Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Kamis, 18 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 3:1-9 Nyanyian Pagi dalam Menghadapi Musuh


Ketenangan sejati bukan diperoleh dari absennya kekacauan dihidup kita, melainkan karena hadirnya Tuhan di tengah badai yang paling riuh.


Salam jumpa dalam program Tuhan adalah Gembalaku.


Saudara, di dunia seni, ada suatu lukisan karya Jack E. Dawson yang cukup terkenal, yang berjudul Peace in the Midst of the Storm.


Lukisan tersebut menggambarkan badai yang begitu dahsyat. Ada kilat yang menyambar, ombak besar yang menderu, gelombang air yang sangat deras, angin yang besar, dan pohon yang mulai tumbang.


Sekilas lukisan ini menggambarkan suasana yang sangat mencekam dan mengerikan.


Namun menariknya, ditengah kekacauan dan kegaduhan itu, ada seekor burung kecil yang duduk tenang di sarangnya, di celah tebing.


Dia bertengger dengan rasa aman, meskipun situasi di sekitarnya terlihat begitu mengerikan.


Lukisan ini sangat unik dan menarik, karena menunjukkan kekacauan dan ketenangan di waktu yang bersamaan.


Dalam kehidupan yang kita jalani hari ini, kita dihadapkan pada banyak sekali hal yang bisa mengacaukan, dan menciptakan kegaduhan dalam hati kita.


Mungkin itu masalah ketidakpastian masa depan, atau konflik yang terjadi di antara kita dan orang lain yang kita kasihi.


Dari luar, mungkin kita bisa kelihatan baik-baik saja. Tapi, bagaimana dengan hati kita?


Atau, kita juga bisa memilih untuk panik dan mencari pertolongan dari jawaban-jawaban instan yang ditawarkan oleh dunia.


Pertanyaannya, bagaimana kita hidup sebagai anak Tuhan dengan ketenangan, ditengah kekacauan seperti ini?


Ditengah kehidupan yang rapuh ini, hari ini kita akan belajar dari Mazmur pasal 3. Mari kita bersama-sama membuka Alkitab kita.


Mazmur 3:1-9


1 Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya.


2 Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku;


3 banyak orang yang berkata tentang aku: "Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah." Sela


4 Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.


5 Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela


6 Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!


7 Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.


8 Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik.


9 Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! Sela



Sebagian besar dari kita pasti setuju, bahwa percaya itu mungkin kelihatannya mudah. Tapi sebenarnya sulit sekali untuk dijalani.


Begitu pun dengan yang namanya iman. Jika kita perhatikan, beriman itu kedengarannya mudah, tapi sebenarnya luar biasa sulit. Kenapa bisa begitu?


Karena umumnya, sebagai manusia kita selalu butuh bukti, atau sesuatu yang bisa dipegang.


Ratusan tahun yang lalu, ketika ide bahwa manusia bisa terbang pertama kali diungkapkan, banyak orang yang menertawakannya.


Mereka menganggap ide itu terlalu mustahil, karena memang belum ada teori ilmiah, atau teknologi yang bisa mendukung visi atau wacana ini.


Sampai akhirnya pesawat ditemukan, dan dunia harus mengakui apa yang sebelumnya ditertawakan, akhirnya menjadi kenyataan.


Dalam Mazmur 3, Daud pun bergumul kepada Allah. Di sini Daud berada ditengah konteks, di mana dia harus berhadapan dengan musuh yang begitu banyak.


Musuh yang dihadapi bukan hanya sekedar ada di posisi yang berseberangan dengan dia, tetapi juga menekannya.


Kata “lawanku” di ayat 1, dalam bahasa aslinya juga diterjemahkan sebagai “oppressor” atau semacam “penindas / penekan”.


Artinya, musuh yang dihadapi Daud adalah orang-orang yang terus menekan Daud, sampai akhirnya Daud terhimpit dan tidak punya jalan keluar.


Masalahnya lagi, musuhnya ini banyak. Bukan hanya banyak, mereka juga bertambah terus-menerus.


