Login

Daftar

All Episode

Audio Stream

Podcast
Lagu Indonesia
Podcast
Lagu Mandarin

00 : 00 : 00

Back

TAG Renungan Harian GKY Mangga Besar - Senin, 08 Juni 2026

Tuhan Adalah Gembalaku

Matius 27:11-26

Yesus di hadapan Pilatus


Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.


Pernahkah kita merasa seperti terbawa arus dunia ini? Saat hati nurani ingin bertahan tetapi karena terlalu derasnya arus dunia, kita pun perlahan terbawa arus itu.


Hal itu mungkin karena ada tekanan dari luar untuk mengikuti arus itu atau godaan-godaan yang membuat kita mencari jalan pintas.


Kita mungkin menyebut itu sebagai strategi atau diplomasi, tetapi dalam hati kita sesungguhnya tahu bahwa itu adalah kompromi.


Tidak jarang kita terjebak dalam dilema, apakah kita akan menyenangkan manusia atau menjadi orang yang setia pada kebenaran.


Matius 27:11-26


11 Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya."


12 Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun.


13 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"


14 Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran.


15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.


16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.


17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"


18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.


19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam."


20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.


21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas."


22 Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!"


23 Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!"


24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"


25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"


26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.


Kisah penyaliban Yesus memang sudah dinubuatkan Allah Bapa jauh sebelum kejadian ini dan itulah yang Ia kehendaki terjadi.


Namun melalui kisah ini kita melihat seorang gubernur yang mengutamakan manuver politiknya daripada hidup berintegritas.


Setelah Yesus diserahkan oleh Imam Besar Kayafas kepada Pontius Pilatus, Pilatus bertanya kepada-Nya: "Apakah Engkau raja orang Yahudi?" dan Yesus menjawab, "Engkau sendiri mengatakannya."


Hanya kalimat ini yang Yesus sampaikan di hadapan Pontius Pilatus.


Banyak tuduhan yang dilontarkan imam-imam kepala, namun Tuhan tidak menjawab satu pun sehingga membuat Pilatus sangat heran.


Karena Pilatus tidak dapat menemukan kesalahan pada diri Yesus, maka ia terpikir sebuah manuver politik yang cerdik untuk membebaskan dirinya dari kasus ini.


Sebagai gubernur pada masa itu, ia memiliki hak untuk membebaskan satu orang tahanan setiap hari raya atas pilihan orang banyak.


Maka ia pun bertanya pada orang banyak, “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu? Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”


Pada Matius 27:18, Matius sengaja mencatat bahwa Pilatus sudah mengetahui bahwa orang-orang ini menyerahkan Yesus karena iri hati.


Pilatus tahu bahwa Imam Besar dan Sanhedrin tidak mendakwa Yesus karena mereka peduli dengan potensi ancaman terhadap kekuasaan Romawi.


Sebaliknya, mereka iri pada Yesus dan popularitas-Nya di antara orang-orang sehingga mereka ingin menyingkirkan Yesus.


Walau kita tidak bisa benar-benar mengetahui isi kepala Pilatus pada saat itu, beberapa ahli meyakini bahwa tadinya Pilatus berharap orang-orang akan lebih memilih untuk membebaskan Yesus daripada Barabas, karena ia adalah pembunuh dan perampok.


Alkitab mencatat bahwa imam-imam kepala dan para tua-tua menghasut orang banyak untuk membebaskan Barabas dan menghukum mati Yesus.


Sehingga, ketika Pilatus sekali lagi bertanya, “Siapa yang hendak kubebaskan bagimu?” Orang banyak menjawab, “Barabas.”


Pilatus pun bertanya kepada orang banyak, “Apa yang harus diperbuat terhadap Yesus?” dan orang banyak menjawab, “Ia harus disalibkan.”


Pada bagian ini pula, kata “disalibkan” pertama kali muncul dalam kitab Injil. Pilatus tidak bisa menemukan alasan untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Yesus.


Namun, karena teriakan dari orang banyak untuk menyalibkan Yesus dan ketakutannya atas keributan yang akan terjadi pada hari raya jika ia tidak memenuhi keinginan mereka, Pilatus memilih untuk mencuci tangan dan melepaskan kesalahannya dari kematian Yesus.


Ia melepaskan Barabas dan menyerahkan Yesus untuk dicambuk dan disalibkan.


Pada waktu itu, mungkin Pilatus berpikir bahwa itu hanyalah salah satu hari dan kasus yang sederhana, di mana ia harus mengadili seseorang.


Namun karena ia tidak menemukan kesalahan dalam diri Yesus, maka ia melepaskan diri dari tanggung jawabnya dengan mencuci tangan dan menganggap bahwa urusannya sudah selesai.


Akan tetapi Pilatus tidak pernah benar-benar mengetahui bahwa dampak dari apa yang ia lakukan sangatlah besar, bahkan hingga hari ini.


Paul Maier pernah mengatakan Pilatus tidak mungkin mengetahuinya, ia akan sangat terkejut jika mengetahuinya.


Sebagai mantan pejabat Romawi, yang tampaknya tidak penting, namanya akan menjadi yang paling dikenal dalam seluruh sejarah Romawi.


Orang di masa mendatang hanya sedikit yang mengetahui tentang Kaisar Agustus, atau bahkan Nero.


Sedangkan nama Pilatus selalu disebut dalam pengakuan iman, “Aku percaya Yesus Kristus yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus.”


Sebagai pemegang jabatan tertinggi, Pilatus telah diberikan kuasa oleh Allah untuk membedakan mana yang benar dan salah.


Sehingga saat mengadili, ia bisa bertindak sesuai dengan keadilan yang Allah taruh dalam hatinya. Begitu pula dengan semua pemimpin di dunia ini yang Allah percayakan.


Walaupun Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah, ia lebih memilih untuk menyenangkan hati banyak orang.


Dari kisah Pilatus kita bisa belajar bahwa: Setiap keputusan yang kita ambil membutuhkan pertanggungjawaban terhadap panggilan Tuhan dalam hidup kita.


Terlepas dari kita tahu atau tidak dampaknya di kemudian hari.


Bagi kita yang memiliki kuasa atau posisi atau bahkan yang tidak memiliki jabatan apa pun, tanggung jawab yang diberikan kepada kita itu memiliki konsekuensi yang tidak terhitung.


Itulah ujian karakter kita. Apakah kita adalah orang yang berintegritas atau tidak?


Mari kita ingat bahwa dalam apa pun yang kita hadapi, setiap keputusan yang akan kita ambil atau langkah yang akan kita jalani, kita bertanggung jawab untuk tetap hidup berintegritas di hadapan Allah.


Doakan dan renungkan


* Pilatus tidak menemukan alasan untuk menyalibkan Yesus. Namun, karena teriakan orang banyak, Ia memilih untuk cuci tangan atas kematian Yesus.


* Ia tidak tahu dampak dari keputusan tersebut, setiap hari Minggu namanya disebut dalam pengakuan iman, “…yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,…”


Sadari akibatnya