Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Selasa, 16 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku


Mazmur 1:1-6

Jalan Orang Benar Dan Jalan Orang Fasik.


Firman Tuhan yang Allah berikan itu lebih dari sekedar tulisan, Firman itu membawa kita lebih dekat kepada-Nya serta memberikan kita ketenangan dan kepuasan dalam kehidupan yang terus bergejolak, Allah meneduhkan kita melalui Firman-Nya.


Setiap kali kita menggunakan media sosial, entah itu Facebook, Instagram ataupun TikTok, kita selalu dipengaruhi dengan yang namanya algoritma.


Algoritma media sosial akan mengatur agar beranda kita dipenuhi dengan semua konten yang kita suka.


Contoh, kalau kita suka kucing maka Instagram kita akan dipenuhi dengan video-video kucing.


Jika kita suka politik maka Facebook kita pasti akan dibanjiri dengan berita, entah itu kebijakan pemerintah, update geopolitik dan lain sebagainya. Sama seperti media sosial, hidup kita pun punya yang namanya algoritma.


Orang yang suka makan pasti akan selalu berpikir, "Wah, wisata kuliner mana ya yang saya belum coba?"


Orang yang suka olahraga pasti juga akan selalu dikelilingi oleh orang-orang yang suka dan paham akan olahraga juga.


Saudara, pertanyaannya; Apa yang menjadi kesukaan dalam kehidupan kita?


Di bagian yang paling awal dari kitab Mazmur, Daud sebagai sang pemazmur mengajak kita untuk mengintrospeksi diri dan menanyakan hal yang sama ke dalam hati kita.


Bagi pemazmur, orang yang menyukai Firman Tuhan dan orang yang lebih suka dengan hikmat dari dunia pasti punya hidup yang berbeda.


Mari kita bersama-sama membuka Alkitab kita dari:


Mazmur 1:1-6


1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,


1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.


1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.


1:4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.


1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;


1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.


Bagi pemazmur, orang yang mengabaikan Firman, hidupnya tidak berbahagia, mungkin hidupnya bisa terasa menyenangkan, tapi itu cuma kesenangan yang sifatnya palsu.


Orang-orang seperti ini dikatakan suka bergaul dengan orang fasik, berdosa, dan kumpulan pencemooh.


Kalau kita perhatikan ini adalah kelompok orang yang hidup di dalam dosa tanpa merasa ada sesuatu yang salah.


Mereka hidup dengan kesenangan hatinya sendiri, tapi mereka merasa enggak ada sesuatu yang jadi masalah buat hidup mereka. Ini tentu menjadi algoritma hidup orang yang mengabaikan Firman.


Di ayat 1 mereka dikatakan berjalan, berdiri, dan duduk, atau mereka suka dengan hikmat-hikmat dari orang fasik.


Kata “Orang fasik” di dalam Mazmur 1:1 memiliki arti sebagai seseorang yang dinyatakan bersalah,


Mazmur ini sekilas bercerita tentang orang lain, tapi sebetulnya nyanyian ini adalah cermin buat setiap kita yang merenungkan Firman Tuhan hari ini.


Kalau boleh jujur, bukankah hari ini pun hikmat yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan bisa terdengar menyenangkan?


Dunia sering berkata, "Kamu harus percaya dirimu karena kamu bisa menaklukkan semuanya.”, “Kita itu adalah tuhan atas takdir kita.”, “Ikuti kata hatimu” atau “Enjoy sajalah, hidup itu kan cuma buat senang-senang.”


Dengan semua perkataan ini, Tuhan hanya terasa seperti aksesoris di dalam hidup atau bahkan tidak ada sama sekali.


Di dalam Firman Tuhan, orang-orang seperti ini hanya akan menjadi sekam yang dihamburkan oleh angin, sekam adalah biji gandum yang kosong dan tidak berguna.


