Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 4 : 1-9
Doa pada malam hari
Saat hidup mulai terasa berat, ketenangan yang sejati hanya dapat kita temukan di dalam Tuhan, bukan di dalam allah-allah cadangan yang kita miliki.
Yang punya mobil pasti punya yang namanya ban serep yang selalu tersedia. Tujuannya jelas.
Kalau ban kita tiba-tiba bocor, kita perlu punya cadangan sehingga nanti kita tidak perlu repot-repot memanggil orang atau mencari toko ban yang entah di mana tempatnya.
Kalau kita punya handphone, kita juga pasti atau hampir pasti punya yang namanya power bank.
Tujuannya juga jelas, supaya ketika kita pergi keluar dan kita lupa bawa dompet atau harus pulang misalnya dengan ojek online, handphone kita tetap ada untuk menolong kita.
Bayangkan kalau kita lagi makan di sebuah restoran misalnya, tetapi lupa bawa dompet dan HP-nya juga mati. Wah, kita pasti repot luar biasa.
Maka dari itu, kita butuh cadangan atau backup karena apa yang kita punya itu bisa habis atau bermasalah.
Tentu tidak ada salahnya dengan backup. Tetapi memang tidak semua hal itu perlu ada cadangannya.
Tuhan yang kita sembah tidak bisa digantikan dengan backup atau cadangan apa pun. Dia sempurna dan tidak pernah habis.
Masalahnya, waktu hidup kita mulai terasa sulit, kita sering mencari tuhan cadangan yang lain.
Saat kita mengalami masalah ekonomi misalnya, kita menjadikan harta sebagai berhala dengan cara mungkin melakukan ketidakjujuran.
Misalnya saat kita dikecewakan oleh orang lain, kita menjadikan harga diri kita sebagai berhala dengan memamerkan apa yang kita punyai yang tidak orang lain punya.
Berhala tidak selalu dilakukan di kuil atau di tempat peribadahan tertentu.
Berhala bisa kita lakukan di mana pun dan kapan pun. Di dalam Mazmur pasal yang ke-4, Daud menegur mereka yang memberhalakan dewa-dewa lain saat musim kekeringan itu menghantam.
Mazmur 4: 1-9
1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur Daud.
2 Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!
3 Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan? Sela
4 Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya.
5 Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. Sela
6 Persembahkanlah korban yang benar dan percayalah kepada TUHAN.
7 Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!
8 Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.
9 Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.
Saat Mazmur ini ditulis, bangsa Israel kemungkinan sedang dilanda kegagalan panen karena bencana alam dan juga kekeringan.
Di dalam keadaan seperti ini, mereka mulai mempertanyakan Allah dan mencari solusi lewat dewa-dewa lain.
Mereka berharap dewa-dewa tersebut bisa menyediakan kebutuhan bagi mereka yang saat itu kelaparan dan penuh dengan kekhawatiran. Sebagai bagian dari bangsa Israel, Daud juga mengalami kegagalan panen ini.
Tetapi dia sadar bahwa dia hanya bisa berharap dan memohon kepada Tuhan. Di dalam ayat yang kedua, kata “kasihanilah aku” dalam bahasa Ibrani itu juga bisa berarti “beranugerahlah kepadaku”
Artinya, Daud meminta agar Tuhan menyediakan kebutuhan makanan mereka di dalam belas kasihan Tuhan.
Daud memulai nyanyiannya dengan memberikan contoh bahwa umat Tuhan seharusnya mencari Dia di dalam segala keadaan.
Ini sangat berbeda dengan orang-orang Israel yang lain. Mereka mencari dewa-dewa orang kafir untuk meminta pertolongan.
Kita bisa tahu dari kata “mencari kebohongan” di ayat yang ketiga. Dalam Alkitab terjemahan NIV diterjemahkan sebagai “seek false gods” atau mencari dewa-dewa palsu.
Pencarian ini jelas sia-sia. Seperti kata Daud, karena dewa-dewa itu mati. Dalam kemarahannya kepada orang-orang ini, maka Daud memberikan dua nasihat.
1. Ingatlah Tuhanmu.
Ketika Daud berkata, “Ketahuilah” di ayat yang keempat, maka artinya Daud mengajak orang-orang Israel untuk mengetahui siapa Allah dan apa yang Allah telah lakukan.
Ini adalah pengetahuan yang dibangun lewat relasi, bukan sekadar informasi.
Daud berkata, “Allah telah memilih bagi-Nya orang yang dikasihi-Nya,” yaitu bangsa Israel.
Dari sejak Mesir dan padang gurun sampai tanah Kanaan, bangsa Israel sudah mengalami sendiri kasih Allah yang begitu besar.
Maka dengan keyakinan, Daud berkata, “Tuhan pasti mendengarkan seruan kita.”
Pesan ini juga berbicara kepada setiap kita. Ketika kita mengingat pengorbanan dan karya Kristus di atas kayu salib, maka seharusnya kita menjadikan Dia sebagai satu-satunya Allah di hidup kita.
Kita tidak butuh pembuktian saat orang lain mungkin memandang rendah kita. Kita mau tetap belajar untuk tetap percaya meskipun mungkin hidup tidak pasti.
Kesadaran kita akan karya Tuhan akan menyadarkan kita bahwa kita tidak butuh allah lain.
2. Bertobat
Kata “marah” di ayat yang kelima sebetulnya lebih cocok diterjemahkan sebagai “gemetar”.
Daud seolah ingin memanggil umat Tuhan untuk kembali dari pemberontakannya dengan gentar di hadapan Allah. Daud bahkan menasihati mereka untuk berdiam dan berefleksi.
Kalau kita baca ayat yang kelima, tempat tidur itu sering dikaitkan dengan tempat untuk merenung.
Sehingga di dalam perenungan inilah mereka dinasihati untuk belajar kembali percaya kepada Allah lewat perenungan mereka.
Sering kali kita tidak mengenali berhala kita. Berhala itu mungkin berkat Tuhan yang baik, tapi yang kita jadikan sebagai sesuatu yang paling berharga. Itu bisa jadi kontrol, reputasi, kenyamanan, atau pencapaian kita.
Karena kita tidak sadar, maka kita perlu berdoa dan memohon agar Tuhan memurnikan hati kita.
Ilah atau berhala tidak pernah memberikan kita kepuasan. Karena kepuasan yang sejati hanya datang dari Tuhan.
Di akhir Mazmur 4, Daud menyatakan keyakinannya bahwa Allah yang akan senantiasa memberkati dia dan bangsa Israel.
Tuhan sudah memberikan mereka sukacita, bahkan lebih daripada sukacita ketika anggur dan gandum itu benar-benar tersedia di dalam hidup mereka.
Pada akhirnya, iman yang sejati bukan berarti iman yang tidak pernah ragu. Iman yang sejati adalah iman yang mau tetap berusaha untuk berharap.
Pertanyaannya, maukah kita belajar untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya dan hanya berharap kepada Dia? Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk melakukan Firman ini.
Doakan & renungkan
* Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!
* Iman sejati tidak berarti tidak pernah ragu, melainkan iman yang berusaha untuk tetap berharap pada Allah yang hidup.
Aku masih punya Tuhan