Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Jumat, 12 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku


Matius 27: 57-60

Yesus dikuburkan


“Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.”


Kita ini hidup di dalam budaya yang mudah sekali untuk merasa sungkan. Sungkan di sini bisa memiliki beberapa arti.


Kadang kita sungkan karena merasa tidak enak sama orang, karena kita mungkin telah berbuat atau berkata sesuatu yang kita pikir kurang baik.


Bisa juga sungkan ketika kita telah menerima sesuatu dari orang, lalu kita memberikan imbalan kepada orang tersebut karena rasanya tidak enak kalau tidak membalas budi.


Contoh: ada seorang ibu yang memberikan hampers Natal kepada temannya, maka temannya akan merasa sungkan kalau tidak memberikan hampers Natal juga kepada ibu yang telah memberikan itu. Ini adalah budaya yang lumrah terjadi di lingkungan kita.


Tetapi ketika kita diperhadapkan pada situasi di mana orang lain mungkin tidak bisa membalas budi kepada kita, apakah kita masih bisa tetap memberikan dengan tulus?


Matius 27: 57-60


57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.


58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.


59 Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,


60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.


Kisah yang baru kita baca menceritakan tentang seorang yang bernama Yusuf dari Arimatea yang melakukan sebuah penguburan yang layak bagi Yesus.


Memang tidak diceritakan kepada kita di dalam Injil Matius siapakah Yusuf ini atau seperti apa latar belakangnya.


Namun menurut beberapa penafsir, ia adalah seorang anggota Sanhedrin, yaitu pemimpin agama Yahudi.


Dalam Yohanes 19 ayat 38 dikatakan bahwa Yusuf ini adalah murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang Yahudi.


Bahkan di dalam Yohanes 19 ayat 39 dikatakan juga ada Nikodemus yang ikut datang ke penguburan Yesus. Kita tahu bahwa Nikodemus juga sebenarnya adalah pemimpin agama Yahudi.


Yusuf dari Arimatea ini dikatakan oleh Matius sebagai seorang yang kaya. Hal ini sengaja dituliskan oleh Matius untuk menyatakan penggenapan yang telah tertulis di dalam Yesaya 53 ayat 9.


Yesaya 53: 9 (TB2)


“Orang menempatkan kubur-Nya di antara orang-orang fasik dan makam-Nya di antara orang kaya, sekalipun Ia tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulut-Nya.”


Sebagai anggota pemimpin Yahudi, tentu tidak mudah bagi Yusuf untuk mengikuti Yesus sepanjang jalan sengsara hingga ke titik tersebut.


Tetapi sekalipun para murid meninggalkan Yesus dalam kejadian itu, Yusuf justru memberanikan diri untuk memberikan Yesus penguburan yang layak.


Setelah Yusuf meminta izin dari Pilatus dan Pilatus memberikannya, mulailah Yusuf melakukan penguburan tersebut.


Di ayat 59 memang hanya dikatakan kepada kita bahwa Yusuf mengafani Yesus dengan kain lenan yang putih bersih.


Namun menurut tradisi Yahudi, pemakaman yang layak biasanya dilakukan dengan membersihkan tubuh jenazah, memakaikan pakaian khusus, membungkusnya dengan kain putih, dan membubuhinya dengan rempah-rempah.


Dalam Yohanes 19 ayat 39 dikatakan bahwa Nikodemus membawa campuran minyak mur dan minyak gaharu yang kira-kira beratnya 30 kilogram.


Menurut tradisi Yahudi, menjaga keutuhan tubuh dengan baik adalah simbol dari harapan akan kebangkitan.


Selain rempah-rempah itu dapat meredam bau busuk dari proses pembusukan alami, rempah-rempah itu juga dianggap sebagai bentuk pengawetan.


Dalam pola pikir orang-orang Yahudi saat itu, memelihara kondisi tubuh orang yang sudah mati adalah bentuk iman bahwa suatu hari nanti orang tersebut akan dibangkitkan.

