doa yang di susun dengan kata-kata yang sempurna, tetapi doa yang datang dari hati yang jujur.”


Apa bedanya menulis diary dan menulis surat untuk orang lain.


Waktu menulis surat kita pasti harus menulis dengan format yang baku.


Kita harus memahami siapa penerima surat itu, bagaimana tata bahasanya, sampai cara mengatur layoutnya.


Ada banyak sekali kaedah yang harus diperhatikan, sehingga sering kali menulis surat itu membutuhkan waktu yang lebih lama.


Berbeda denga menulis diary atau catatan harian, kita bisa menulis dengan cara apapun yang kita mau karena diary tidak bersifat formal.


Kita bisa mengekspresikan semuanya, bukan hanya dengan tulisan bahkan dengan gambar.


Diary merefleksikan kedalaman diri kita yang paling jujur.


Ketika kita berelasi dengan Allah, cara berkomunikasi seperti apa yang Allah rindukan.


Cara seperti surat yang formal atau justru seperti diary.


Allah tentu merindukan kejujuran kita, bukan kepalsuan yang di bungkus dengan rapi.


Kalau kita baca kitab Mazmur, kita akan menemukan segala rekaman emosi Pemazmur yang di bawa kehadapan Tuhan.


Salah satu tokoh reformator, John Calvin, sendiri berkata bahwa pemazmur adalah anatomi dari seluruh jiwa manusia.


Dan kejujuran inilah yang membuat relasi kita dengan Tuhan menjadi otentik.


Kabar baiknya adalah Tuhan selalu mendengarkan kejujuran kita.


Hari ini kita akan sama-sama belajar dari salah satu nyanyian Daud yang apa adanya.



Mazmur 6:1-11


1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud.


2 Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.


3 Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,


4 dan jiwaku pun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?


5 Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.


6 Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?


7 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.


8 Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.


9 Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku;


10 TUHAN telah mendengar permohonanku,TUHAN menerima doaku.


11 Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.


Seperti beberapa nyanyian sebelumnya, di Mazmur 6, Daud mengharapkan pembebasan dari Tuhan.


Kita memang tidak tahu dengan jelas apa yang saat itu sedang terjadi, tetapi kemungkinan Daud masih berhadapan dengan musuh-musuhnya.


Menariknya, kali ini Daud menggambarkan keadaaannya seperti seseorang yang sedang sakit berat.


Kalau kita baca di Ayat 1-8, Daud memohon agar Tuhan mendengarkan seruannya dan memulihkan keadaannya dari kelemahan tubuh yang dia alami.


Di ayat 9-11, Daud menyebutkan keyakinannya akan Tuhan yang mendengar doanya dan menolong dia dari musuh-musuh-nya yang terus memperlakukan dia dengan jahat.


Kejujuran Daud bisa kita lihat dari perkataannya di awal dari nyanyian ini.


Meskipun Daud tahu bahwa Allah berhak untuk menghukum dan mengijinkan penderitaan terjadi di dalam hidupnya, di ayat 2-3 Daud meminta agar Tuhan tidak menghukum dia dan justru mengasihani dia.


Di dalam gambaran akan rasa sakit yang dialami, Daud memohon agar Tuhan memulihkannya.


Kenapa Daud bisa mengkaitkan hukuman dengan penyakit?


Karena di dalam pemikiran orang-orang di zaman dulu sakit itu identik dengan dosa.


Masyarakat membangun semacam pemahaman bersama bahwa kalau ada seseorang yang sakit maka itu dianggap sebagai akibat dosanya di masa lalu, padahal tidak selalu begitu.


Pemahaman ini tidak mudah, apalagi Daud juga mengambarkan keadaannya dengan tulang yang gemetar dan jiwa yang terkejut di ayat 3 dan 4.


Kedua ungkapan ini adalah ekspresi yang menggambarkan seseorang yang sangat takut sampai dia kehilangan akal sehatnya.


Di tengah doa dan semua pergumulan yang luar biasa berat ini, Daud sadar bahwa dia hanya bisa berharap kepada Allah.


Saking beratnya, di ayat 7 dia bahkan berkata bahwa, ia berada di tahap bahwa ia lesu karena terus-terusan mengeluh.


Dia menggambarkan tempat tidurnya itu dibanjiri air mata, artinya dia terus menerus menangis karena proplematika ini.


Kalau kita pernah menangis berhari-hari, kita pasti mengerti betapa melelahkannya tangisan itu, baik secara fisik maupun emosional.


Tapi di balik semua air mata ini, Daud tetap belajar untuk jujur sambil percaya.


Di akhir dari Mazmur ini, Pemazmur merubah fokus nyanyiannya, dari permohonan kepada Tuhan menjadi keyakinan akan Allah.


Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan Daud, tetapi Daud berkata dengan lantang bahwa Allah mendengar tangisan dan menerima seluruh permohonannya.


Dari sini kita melihat bahwa, kejujuran itu bukanlah sebuah kesalahan dan Tuhan pasti mendengar setiap seruan doa kita yang jujur.


Di setiap seruan yang jujur, ketika kita sedang berjuang dengan sakit penyakit, kehilangan seseorang yang kita kasihi, ketika kita berhadapan dengan saudara kita yang tidak kunjung percaya, usaha yang tidak kunjung membaik, Tuhan pasti mendengar dan memahami kita.


Memang Tuhan tidak selalu menjawab doa kita langsung pada saat itu juga, tetapi pasti Dia mendengar dan tidak pernah terganggu dengan kejujuran kita.


Saat kejujuran kita tidak berubah menjadi hujatan atau pemberontakan, itu justru menjadi tanda bahwa kita mengakui Allah sebagai Bapa yang mengasihi kita.


Pesan Firman Tuhan bagi kita:


Sama seperti Daud, mari kita belajar untuk jujur, bukan karena kita kehilangan harapan tetapi untuk terus bersandar dan berelasi dengan Allah, Bapa kita.


Doakan dan renungkan


* TUHAN telah mendengar tangisku; TUHAN telah mendengar permohonanku,TUHAN menerima doaku.


* Memang Tuhan tidak selalu menjawab doa kita seketika, tapi Dia pasti mendengar dan tidak pernah terganggu dengan kejujuran doa kita.


Tangisku pun didengarNya