Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Rabu, 10 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 27:32-44

Yesus disalibkan


Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan hebat terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa supaya kita tidak menjadi lemah dan putus asa.


Yesus menderita begitu hebat pada saat memikul salib bagi kita. Namun, apakah kita paham seberapa besar yang Yesus tanggung?


Pernahkah membayangkan seberapa lama dan kuat Yesus menahan ejekan dan hujatan demi kita?


Mari kita melihat hal yang Yesus hadapi, yang Ia lakukan dengan rela untuk menggantikan posisi kita.


Matius 27:32-44


32 Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.


33 Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.


34 Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.


35 Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.


36 Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia.


37 Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi."


38 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.


39 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala,


40 mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!"


41 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata:


42 "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.


43 Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah."


44 Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.


Bagi kita yang sudah tidak hidup di zaman pemerintahan Romawi, kita tidak akan pernah benar-benar memahami seberapa berat penderitaan yang Yesus alami waktu itu.


Matius menuliskan dengan detail hal yang dialami Yesus saat itu. Yesus disalibkan di area luar kota, yang menurut beberapa penafsir, Ia disalibkan persis di pinggir jalan yang dilalui banyak orang.


Menurut beberapa dugaan, Yesus sudah sangat kelelahan karena pada malam sebelumnya, Ia tidak tidur.


Ia diadili, disiksa, dicambuk, dan memikul salib-Nya sendiri di dalam luka yang terbuka.


Oleh karena Yesus begitu kelelahan, Ia berjalan lebih pelan sehingga para tentara Romawi memaksa Simon dari Kirene untuk memikul salib Yesus.


Pada ayat 34, dituliskan ada yang memberi minum Yesus anggur yang bercampur dengan empedu.


Dalam bahasa Inggris, kata “empedu” diterjemahkan sebagai gall atau myrrh. Dalam Markus 15:33, tertulis bahwa anggur itu dicampur dengan mur. Ini semacam zat pahit, narkotika, atau morfin; yang akan membantu mengurangi rasa sakit.


Dalam budaya Romawi saat itu, minuman ini biasa diberikan kepada terpidana mati supaya dapat menjadi obat bius ringan.


Yesus memilih untuk tidak meminumnya setelah Ia mengecapnya. Hal ini karena Ia memilih cawan dari Allah dengan kesadaran penuh.


Setelah Yesus disalibkan, ayat 36 menuliskan bahwa seluruh tentara Romawi duduk di sana untuk menjaga Yesus, memastikan bahwa Ia benar-benar mati dan tidak ada yang menolong-Nya.


Pada ayat 39-44, semua orang dari segala kalangan menghina Yesus. Mereka mengolok-olok Yesus karena Ia dianggap menghujat Allah.


Kata “menghujat” yang dituliskan sebenarnya menjelaskan bahwa merekalah yang sedang menghujat Allah.


Dalam Yohanes 19:20, kata-kata “Raja Orang Yahudi”; dituliskan di dalam bahasa Ibrani, Latin dan Yunani.


Ini menunjukkan bahwa bertepatan dengan hari raya, ada banyak orang Yahudi yang lewat dari berbagai daerah untuk masuk ke Yerusalem.


Mereka semua melihat Yesus tersalib. Ironisnya, mereka yang mengorbankan domba bagi Allah dalam perayaan Paskah, malah melewatkan dan menghina Anak Domba yang sesungguhnya, yang telah disembelih di depan mereka.


Ada juga orang Yahudi menghina Yesus terkait kemampuan merubuhkan dan membangun kembali bait suci dalam tiga hari, tetapi tidak dapat melepaskan diri sendiri dari kematian.


Bagi orang Yahudi, kelemahan Yesus saat disalib memperlihatkan bahwa klaim Yesus bersifat palsu. Ada juga kelompok Sanhedrin yang terdiri dari imam kepala, ahli-ahli Taurat, para tua-tua.


Mereka mengejek Yesus mengatakan bahwa orang-orang lain dapat diselamatkan, disembuhkan, dan dibangkitkan; tetapi Ia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri.


Menurut mereka, Yesus adalah seorang pembuat mujizat tetapi tidak dapat membuat diri-Nya terus hidup sehingga tidak layak dipercaya.


Mereka menantang Yesus jika Ia dapat melepaskan diri dari salib, baru mereka dapat percaya.


Maka, secara tersirat, mereka ingin mengatakan bahwa mereka tidak percaya karena salah Yesus sendiri.


Ada dua pemberontak yang disalibkan bersama dengan Yesus. Demikian juga, mereka mencela Yesus.


Meskipun di kitab Injil lain ada tertulis bahwa salah satu pemberontak itu meminta pengampunan dari Yesus.


Matius tetap menuliskan demikian karena ingin menekankan bahwa Yesus benar-benar ditinggalkan sendirian.


Semua orang dari orang Yahudi, tentara Romawi, para pemimpin agama Yahudi, para pemberontak; menghina Yesus.


Bahkan, para murid juga tidak tercatat ada di sana untuk menolong Yesus. Namun, Yesus yang ditinggalkan semua orang, tetap menanggung ini semua supaya kita tidak ditinggalkan oleh Yesus.


Orang Yahudi dan para pemimpin agama Yahudi gagal untuk mengenal Yesus sebagai Mesias yang tertulis di dalam Perjanjian Lama. Mereka memilih untuk percaya kepada pemahaman sendiri.


Mungkin mudah bagi kita untuk menghafal ayat-ayat Alkitab dengan sempurna, tetapi saat pergumulan begitu berat, kita suka menjadi apatis dan tidak percaya akan hal yang Yesus katakan.


Ketidakpercayaan kita kepada Yesus membuat kita sama seperti orang-orang yang mengolok-olok Yesus pada saat itu. Kita merasa perlu tanda mujizat yang langsung nyata terjadi, baru kita percaya.


Biarlah melalui penderitaan Yesus ini, iman kita kembali diteguhkan. Yesus tidak seharusnya menanggung semua itu, Ia tanggung demi menggenapi perbuatan karena kasih-Nya kepada kita.


Jika kita berada di dalam pergumulan yang begitu berat dan belum dijawab oleh Tuhan, ingatlah bahwa pergumulan terberat manusia, yaitu maut, telah ditanggung oleh-Nya.


Mari kita belajar percaya kepada Tuhan meskipun kita tidak bisa melihat jawaban-Nya pada saat ini juga.


Doakan dan renungkan


* Orang Yahudi dan para pemimpin agama Yahudi gagal untuk mengenal Yesus sebagai Mesias.


* Peristiwa ironis saat Yesus disalib: mereka mengorbankan domba bagi Allah tapi di saat yang sama, mereka menghina, menyiksa dan menyalibkan Anak Domba yang sesungguhnya.


Gagal Mengenal Mesias