Jadi, sekalipun mungkin Yusuf dan Nikodemus saat itu hanya berniat untuk menghormati guru mereka yang sudah mati dengan memberikan penguburan yang layak sebagai orang penting.


Mereka tidak tahu sama sekali bahwa yang mereka lakukan justru sedang mempersiapkan suatu hal yang besar, yaitu kebangkitan Yesus.


Tindakan mereka sedang menyiapkan Sang Raja yang sebentar lagi benar-benar akan bangkit, padahal mungkin saat itu mereka belum bisa sepenuhnya percaya atau yakin bahwa Yesus akan bangkit kembali.


Setelah itu diberitahukan juga kepada kita bahwa Yesus dikuburkan di dalam kuburan baru milik Yusuf.


Yusuf memberikan kuburnya, yang mungkin sudah ia persiapkan untuk dirinya sendiri di kemudian hari, untuk menguburkan Yesus.


Menarik sekali di sini. Ketika yang diceritakan kepada kita adalah seorang pemimpin Yahudi yang kemudian menjadi murid Yesus, merekalah yang diberikan kehormatan untuk bisa memberikan penguburan yang layak bagi Yesus.


Sekali lagi, ketika para murid tidak disebutkan ada di sana.


Melalui kisah ini, kita bisa melihat bahwa sekalipun Yusuf melakukannya secara sembunyi-sembunyi, imannya tidak menghalangi dia untuk melayani Yesus.


Bahkan di saat Yesus sudah mati, perbuatan Yusuf kepada Yesus itu tidak tergantung pada apa yang Yesus bisa berikan kepadanya, tetapi terletak pada ketulusan hatinya untuk menghormati Yesus sampai akhir.


Secara manusiawi, Yesus terlihat kalah atau terlihat diam karena Ia sudah mati.


Secara logika, Yusuf tidak bisa mengharapkan imbalan apa-apa dari Yesus, karena tentu saja orang mati tidak bisa membalas budi. Tetapi Yusuf tetap memberikan yang terbaik bagi Yesus.


Bagaimana dengan kita? Apa yang kita lakukan bagi Yesus di saat kita mungkin merasa Tuhan sedang diam, atau ketika doa kita terasa tidak dijawab-jawab oleh Tuhan?


Bukan hanya kita taat atau mungkin menunggu waktunya Tuhan, tetapi adakah iman kita diwujudkan secara nyata di dalam melayani Dia?


Ketika mungkin kita masih belum mendapatkan pekerjaan, apakah kita masih tetap melayani Tuhan dengan ketulusan hati?


Atau ketika kita berada di dalam permasalahan keluarga yang begitu pelik dan belum kunjung selesai, adakah kita tetap mau memberikan yang terbaik bagi Tuhan?


Atau ketika kita mengalami masalah yang bertubi-tubi dan sudah bertahun-tahun menanggung beban tertentu yang masih belum terangkat juga dari hidup kita, adakah kita tetap menghormati Tuhan?


Melayani Tuhan tentu bukan hanya terbatas pada saat kita melayani di gereja, saat kita menolong orang yang membutuhkan, atau menceritakan tentang kebaikan Yesus kepada orang lain.


Pada dasarnya, segala sesuatu yang kita lakukan bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang lain.


Di situlah artinya kita melayani Tuhan. Tetapi maukah kita tetap melayani Tuhan di kala keadaan terasa gelap dan tidak ada harapan?


Melalui kisah Yusuf, kita belajar bahwa kesetiaan kepada Yesus bukan diukur dari berkat atau jawaban yang bisa kita dapatkan dari Yesus, tetapi dari ketulusan hati kita sebagai murid yang sungguh-sungguh percaya dan menghormati Tuhan kita.


Doakan dan renungkan


* Yusuf pun mengambil mayat Yesus, mengapaninya lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru.


* Secara logika, Yusuf tidak bisa mengharapkan imbalan apa-apa dari Yesus. Tetapi Yusuf tetap memberikan yang terbaik bagi Yesus.


Bukan karena imbalan