Audio Stream
00 : 00 : 00

Tuhan Adalah Gembalaku
Mazmur 2:1-12
Raja yang diurapi Tuhan
Menjadi raja atas hidup sendiri adalah ilusi, tetapi kebahagiaan sejati ditemukan saat kita mau merendah di hadapan Raja kehidupan yang sesungguhnya.
Kita hidup di tengah dunia yang sudah kehilangan perasaan atau sense of mystery. Misteri adalah sesuatu yang terlalu besar dan rumit, yang tidak bisa dipahami sepenuhnya dengan pikiran kita.
Dengan adanya perkembangan sains dan teknologi, tanpa disengaja kita distimulasi untuk merasa bahwa dunia yang kita hidupi dapat dipahami sepenuhnya dengan pikiran kita.
Kita bisa paham bagaimana alam bekerja, bayi bisa lahir, atau bahkan makhluk hidup yang hidup di lautan dalam dapat kita ketahui.
Tidak ada yang salah dengan semua perkembangan ini asal kita tidak lupa bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari realitas kita yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya dengan pikiran, atau indra kita.
Tuhan itu misterius, besar, dan banyak hal tentang-Nya yang melampaui imajinasi kita.
Ayub 11:7-9
7 Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?
8 Tingginya seperti langit — apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati — apa yang dapat kauketahui?
9 Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera.
Dalam Mazmur pasal 2, kuasa dan kehebatan Allah digambarkan jauh lebih besar melampaui raja-raja yang ada di dunia.
Dalam konteks aslinya, Mazmur 2 menceritakan tentang raja-raja keturunan Daud yang diurapi.
Secara teologis, nyanyian ini menggambarkan kebesaran Allah Bapa dan Allah Anak.
Kemarin, pemazmur mengajak kita untuk merenungkan Firman. Hari ini, kita diundang ke hadapan Allah dengan rasa takut dan gentar.
Mazmur 2:1-12
1 Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
2 Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya:
3 "Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!"
4 Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.
5 Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya:
6 "Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!"
7 Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau!
Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.
8 Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu,
dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.
9 Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk."
10 Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!
11 Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar,
12 supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!
Mazmur sebenarnya adalah Royal Psalms. Sebuah pujian yang dinyanyikan saat seorang raja dilantik.
Dalam nyanyian ini, Allah digambarkan sebagai Raja di atas segala raja dan raja-raja keturunan Daud sebagai pemimpin yang mewarisi otoritas Allah di dunia.
Menjadi wakil Allah di bumi tidak mudah karena seperti kata pemazmur, ada banyak bangsa yang mau memberontak dan menghancurkan mereka.
Ada banyak raja yang sangat ingin berkuasa, ditakuti, dan dihormati.
Hingga hari ini, banyak diantara kita yang tidak mau dipimpin dan mengabaikan perintah-perintah Allah.
Misalnya saat kita menggantungkan diri kepada kecerdasan kita, menjatuhkan orang lain dengan segala cara, memilih keuntungan daripada kejujuran.
Sebenarnya, kita sedang melawan Allah. Apakah Tuhan tidak sadar? Pada ayat 4, dituliskan bahwa Tuhan bersemayam di surga. Dia bukan hanya berkuasa, melainkan juga tahu segala hal.
Dia tahu bahwa ada banyak bangsa yang memberontak kepada Dia. Namun, apa respon Allah?
Alah digambarkan tertawa dan mengolok-olok. Ini adalah gambaran simbolis bahwa sekuat apapun perlawanan manusia, mereka tidak akan pernah bisa menggoyahkan Allah.
Sebesar apapun koalisi yang dimiliki dengan raja-raja lain, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Allah yang tetap berdiri teguh bersama anak-anakNya, yaitu raja-raja yang diurapi.
Dasar dari klaim ini kemungkinan diambil dari 2 Samuel 7:14, saat Allah berkata bahwa Ia akan menjadi Bapa dari anak-anak Daud, dan anak-anak Daud juga akan menjadi anak Allah juga.
Melalui pemahaman ini, raja-raja justru harus bertindak bijaksana dan menghormati Allah serta mereka yang diurapinya. Hari ini, raja-raja dari keturunan Daud sudah tidak ada lagi.
Pada masanya, raja-raja Yehuda akhirnya gagal, tetapi ada satu keturunan Daud, yang tidak pernah gagal, yaitu Yesus, Putra Allah yang sejati.
Senada dengan perkataan Allah, pada ayat 7, Bapa juga berkata kepada Yesus di Matius 3:17b: …”Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Yesus pernah mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa seorang hamba ketika lahir ke dunia.
Namun, Ia tidak pernah berhenti menjadi Allah. Seluruh kemuliaan-Nya tetap ada dari kekekalan sampai selama-lamanya.
Apakah sekarang kita memiliki rasa hormat terhadap Allah dan Raja kita, Yesus Kristus?
Kita seringkali lebih suka menjadi raja kecil di dalam hidup kita. Kita lebih suka dihormati, tidak suka jika dikritik, hanya mau melakukan hal yang kita anggap benar tetapi tidak benar di hadapan Tuhan.
Mazmur 2:11
Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.
Kuasa Allah seharusnya membuat kita bertelut, bukan semakin membusungkan dada di hadapan Dia.
“Takut” pada ayat ini bukan takut karena cemas, tetapi takut yang dilandasi dengan sukacita.
Bukan karena kita takut dihukum atau masuk neraka, tetapi karena kita tahu kita adalah orang –orang yang sudah mengalami sendiri kuasa Allah yang menyelamatkan kita.
Saat ini, mari datang kepada Yesus, bukan sebagai raja, tetapi sebagai hamba yang bersujud dengan kekaguman.
Doakan dan renungkan
* Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.
* Semakin kita mengenal Allah dan kuasaNya, seharusnya membuat kita semakin tunduk dan bertelut, bukan membusungkan dada seperti orang penting di hadapanNya.
Sikap yang benar