Kata “banyak” di dalam Mazmur 3:1a, memiliki arti “bertambah banyak” atau “semakin banyak.”


Mereka menyerang, dan bahkan menghina Allah Daud, yang seolah-olah tidak menolong Daud.


Mungkin kita tidak bisa membayangkan keadaan saat itu. Tapi kondisi ini sangat menghantam Daud.


Karena pada zaman itu, penghinaan terhadap Allah, juga berarti penghinaan terhadap identitas dasar orang tersebut.


Jika kita berada di posisi Daud, pasti sangat sukar rasanya untuk menaruh kepercayaan kepada Tuhan. Tapi, siapa yang Daud paling cari di keadaan ini? Tuhan.


Seperti yang tertulis di ayat 4, Daud tahu, bahwa Tuhan adalah tempat perlindungannya dan satu-satunya pribadi yang bisa memastikan bahwa hidupnya tetap bernilai.


Biasanya dalam keadaan sulit, kita sangat mungkin untuk merasa bahwa hidup kita tidak ada artinya.


Atau kita mungkin berpikir, aduh saya menyesal, karena saya pernah hidup dalam dunia ini, atau karena saya pernah dilahirkan dalam dunia ini.


Namun, dalam Mazmur ini, Daud mau tetap belajar bahwa Allah adalah kemuliaan-Nya yang memberikan dia keyakinan, bahwa hidupnya punya arti.


Dia bahkan percaya, bahwa Allah masih berbicara, meskipun musuh-musuhnya mempertanyakan keberadaan Allah Daud. Iman Daud sangat besar.


Di sini, bagian selanjutnya justru menarik. Apa yang diperoleh Daud, ketika dia belajar mempercayakan hidupnya kepada Tuhan? Daud memperoleh rasa aman.


Coba bayangkan. Daud berkata, bahwa dia bisa tidur, meskipun dia takut dan tertekan.


Kadang kita sulit untuk terlelap karena kita memikirkan entah itu, tugas yang belum selesai, dendam yang belum padam, harga barang yang mulai naik, atau mungkin orang tua kita yang sakit.


Kapan terakhir kali kita bisa tidur nyenyak, meski ada masalah yang menghantui kita? Tapi Daud katakan, dia bisa tidur.


Bukan hanya itu, Daud juga berkata, bahwa dia tidak takut kepada puluhan ribuan musuh yang mengepung dia.


Percaya kepada Allah, bukan hanya sekedar tahu, bahwa Dia adalah Tuhan, tapi kita juga membuka seluruh ruang hidup kita ke dalam kendali-Nya.


Memang sulit. Tapi, waktu kita sadar, bahwa Tuhan yang sudah memberikan seluruh hidup-Nya buat kita, apa yang bisa kita lakukan selain mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya.


Justru dibalik semua kesulitan itu, Tuhan akan memberikan kita rasa aman.


Corrie ten Boom pernah mengatakan, bahwa iman seperti radar yang mengarahkan kita untuk berjalan di tengah kabut. Yang menolong kita untuk melihat apa yang mata manusia tidak bisa lihat.


Pesan Firman Tuhan bagi kita:


1. Iman mungkin tidak memberikan jalan keluar instan, tetapi memberikan kita pegangan di jalan terjal.


2. Kesulitan mungkin bisa menghampiri hidup kita. Tapi, saat kita sadar Tuhan bersama kita, seperti pemazmur, kita bisa berkata, “Dari Tuhan datang pertolongan. Berkat-Mu kiranya turun atas umat-Mu.”


Doakan dan renungkan


* Daud tidak takut pada puluhan ribu orang yang siap mengepungnya. Ia percaya bahwa TUHAN lah penolong dan penopangnya.





* Percaya/beriman kepada Allah, bukan sekedar tahu bahwa Dia adalah Tuhan, melainkan kita membuka dan menyerahkan seluruh ruang hidup kita ke dalam kendali-Nya.


Percaya bukan sekedar tahu