Jadi di zaman dulu gandum itu disortir, sekam yang tidak ada isinya hanya akan dibuang dan ditiup oleh angin.


Ketika badai kehidupan datang, orang yang mengabaikan Firman hanya akan berjumpa dengan keputusasaan.


Nah, ini berbeda sekali dengan orang-orang yang menyukai Firman Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam, seperti yang pemazmur katakan di dalam Mazmur pasal yang ke1 ini.


Dari awal mereka dikatakan berbahagia, apakah hidupnya selalu berjalan sesuai dengan harapan? Tentu saja tidak.


Tetapi orang-orang seperti ini digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, pohon ini punya dua karakteristik, yaitu tertanam dan subur.


Saudara pasti tahu bahwa pohon liar dan pohon yang dekat dengan sumber air itu pasti berbeda.


Pohon yang dekat dengan sumber air umumnya punya daun yang lebih hijau, lebat, terhidrasi, dan punya buah yang segar karena mereka mendapatkan air yang cukup, pohon ini pasti subur karena dikondisikan di situasi yang baik.


Begitupun saat kita melekat pada suara Tuhan, iman kita bertumbuh subur, pada saat kita tertanam pada hikmat Allah, hidup kita jauh lebih berbahagia.


Bahagia di dalam Tuhan itu tentu berbeda dengan standar dunia.


Bahagia dalam Tuhan itu bisa kita miliki, bahkan meskipun ujian hidup datang, meskipun masalah di dalam kehidupan itu bisa menerpa kita, kita bisa tetap punya sukacita di dalam Tuhan.


Setiap orang itu lahir dengan DNA yang unik, DNA itulah yang mempengaruhi sifat fisik dan karakter kita.


Sebagai orang-orang yang diselamatkan, maka DNA kita adalah anak-anak Allah, artinya kesukaan kita adalah Firman Tuhan, sama seperti yang pemazmur katakan di dalam


Mazmur 119:103


119:103 Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.


Perkataan Firman mungkin tidak menjanjikan kesenangan seperti apa yang dunia ajarkan, tetapi Firman Tuhan menjanjikan kepuasan dan rasa tenang buat setiap kita.


Saat dunia berkata bahwa kita berharga karena harta kita, Firman Tuhan berkata bahwa kita bernilai karena Tuhan mengasihi kita.


Saat kita mungkin menyalahkan diri karena peristiwa buruk yang terjadi di dalam kehidupan kita, Firman Tuhan menegaskan kita bahwa semuanya terjadi di dalam izin dan kehendak Allah.


Saat kita mungkin merasa kita tidak sanggup, Firman Tuhan juga yang berkata anugerah Tuhan selalu cukup dan tersedia bagi setiap kita.


Mari kita telusuri hidup kita:


  • Seberapa banyak waktu yang kita sediakan untuk merenungkan Firman Tuhan?


  • Seberapa kuat prinsip Firman Tuhan mengarahkan pikiran, perkataan, dan keputusan kita?


  • Dalam pekerjaan kita, apakah Firman Tuhan yang menjadi prinsip di dalam hidup kita?


  • Dalam mengurus keluarga, apakah Kristus yang menjadi teladan kita?


  • Dalam perencanaan masa depan, apakah Firman Tuhan yang menguasai hidup kita?


Mazmur 1:6


1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.


Di akhir dari Mazmur pasal yang pertama, pemazmur berkata bahwa “Jalan orang fasik menuju kebinasaan, sedangkan jalan orang benar dikenal oleh Allah.”


1. Kalau kita sudah dikenal dan terhubung dengan Yesus, Sang Air Hidup itu, maka biarlah Firman Tuhan yang berkuasa dan mewarnai hidup kita.


2. Mari biarkan diri kita tenggelam di dalam relasi yang intim dengan Pencipta kita.


Doakan dan renungkan


* Berbahagialah orang yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.


* Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan apa saja yang diperbuatnya berhasil.


Tertanam dan Berbuah